AYH'S CORNER 

BERTAHAN HIDUP DI TENGAH PANDEMI

Terimbas pandemi Covid 19 kegiatan rutin tahunan Litera terhenti sejak 2019. Virus corona mematikan banyak potensi ekonomi bangsa. Di Pamulang, Tangerang Selatan, tempat LITERA bermarkas, kebangkrutan ekonomi itu tampak jelas. Di Pamulang Squara, misalnya, swalayan Giant tutup dan ratusan karyawannya tak tahu pada ke mana. Di seberang Pamulang Square, swalayan Carrefour sudah lama kembang-kempis dan tutup pada masa Covid-19.

Di atas baru pelaku ekonomi yang besar. Yang sedang dan yang kecil (UMKM) tak terhitung yang tutup atau sekarat. Di Pamulang Square, Solaria, yang menempati lantai 2 juga tutup dan pindah ke lantai 1. Tutupnya dua usaha besar itu membuat lantai 2 jadi sepi, karena areal Giant dan Solaria jadi kosong. Lapak-lapak UMKM kalau tidak tutup ya pindah ke lantai 1, menempati usaha lain yang tutup. Tinggal MM Juice dan beberapa usaha kecil yang bertahan di lantai 2. Sedang di lantai 3 masih untung ada D’Cost yang mengisi kekosong.

Pindahnya beberapa usaha ke lantai 1 bukan berarti menjadikan lanti dasar ini menjadi ramai. Di lantai ini memang ada usaha-usaha bermodal kuat, seperti KFC, AW, dan Solaria, yang masih lumayan ramai. Tapi, pulahan lapak HP, pakaian, jam, mebel, akik, dan makanan, tampak sepi-sepi saja. Banyak di antaranya yang sudah tutup. Sabtu, 11 September 2021, saya sempat berkunjung ke sana, nyaris tak ada pengunjung. Padahal, PPKM di Tangerang Selatan, sejak 25 Agustus 2021, sudah turun ke level 3.

Itu baru gambaran di satu pusat ekonomi masyarakat. Di luar Pamulang Square, juga di kota dan daerah lain, situasi kegiatan ekonomi masyarakat masyarakat sama saja. Kesenjangan antara kaya dan miskin makin terasa. Di antara yang kaya banyak yang jatuh miskin. Kaum mapan banyak yang oleng. Jalanan  kota kecil dan kota besar memang cukup ramai kendaraan roda 4 dan motor, berlalu lalang. Tetapi, tempat-tempat usaha, kafe dan warung makan, banyak yang tutup. Sebagian yang buka lebih banyak melayani penjualan on-line, lewat Go Food atau Grab Food.

Pemandangan di luar malah cenderung menyedihkan. Di depan ruko tempat BCA, BNI, dan BRI berkantor, pernah ada bapak-bapak yang menjual perlatan dapur di lantai teras ruko dengan tulisan: DIJUAL UNTUK BERTAHAN HIDUP DI MASA SULIT. Dalam satu deret denga bapak-bapak itu, ada beberapa orang yang berjualan tas dan sabuk, ketimpring, jadah goreng, peyek, dengan menggelar dagangan di lantai atau di ember. Sementara di komplek Ruko Pamulang Permai makin banyak pengamen. Bahkan dalam satu hari (sore hari) bisa ada empat atau lima pengamen ondel-ondel hilir mudik, saling berpapasan, meminta sedekah. Belum lagi pengamen yang melumuri tubuhnya dengan cat crom, boneka yang bernyanyi, serta musik dangdut.

Masih banyak pemandangan lain, di tempat-tempat lain, yang tak kalah mengharukan. Di depan Gerbang Gria Jakarta, misalnya, seorang bapak tua berjualan ikan cupang dengan menggantungkan ikan dalam plastik di stang sepeda tua. Karena, hanya itu modal yang ia punya untuk bertahan. Tak jauh darinya, seorang ibu tua berjualan jamu tradisional di atas sepeda. Dan, di jalur masuk, sederet pengusaha gurem berjualan bermacam-macam makanan dengan hanya bermodal sepeda atau motor. Semuanya berusaha bertahan di masa Pandemi Covid-19.

Sangat sedih mengisahkan derita rakyat di tengah masa sulit yang imbasnya sangat luas. Berbarengan dengan itu, puisi dan cerpen terus ditulis dan dipublikasikan, termasuk di LITERA (www.litera.co.id). Sayangnya, LITERA juga hanya bisa bertahan di tengah pendemi dan harus menghentikan sementara tradisi penghargaan sastra tahunannya. Bagaimanapun, penghargaan itu tak bisa diberikan tanpa adanya sponsor. Litera berhenti “menyantuni” penyair dan cerpenis yang unggul dalam berkarya dan mempublikasikannya secara digital. Kita berdoa semoga pandemi Covid 19 segera berakhir, dan kita bisa kembali tersenyum menikmati penghargaan sastra yang tertunda karena corona. * ayh

 

 

——————————————————————-

 

 

Kegiatan LITERA Yayasan Kreativa Indonesia Sejak Didirikan

 

  1. Launching Portal Sastra Litera (litera.co.id) dan Majalah Sastra Sembahyang Rumputan (www.sembahyangrumputan.com) ditandai dengan potong tumpeng dan talkshow budaya di ruang pertemua Resto Anggrek, Serpong, 7 April 2016.

 2. Temu Sastra 8 Kota dan Peresmian Griya Litera di Griya Litera, Lembaga Literasi Indonesia, Jl. Alamanda Mas II No. 11, Bambu Apus, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, pada 18 Juni 2016.

 3. Bincang Sastra dan Peluncuran Tiga Buku Antologi Puisi: Perempuan Bulan Ranjang karya Iman Sembada, Tabot Aku Bengkulu  karya Willy Ana, dan Oro-Oro Ombo karya Heryus Saputro Samhudi, di Kafe Roti Bakar 88, Pamulang, pada 29 Januari 2017.

 4. Penerbitan buku kumpulan puisi oleh Pustaka Littera: Dari Negeri Daun Gugur (cetakan ketiga, Juni 2016) dan Ketika Rumputan Bertemu Tuhan (cetakan ketiga, Februari 2017). Buku Ketika Rumputan Bertemu Tuhan berhasil meraih predikat Lima Besar Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016.

  1. Pembuatan dan penayangan portal sastra Litera (litera.co.id) dan majalah sastra dalam jaring (daring) Sembahyang Rumputan (www.sembahyangrumputan.com).

 6. Bincang Sastra “Mengembalikan Sastra ke Kekuatan Teks” bersama Sihar Ramses Simatupang, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Mustafa Ismail, di Kafe Roti Bakar 88 Pamulang, pada 25 Maret 2017.

  1. Pemberian Anugerah Sastra Litera 2017.

Puncak acara dilaksanakan di Resto Kampung Anggrek pada 28 April 2017. Penghargaan utama diraih oleh Dedy Tri Riyadi (puisi terbaik) dan Kristiawan Balasa (cerpen terbaik). Selain itu, dewan juri (Ahmadun YH, Mustafa Ismail, dan Mahrus Prihany) juga memilih empat penulis puisi terpuji dan empat penulis cerpen terpuji. Karya-karya mereka, bersama karya 23 nomine, dibukukan dengan judul Seutas Tali Segelas Anggur. Acara dimeriahkan baca puisi Sutardji Calzoum Bachri, Slamet Widodo, Asrizal Nur, dan FikarWEda serta baca cerpen dan puisi para penerima anugerah. Selain itu juda diisi sarasehan sastra tentang migrasi sastra ke dunia maya dengan pembicara Rida K. Liamsi, Maman S. Mahayana, dan Hasan Aspahani, dengan moderator Handoko F. Zainsam. Buku kumpulan karya para pemenang dan nomine juga diluncurkan dan dibagikan kepada semua hadirin. Ada juga pemotongan tumpeng ulang tahun oleh direktur Lembaga Literasi Indonesia Ahmadun Yosi Herfanda.

8. Penerbitan buku antologi puisi dan cerpen karya para pemenang utama, pememang unggulan, dan nomine Penghargaan Sastra Litera 2017 dengan judul Seutas Tali Segelas Anggur. Buku ini dibagikan secara gratis kepada para pemeng dan nomine Penghargaan Sastra Litera 2017, para sponsor dan donator, para hadirin, dan sejumlah lembaga yang memerlukan.

  1. Tadarus Sastra Litera dan Kajian Puisi Sufistik Bersama Danarto pada 17 Juni 2017 di Roti Bakar 88 Pamulang. Berita ditayangkan di Republika.Online 24 Juni 2017. Ini merupakan penampilan Danarto terakhir sebelum meninggal, karena kecelakaan.
  2. Peluncuran dan diskusi buku kumpulan puisi Sajak-sajak Sunyi karya Budhi Setyawan di Kafe Roti Bakar 88 Pamulang, dengan pembahas Sofyan Rh. Zaid dan Mahrus Prihany. Diwarnai musikalisasi dan baca puisi.
  3. Diskusi “Sastra, Seni Rupa, dan Ilmu Komunikasi”, di Kafe Roti Bakar 88 Pamulang, pada 19 Januari 2018, dengan pembicara Cut Naila Muna dan Ahmadun YH serta moderator Febriansyah. Kegiatan ini atas kerja sama antara portal sastra litera.co.id dan kelompok diskusi Mikom UMJ 2017. Kebetulan mereka memiliki kegiatan diskusi dengan nama NGOPI (Ngobrol Pekanan Ilmu Komunikasi).
  4. Penghargaan Sastra Litera 2018. Untuk kategori cerpen terbaik diraih oleh Armin Bell (Flores) dan untuk puisi terbaik diraih oleh Willy Ana (Bengkulu). Armin memang atas cerpennya berjudul Monolog di Penjara dan Willy Ana menang atas puisinya berjudul Petuah Kampung. Penghargaan untuk mereka telah diserahkan pada Malam Anugerah Sastera Litera 2018 di Resto Kampung Anggrek, Jalan Raya Victor, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel),  Banten, Jumat, 27 Juli 2018. Acara diwarnai diskusi sastra dengan topik “Sastra Politik, Politik Sastra” dengan pembicara Rida K. Liamsi, Sihar Ramses Simatupang, dan Chavcay Syaifullah, serta pembacaan dan musikalisasi puisi. Juga ditandai dengan peluncuran buku kumpulan puisi dan cerpen karyapara nomine Penghargaan Sastra Litera 2018 berjudul Monolog di Penjara. Buku ini dibagikan secara gratis kepada hadirin.
  5. Penerbitan buku kumpulan puisi dan cerpen karya para nomine Anugerah Sastra Litera 2018 dengan judul Monolog di Penjara. Judul ini diambil dari judul cerpen Armin Bell selaku pemenang utama anugerah sastra Litera kategori cerpen.
  6. Refleksi Sastra Akhir Tahun 2018. Diadakan di ruang pertemuan Kafe Roti Bakar 88, Pamulang, pada 31 Januari 2018. Diisi orasi sastra Ahmadun YH, dan baca puisi serta berbagi pengalaman bersastra oleh Uki Bayu Sejati, Mustafa Ismail, Teguh Wijaya, Pilo Poly, Willy Ana, Mahrus Prihany, dan Iman Sembada.
  7. Anugerah Sastra Litera 2019. Pada 17 November 2019 di Restoran Anggrek, Tangerang Selatan, berkumpul sejumlah penulis, penyair, sastrawan dan budayawan se-Jabodetabek untuk menghadiri undangan Anugerah Sastra Litera 2019 yang diadakan oleh portal litera.co.id yang dekelola Yayasan Kreativa Indonesia. Di antara yang hadir Uki Bayu Sejati, Atik Bintoro, Nana Sastrawan, Human S Chudori, Encep Abdullah, dan Hasan Aspahan. Dimeriahkan oleh diskusi yang membahas topik Pasca Sastra Koran dengan pembicara Putu Fajar Arcana (redaktur budaya Kompas) dan Iwan Kurniawan (redaktur budaya Tempo). Dewan juri yang terdiri dari Mustafa Ismail, Iwan Kurniawan, dan Ahmadun Yosi Herfanda memilih pemenang kategori puisi “Bukit Kapur” karya Deni Puja Pranata, dan kategori cerpen “Reruntuhan Ketujuh” karya Afryantho Keyn. Karya pemenang dan nomine diterbitkan dalam buku antologi cerpen dan puisi berjudul Reruntuhan di Bukit Kapur.

Pada 2019 adalah pemberian Anugerah Sastra Litera yang ketiga kalinya. Anugerah Sastra Litera pertama kali diadakan pada tahun 2017 dengan diluncurkan buku antologi puisi dan cerpen litera dengan judul ‘Seutas Tali Secawan Anggur’ dengan pemenang utama kategori puisi terbaik adalah Dedy Tri Riyadi dan kategori cerpen terbaik adalah Kristiawan Balasa. Kemudian, Anugerah Sastra Litera Kedua dilangsungkan pada tahun 2018 dengan diluncurkan buku antologi puisi dan cerpen berjudul ‘Monolog di Penjara’ dengan pemenang utama kategori puisi terbaik Willy Anna dan kategori cerpen terbaik Armin Bell. Tahun 2020 anugerah diistirahatkan karena covid19, dan tahun 2021 akan dipertimbangkan untuk diadakan kembali.

Related posts

Leave a Comment