Semarak Malam Anugrah HPI

14581578_1442420765772799_4912815302673958156_n

Litera (Jakarta)– Puncak acara malam anugrah Hari Puisi Indonesia berjalan sangat meriah tadi malam 12/10. Banyak penyair nusantara meriahkan acara tahunan yang digelar oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia (YHPI) ini. Sehari sebelumnya pada hari Selasa 11/10 mereka telah memeriahkan acara ini dengan menggelar pentas seni seperti pembacaan dan musikalisasi puisi dan teatrikal hingga puncak acara tadi malam yang dihelat di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

Acara dimulai pukul 19.45 dengan diawali menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan dilanjutkan dengan “Mars Hari Puisi” yang disuarakan oleh pemenang lomba cipta mars Hari Puisi dari SMK YP 17 Cilegon yang kemudian dilanjutkan dengan pemutaran dokumentasi sejarah puisi Indonesia oleh YHPI yang menggambarkan bahwa puisi turut membangun negri kita, serta peluncuran buku antologi penyair Indonesia dengan judul Matahari Cinta Samudra Kata yang memuat puisi 216 penyair nusantara dan terdiri dari 2016 halaman.

Selanjutnya ketua panitia acara Malam Anugrah YHPI, Maman S. Mahayana memberi sambutan singkat lalu dilanjutkan mentri agama RI, Lukman Hakim Syaifudin yang disebut sebagai mentri pertama RI yang mendukung acara HPI yang ke-4 tersebut diberi kesempatan membaca puisi. Sang mentri membacakan dua puisi karya sendiri yang berjudul “Sandyakala” dan “Agama, Konstitusi dan Kita.”

“Saya sebenarnya gemetar berdiri di sini untuk membaca puisi di depan para penyair. Saya beberapa malam ini susah tidur karena ini,” ucap sang mentri sebelum membaca puisi di depan para audiens yang memadati kursi hingga hampir tak ada kursi kosong. Setelah Lukman Hakim Syaifudin, tampil beberapa tamu undangan membacakan puisi seperti kuasa usaha dubes Libanon dan duta besar Tunisia.

Acara sempat terhenti sejenak pada pkl 20.33 saat Wakil Presiden RI, Jussuf Kalla memasuki ruangan. Rida K. Liamsi, salah seorang inisiator dan deklarator HPI kemudian menyampaikan pidato kebudayaan. Menurut Rida K Liamsi bahwa Hari Puisi yang digagas di Riau pada tahun 2012 dengan memilih tanggal 26 Juli yang merupakan hari lahir penyair Chairil Anwar sebagai penanda dan hari raya para penyair Indonesia. UNESCO sendiri telah memilih dan menetapkan tanggal 21 Maret sebagai hari puisi Indonesia. Rida berharap Hari Puisi bisa menjadi visi masa depan dan rumah bersama untuk tumbuh dan berkembang hingga penyair tidak lagi menjadi pengembara tanpa rumah.

“Puisi dan penyair seperti anak tiri yang tersesat dan menumpang di gerbong yang bernama kebudayaan. Hari Puisi Indonesia adalah tanah air para penyair Indonesia. Sekecil apapun tanah air haruslah dijaga,” tekan Rida bersemangat.

Dalam pemutaran dokumentasi, digambarkan kembali bahwa puisi adalah alat pemersatu dan perekat kuat yang membuat sebuah bangsa tetap kuat.

Maman S. Mahayana menyebut bahwa puisi kini tak lagi begitu dipengaruhi oleh puisi-puisi sebelumnya, generasi baru telah lahir. Puisi tak lagi di jalan sunyi. Kutipan para sastrawan lain seperti Agus. R sardjono, Jamal D. Rahman, Ahmadun Yosi Herfanda di film dokumenter makin mengukuhkan eksistensi puisi Indonesia.

Sebelum pengumuman nominee para pemenang HPI 2016, presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri membaca puisi berjudul “Wahai Pemuda, Mana Telurmu.”

Puncak pengumuman yang ditunggu para penyair tiba. Terpilihlah lima nominee terbaik yaitu, Ahmadun Yosi Herfanda, Sosiawan Leak, Rini Intama, Tjahyono Widarmanto, dan Umi Kulsum. Sementara pemenang terbaik jatuh pada Hasan Aspahani dengan buku puisi berjudul Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah mengering. Buku Hasan Aspahani ini terpilih dari 245 buku puisi yang masuk ke panitia HPI 2016. Jumlah ini meningkat lebih dari seratus persen karena pada tahun 2015, buku puisi yang masuk sebanyak 113 buku.

Wapres Jusuf Kalla diminta menyerahkan hadiah pada para pemenang dan kemudian diminta membaca puisi. Jusuf Kalla membaca puisi karya sendiri yang ditulis pada tahun 2004 di atas pesawat sepulang dari Ambon. Puisi Jusuf Kalla berjudul “Ambonku, Ambon Kita Semua.”

“Saya menulis puisi ini hanya 15 menit dan ini adalah puisi saya satu-satunya karena memang tak ada duanya. Saya cuma punya satu (puisi) ini, setelahnya tak ada lagi,” tutur JK yang disambut dengan gemuruh sorak audiens.

Setelah JK turun, acara berlangsung dengan baca puisi kembali seperti Dubes Indonesia untuk Azer Baijan, Husnan B Fananie. Semarak berlanjut hingga larut. (Mahrus Prihany)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *