Apresiasi ESAI 

Konsolasi Final dan Residu Divinitas L.K. Ara

Narudin, lahir di Subang, Jawa Barat. Lululus fakultas Sastra Inggris UPI (2006). Bekerja sebagai pengajar dan penerjemah. Tulisan berupa Puisi, Cerpen, Esai ataupun kritik sering dimuat di banyak media. Buku puisi tunggal Narudin, Api atau Cahaya (2016). Buku kritik sastranya berjudul Analisis Modern Buku Puisi dan Puisi (Sarbi, 2015). Buku kumpulan cerpennya berjudul Matahari Hitam Belinda (Garudhawaca, 2014). Buku-buku puisi terjemahannya Setubuh Puisi karya Al-Saddiq Al-Raddi (Penerbit Halindo, 2014), dan masih beberapa buku terjemahan lagi. Sering diundang sebagai pembicara. Nomor HP Narudin: 081-320-157-589. Email: narudinpituin@gmail.com. Facebook: Narudin Pituin.

 

Dear friend, your heart is a polished mirror. You must wipe it clean of the veil of dust that has gathered upon it, because it is destined to reflect the light of divine secrets.

—Imam Al-Ghazali

 

L.K. Ara, nama pendek dari Lesik Kati Ara—penyair yang lahir pada 12 November 1937, hampir 78 tahun silam—ialah penyair yang telah mengunyah puisi selama puluhan tahun. Karena telah begitu banyak mengunyah puisi, ia diduga telah banyak “mencicipi” aneka (proses kreatif dalam menggubah) puisi. Kata kerja (verba) “mencicipi” perlu diteliti secara saksama dan “penuh curiga” perihal puisi-puisi terbaiknya yang terhimpun dalam buku Kau Pergi (2015) ini. Perjalanan yang panjang itu tentu telah melewati ruang-ruang geografis (kasatmata, seen) dan ruang-ruang psikis (cenderung tak kasatmata, unseen). Tendensi yang “unseen” inilah yang barangkali luput dikupas kulitnya begitu rupa hingga daging dan bijinya pun turut terkelupas—tentu setelah sebelumnya dagingnya itu disantap secara rohaniah. Agak tak mudah menguraikan puisi-puisi L.K. Ara yang (berkehendak) sufistik, yang (berkemauan) spiritual, dan yang (bergairah) Ilahiah. Perbedaan istilah “sufistik, spiritual, dan Ilahiah” pun mestilah didekati secara saksama dan dalam tempo yang damai. Dalam beberapa puisi, kecondongan terhadap rekreasi batin yang ter-realisasikan itu dapat diduga sebagai bentuk perjalanan “dari dunia luar ke dunia dalam”—yang lahir ke yang batin. Betapa ia gandrung menyebut “Laut Marmara”, “Istambul”, “Pulau Simeulue”, dan “Darul Isky” yang terikat secara historio-spiritual atau setidak-tidaknya secara historio-personal dirinya sebagai umumnya kondisi jiwani sang penyair? Perkara itu tampaknya hanyalah struktur permukaan (surface structure) habitat logos, yang sebenarnyalah mengundang kita menyelami alam pemikiran struktur dalamnya (deep structure).

Sehubungan dengan perihal demikian, kiranya kita dapat menelusuri apakah perjalanan yang lama itu “meletihkan” atau sekadar “tubuh renta yang diembus angin lalu” yang boleh jadi tubuh itu turut bergoyang seperti pucuk pohon pinus, lenggak-lenggok secara mesra, atau pun bisa jadi seperti tiang listrik, yang kokoh, bergeming dalam sunyi yang nyaring? Setidaknya, beberapa puisi di bawah ini dapat mewakili perilaku puitik L.K. Ara, yang tentu saja, tidak secara gegabah, dilihat secara sinkronik, melainkan secara diakronik agar L.K. Ara tak jatuh ke dalam kubangan anakronisme—yakni menyangkut elemen-elemen konsolasi final dan residu divinitas.

 

 

Konsolasi Final

“Konsolasi” (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2015) ialah jenis nomina untuk penghiburan, sedangkan “final” (KBBI, 2015) ialah n 1 tahap (babak) terakhir dari rangkaian pemeriksaan (pekerjaan, pertandingan); 2 tahap penyelesaian. Untuk kata “final” kita ambil makna yang ke-1: “babak akhir dari rangkaian pemeriksaan pertandingan”. Bagaimana dapat disebut pertandingan? Bukankah hidup ini sesungguhnya merupakan suatu pertandingan? Atau semacam perlombaan, ada yang kalah ada yang menang? Ada yang rugi ada yang untung? Ketika dikatakan secara tegas ada yang kalah dan ada yang rugi, maka secara tak langsung akan terjadi sebentuk “kesedihan”. Kesedihan yang tak mudah kita maklumi, kecuali lewat beberapa puisi berikut ini, yang dalam kesempatan yang baik ini, kiranya dapat merepresentasikan kecondongan demikian.

 

KAU PERGI

Kau pergi melewati rumahku
Lalu terbang ke negeri jauh
Ke seberang pulau
Aku sendiri menunggu kabar
Tentang kepergianmu

Hanya cahaya berkilau
Masuk lewat pintu

Pangkal Pinang, 29 Desember 2003

 

Kata “pergi” pada judul mengimplisitkan keadaan boleh jadi “mati” atau “menjauh” atau “hilang dari pandangan”. Baris ke-1 hingga baris ke-5 termasuk citra intens (intense image, Wells, 1961) yang lebih tinggi kualitasnya daripada citra dekoratif (decorative image) yang hanya menampilkan gambaran penglihatan luar belaka. Sementara baris ke-6 hingga baris ke-7 merupakan citra ekspansif (expansive image)—di sini telah terjadi lompatan lambang dari citra dekoratif ke citra ekspansif yang semestinya didahului oleh citra tenggelam (sunken image). Citra ekspansif mendorong kita untuk menguak lebar-lebar tirai imajinasi (Wellek & Warren, 2013: 241). Perhatikan kata “cahaya” di situ pun mendapat kedudukan lapis makna tersendiri dalam kajian Semiotika (significance)—yakni telah meraih “pelafalan semantik bertingkat”. Dan tentu saja, “cahaya” pada baris ke-6 itu sebentuk konsolasi.

Kita simak puisi berikut ini, kalau demikian:

 

Cahaya merebak ke laut
dan laut malu tapi bahagia
dan kau tentu tahu aku di mana
memang tak nampak
karena wajahku tertutup ombak
tapi suara desir itu
adalah nyanyian pedihku

 

Depok, 15 Agustus 2015

 

Puisi di atas tanpa judul. Judul tak dibutuhkan lagi ketika perasaan telah demikian pekat. Bukankah kegelapan (kepekatan) tak diperlukan ketika matahari dini hari hendak terbit? Bukankah cahaya dan kegelapan takkan berada dalam satu wadah? Salah satu harus—mau tak mau—pasrah pada nasib untuk diusir?

Untuk puisi di atas, baris ke-1 hingga baris ke-2, dapat disebut citra dekoratif. Baris ke-3 sampai baris ke-5 boleh disebut citra intens. Dan baris ke-6 hingga baris ke-7 bisa saja disebut citra tenggelam. Si aku-lirik di sini mengotot bahwa desir ombak laut itu adalah nyanyian pedihnya. Bukan lagi secara alamiah milik si laut yang penuh gelombang liar itu, namun milik “aku”, yang dapat dikembalikan kepada si aku-lirik atau (bahkan) si penyair. Tambahan pula, dalam teori Sosiologi Modern, Symbolic Interactionism (Barnard, 2004), larik ke-6 sampai larik ke-7 itu merupakan bentuk “komunikasi sunyi” di antara tiga makhluk Tuhan. Cermati trikotomi ini: “kau—ombak laut—aku”. Meskipun begitu, dalam komunikasi, ketika pesan (message) sampai kepada si penerima (receiver) dari si pengirim (sender), menurut hemat Roman Jakobson tatkala membahas fungsi komunikasi (communication functions) harus memperhatikan deiksis (deixis)[1] atau point of reference-nya dalam Linguistik Kontemporer. Bagaimana pun tak perlu mengurai puisi di atas dengan mencari makna “kau”, baik “kau” itu sebagai anafora (anaphora) maupun sebagai katafora (cataphora) sebab acuannya berwatak “titik pandang khusus” (vantage point) (Halliday, 2002)[2].

Demi menyederhanakan dua puisi di atas, sekurang-kurangnya, puisi berikut dapat membantu kita bersama.

 

TELAH PERGI

 

walau telah pergi
kasihnya tetap tinggal
bersamamu, di dekatmu
yang bercinta tak terpisahkan
yang telah menyatu tak terbelahkan
seperti kata kasih
amatlah jernih
titipan orang saleh

tubuh yang satu
pergi lebih dahulu
disusul dengan tubuhmu
suatu saat akan bertemu
di alam baru.

 

Bna, 6 Februari 2013

 

Kecemasan kehilangan fisik bersifat kekanak-kanakan (too childish) menurut sementara pakar Sufisme lantaran yang metafisik masih bersemayam di jiwa tak bercangkang, di ruh tak berdinding. Bukankah ketika seorang “kekasih” telah pergi, “kasih”-nya (semogalah) tak pergi? Bahkan “tak terbelahkan”, “amat jernih”, plus “titipan orang saleh”—mendengar frasa “titipan orang saleh” kita teringat pada konsolasi. Tapi, di manakah gerangan letak konsolasi finalnya? Bacalah bait berikut ini:

 

tubuh yang satu
pergi lebih dahulu
disusul dengan tubuhmu
suatu saat akan bertemu
di alam baru.

 

Wahai, Kekasihku, damailah, tenanglah kau di sana, aku di sini! Karena suatu saat, Kekasihku, kita akan bertemu di alam baru. Alam yang menurut Hasan Bashri (2014) “alam kedua setelah alam dunia [kena] rusak ini.”

Residu Divinitas

“Residu” menurut hemat KBBI (2015) ialah n ampas; endapan (tentang minyak tanah, gula, dsb.). Sedangkan kata “divinitas” menurut KBBI (2015)—sayang sekali, belum tercantum kata dan artinya. “Divinitas” (divinity) ialah yang bersifat keilahiahan, yang berbobot ketuhanan. Meskipun begitu, frasa “residu divinitas” bukan ditafsirkan sebagai “ampas ketuhanan”! Akan tetapi, bermakna “endapan ketuhanan”. Nah, kiranya, dengan makna ke-2 inilah pokok pembicaraan kita dapat dilanjutkan seperlunya.

Mari kita simak puisi di bawah ini.

 

TANGAN LAYU KAKI LAYU

 

Tangan layu kaki layu
Mengajariku
Dengan bahasa layu
Untuk ingat kepada-Mu
Tak bisa lain
Untuk ingat kepada-Mu

Tangan layu kaki layu
Dulu menulis lembar-lembar buku
‘Ngembara dari waktu ke waktu
Kini layu

Tangan layu kaki layu
Mengajariku
Dengan bahasa layu
Untuk ingat kepada-Mu
Tak bisa lain
Untuk ingat kepada-Mu
Hanya kepada-Mu

 

Depok, 21 September 2012

 

Pengucapan bahasa puisi di atas tidak prismatik, cukup lugas. Para pembaca puisi di atas tak perlu mengernyitkan dahi sebagai tanda “otaknya lagi dipakai”. Kendatipun demikian jangan Anda asumsikan puisi di atas termasuk puisi picisan dengan bahasanya yang terasa komunikatif itu. Ada getaran tak kecil dalam puisi di atas, yakni, soal “batas umur, batas ketak-kekalan hidup kita sekalian di dunia ini”. Bahwa kelak kita akan “layu”, tak hanya tangan dan kaki semata, melainkan pula seluruh organ tubuh wadak (jasmani) kita layu—bunga-bunga telah memekarkan kelopaknya satu demi satu dengan tabah, setelah dibakar tangan matahari yang panas membara, lalu layu, lalu menunggu “pergi”! Pergi lagi, pergi lagi, yang sesungguhnyalah “sebuah kedatangan ke alam baru” tersebut di atas.

Di mana pun ada kata “pergi” atau “kembali” atau “kedatangan yang baru” pasti di situ ada bekal yang harus dibawa, yaitu:

 

Untuk ingat kepada-Mu
Tak bisa lain
Untuk ingat kepada-Mu
Hanya kepada-Mu

 

Ingat kepada-Mu seperti apa? Ini pertanyaan ontologis yang menggoda kita. Apakah dengan ingat kepada-Mu kita mendapat sesuatu yang luar biasa lalu berbuat yang luar biasa? Atau kebiasaan kita dalam hidup ini biasa-biasa saja sekadar menumpang hidup seraya menunggu layu dan dipetiklah kembang tak berguna ini? Ibnu Atha’illah Al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam (The Book of Wisdoms, 2013: 141) berpesan:

How can the laws of nature be ruptured for you so that miracles result, while you, for your part, have yet rupture your bad habits?

(Bagaimana mungkin kau mendapat hal luar biasa, sementara kebiasaanmu saja belum luar biasa?)

Berikutnya, dalam debar-debar jantung yang semakin menjadi-jadi, kita baca puisi yang akan terlihat ini.

 

AWAN TERTAHAN

 

di langit gumpalan awan tertahan
mendengar alunan
suara anak kecil membaca ayat-ayat Alquran
pohon-pohon seperti tertunduk
gunung-gunung membungkuk
lembah lembah hening
kolam dan sungai bening
menatap ke langit jauh

 

Redelung, 6 Agustus 2012

 

Nabi Daud a.s. bersuara merdu sekali sehingga diibaratkan daun-daun kering yang hendak jatuh ke atas bumi akan betah melayang-layang dulu di udara sebelum tuntas mendengarkan suara merdu yang dilantunkan oleh Nabi Daud a.s. Tapi, dalam konteks puisi ini, secara deiksis, hanya suara anak kecil? Mendengar alunan/ suara anak kecil membaca ayat-ayat Alquran sampai awan tertahan, pohon tunduk, gunung bungkuk, lembah hening, bahkan kolam dan sungai [tiba-tiba jadi] bening. Ya, benar itu! Tapi, siapakah yang [sedang] menatap ke langit jauh?

Apakah manusia tidak turut tertahan bagai gumpalan awan, tertunduk bagai ranting pohon, terbungkuk bagai puncak gunung, dan terbeningkan bagai kolam serta sungai saat mendengar alunan ayat-ayat Alquran? Sungguh, ini merupakan sindiran (majas ironi) L.K. Ara kepada kita semua, manusia [yang mengaku] dewasa tapi belum tergetarkan dengan ayat-ayat Alquran.

Menurut Seyyed Hossein Nasr (1933-sekarang), orang yang tak tergetarkan oleh Alquran, takkan pernah bisa menggetarkan dunia…

Kemudian, setelah tergetarkan oleh kitab suci Alquran, mau apa lagi? Kita simak puisi L.K. Ara berikut ini, di usianya yang ke-77 tahun—usia yang penuh kasih dan kerinduan:

 

POHON RINDU

 

pohon rindu
kusiram sirami pohon rindu
agar tak layu
kusiram sirami dengan air mata
agar hidup tak merana
kusiram sirami dengan baris syair
agar hilang segala yang jahil
kusiram sirami dengan sekuntum doa
agar mekar dan berbunga
kusirami sirami lima kali sehari
tanda rinduku pada-Mu

 

Padang Panjang, 24 Maret 2013

 

Baris-baris di bawah ini bersifat imanen, sebuah garis horizontal (mendatar).

 

pohon rindu
kusiram sirami pohon rindu
agar tak layu
kusiram sirami dengan air mata
agar hidup tak merana
kusiram sirami dengan baris syair
agar hilang segala yang jahil

 

Kini, kita teliti baris-baris berikut ini yang berwatak transenden, sebuah garis vertikal (tegak lurus ke langit!)

 

kusiram sirami dengan sekuntum doa
agar mekar dan berbunga
kusirami sirami lima kali sehari
tanda rinduku pada-Mu

Ternyata setelah mengimani bahwa tak ada keraguan terhadap Alquran sebagai petunjuk yang membuat tertunduk, sebagai seorang yang taat (bertakwa), yakni ia percaya kepada yang gaib (yang tak terlihat mata kepala), lalu ia sampailah kepada mendirikan salat wajib lima kali sehari, sebagai tanda rindu pada-Nya:

 

kusirami sirami lima kali sehari
tanda rinduku pada-Mu

Residu divinitas-nya ini sejalan dengan nasihat Imam Al-Ghazali bahwa agar kita menguasai ilmu syariat untuk melaksanakan perintah Allah (2014: 82), nasihat Ibnu Taimiyah bahwa tak seorang makhluk pun bisa sampai kepada Allah, rida, surga, karamah, dan kekuasaan-Nya, kecuali dengan mengikuti Rasulullah, secara lahir maupun batin (2014: 93), dan nasihat Abdul Qadir Jailani (2014: 49) bahwa:

“Teruslah mendengar nasihat. Karena bila hati jauh dari nasihat, akan menjadi buta.”

***

Subang, 21 Agustus 2015

 

catatan akhir

 

[1] Periksa Lyons, John (1977) “Deixis, space and time” in Semantics, Vol. 2, pp. 636–724. Cambridge University Press.

[2] Bacalah secara khidmat Halliday, 2002. “A Personal Perspective”. In On Grammar, Vol. 1 in The Collected Works, pp. 7, 14.

 

­­­­­­­­­DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Iskandari, Ibnu Athai’llah. 2013. Al-Hikam: The Book of Wisdoms. Jakarta: Turos.

Asy-Syami, Shalih Ahmad. 2014. Mawa’izh al-Imam al-Ghazali (terj. KAS. Rahman). Jakarta: Turos.

Asy-Syami, Shalih Ahmad. 2014. Mawa’izh al-Imam al-Hasan Bashri (terj. KAS. Rahman). Jakarta: Turos.

Asy-Syami, Shalih Ahmad. 2014. Mawa’izh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (terj. Fuad Ibn Rusyd). Jakarta: Turos.

Asy-Syami, Shalih Ahmad. 2014. Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (terj. KAS. Rahman). Jakarta: Turos.

Teeuw, A. 2013. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.

Wellek, Rene, & Austen Warren. 2013. Theory of Literature (terj. M. Budianta). Jakarta: Gramedia.

 

 

 


 

 

 

 

Related posts

Leave a Comment