PERCIKAN 

Dialog dengan Nurani

Mahrus Prihany: Divisi kaderisasi dan organisasi KSI Pusat.

 

Karya sastra baik berupa puisi, cerpen, novelet, novel, dan drama pada dasarnya adalah sebuah karya yang lahir dari suatu perenungan yang dalam. Siapa saja bisa menulis karya sastra. Imaginasi, pikiran, gagasan atau pembacaan seseorang atas teks dan realitas masyarakat adalah hanya berupa cara bagi seseorang melahirkan karya sastra.

Kita bisa saja menganggap karya sastra adala fiksi, tak nyata, hanya berupa imaginasi dari sang pengarang. Tak salah pendapat tersebut, karya sastra memang bukan karya ilmiah, meski karya sastra memang dapat dikaji dan dipelajari. Bahkan di sekolah ada mata pelajaran yang membahas karya sastra. Di universitas juga ada fakultas yang mengkhususkan diri membahas tentang sastra.

Sebagai karya imaginasi, seorang yang menulis puisi atau karya sastra lainnya, tak perlu harus bermain dengan data, riset, atau banyak referensi. Yang menjadi dasar penulisan adalah imaginasi anda sendiri. Pendapat ini mungkin akan banyak yang menyanggah, tapi penekanan pendapat ini adalah bukan terletak pada pembacaan karya sastra, tetapi tentang penulisan karya sastra.

Meski seseorang tak pernah belajar langsung secara mendalam tentang sastra, tapi bisa jadi ia mampu menulis karya sastra, khususnya karya dalam bentuk puisi dengan sangat baik. Imaginasinya yang tinggi mampu menjadi landasan baginya untuk menulis puisi. Kita bisa saja terkagum-kagum atas keindahan dan kedalaman makna puisi para penulis generasi muda sekarang yang mampu menulis dan menghasilkan banyak karya meski mungkin sebagian besar mereka bukan berasal dari fakultas sastra.

Bukan berarti juga imaginasi tinggi sesorang dalam menulis puisi abai terhadap unsur pembelajaran. Pembelajaran bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun dan dengan cara apapun. Mereka yang menghasilkan karya sastra agung juga belajar banyak hal meski tanpa duduk di bangku sekolah untuk khusus belajar sastra.

Imaginasi yang tinggi juga membutuhkan perenungan yang dalam. Seorang tak muncul tiba-tiba menulis karya sastra. Mereka juga perlu merenung dan menghayati secara mendalam terhadap apa yang mereka tulis. Mereka tentu tak sembarang menulis begitu saja untuk kemudian diterbitkan dan dibaca oleh banyak orang. Terkadang suatu karya butuh diendapkan dalam waktu yang cukup lama untuk kemudian dibaca dan dikaji ulang.

Hal lain yang mendukung seorang mampu menulis puisi adalah ketika mereka menggunakan nuraninya saat menulis. Hal ini mungkin seperti sepele, tapi sesungguhnya ini adalah suatu kekuatan yang mampu menjadikan suatu karya sastra begitu luar biasa. Dengan kata lain karya sastra yang ditulis dengan nurani akan memiliki daya evokatif yang luar biasa.

Kita bisa merasakan sendiri betapa kita bisa tersentuh saat membaca puisi dengan sungguh-sungguh, bahkan nurani kita mampu tergerak bangkit saat kita membaca dan menghayati akan makna puisi tersebut.

Tentu seorang yang menulis puisi secara sungguh-sungguh dengan menggunakan imaginasi dan nuraninya akan menjadi berbeda hasilnya. Ada satu hal yang akan merekatkan ikatan penulis dan pembaca, yaitu perasaan itu sendiri. Itu artinya, seorang penikmat atau pembaca puisi juga harus memiliki kepekaan yang tinggi saat membaca puisi. Sederhananya, mereka yang membaca puisi juga harus menggunakan nurani.

Hal yang terindah saat seorang menulis puisi adalah saat mereka juga sedang mengalami suatu peristiwa yang memiliki ikatan kuat dengan emosinya, istilah yang tepat untuk ini adalah “Poetic moment.” Puisi dengan jenis ini memiliki daya evokatif yang begitu kuat dan dalam..Seorang yang membaca puisi seseorang yang ditulis saat sang penulis mengalami “Poetic moment,” maka daya pengaruh puisi itu juga bisa dirasakan.

Banyak puisi ditulis dengan bahasa yang sangat indah dan dengan tehnik yang begitu tinggi, tapi terasa puisi itu kering seolah tanpa spirit atau tanpa ruh. Hal yang terasa aneh lagi adalah saat kita membaca puisi tapi kita tak mengerti akan pesan dan makna puisi tersebut, dan yang lebih mengerikan bahwa sang penyair juga tak paham apa yang ia sampaikan. Sang penyair menulis puisi hanya didasarkan pada permainan kata-kata tapi dangkal dengan rasa. Hal ini sangat mungkin terjadi. Kita tak akan mungkin mampu menulis puisi dengan baik jika kita hanya menulis dengan tujuan bahwa kita ingin disebut sebagai seorang penyair atau sekadar ingin menunjukkan bahwa kita mampu menulis atau bisa jadi karena kita ingin mengikuti lomba menulis puisi. Alasan lain bisa saja seorang memaksakan diri untuk menulis puisi karena ingin mengikuti antologi puisi. Pernah terjadi juga seorang menulis berdasarkan pesanan seseorang. Hal-hal tersebut sering terjadi dan sesungguhnya tentu bukan sebuah masalah, hanya saja adakah kesempatan bagi diri kita menemukan suatu momentum puitiknya saat menulis puisi atau sekadar memaksakan diri kita bermain dengan kata-kata semata. Maka sesungguhnya puisi yang indah dan kuat adalah puisi yang ditulis dengan kesadaran, nurani dan mampu melihat momentum puitik meski unsur imaginasi adalah suatu hal yang tetap dibutuhkan. Baik penulis dan pembaca, saat membaca puisi tersebut, maka seolah sedang berbincang dengan nurani mereka sendiri.

 

Related posts

Leave a Comment