Gemuruh Teriakan Kopi Para Penyair di Takengon

15179224_1490141967667345_2747614185204345909_n

Takengon (Litera)- Para penyair nusantara yang hadir dan menyemarakkan pesta puisi dan kopi menggemuruhkan teriakan tentang kopi lewat puisi. Acara yang digelar sejak Jumat (25/11) di Tanah Gayo, Takengon, Aceh Tengah, ini berjalan meriah. Para penyair lewat hentakan penuh semangat mengekspresikan semua dengan puisi yang bertema kopi. Malam itu acara baca puisi digelar hingga pukul 23.00 di Totor Coffee dengan iringan musik dari Komunitas Anak Kopi Gayo.

Pembacaan puisi diawali oleh Abu Rahmat (Lhokseumawe) dilanjutkan berturut-turut oleh Endut Ahadiat (Padang), penyair Gayo Ansar Salihin (Aceh), Julaiha (Medan), Kunni Masrohati (Riau), Siwi Widjayanti (Jakarta), Mahlizar (Takengon), Willy Ana (Bengkulu), Mezra Pellondou (NTT) yang berkolaborasi bersama penyair cilik Gayo Ine Salfani Renggali (Takengon), Zuliana Ibrahim (Takengon), Devie Matahari (Bekasi), Ace Sumanta (Bogor), Syarifuddin Arifin (Padang), dan ditutup Mustafa Ismail (Depok). Acara dipandu oleh Salman S Yoga dan Asmira.

Menurut Salman S Yoga, para penyair sungguh-sungguh menikmati acara pertunjukan dan kopi Gayo tersebut. Untuk agenda hari ini 26/11, acara akan dilanjutkan mulai pkl 15.00-18.00 di Seladang Kopi Bener Meriah milik Sadikin alias Gembel dan malam harinya akan dilanjutkan dengan baca puisi di pabrik kopi Haji Rasyid Bebesan, takengon. Penutupan acara untuk besok hari Minggu 27/11 akan diadakan di Pantan Terong.

Pesta puisi dan kopi yang digelar 25-27 November ini adalah rangkaian pesta dalam panen kopi yang berlangsung selama sebulan penuh yang bernama November Kopi Gayo. Acara puisi kopi ini juga meluncurkan buku antologi tentang kopi yang berjudul Kopi 1550 Mdpl , antologi puisi dari 255 penyair yang berasal dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia dengan tebal 500 halaman dan dikuratori oleh Fikar W. Eda, Salman S Yoga, dan Mustafa Ismail.

November Kopi Gayo adalah panen kopi yang bisa menjadi ajang untk memasyarakatkan kopi dengan melibatkan para penyair.

“Ini sekaligus untuk mendorong seniman agar lebih peduli pada kopi dan segala permasalahannya, serta bisa turut mempromosikan kopi Gayo,” demikian kata Fikar W. Eda, penyair yang menggagas acara November Kopi Gayo ini. (MP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *