Puisi-Puisi Zabidi Zay Lawanglangit

12313836_10154020649149156_1890573597688852440_n

Zabidi Zay Lawanglangit lahir di Yogya kini menetap di Bekasi. Pernah aktif bergiat di paguyuban sastra “Pasar Malam”. Menggagas dan menerbitkan buku antologi puisi Cinta Gugat. Antologi Buku puisinya berjudul sajak-sajak TIRAKAT.

 

Percakapan Sebelum Hujan

 

Aku ingin menyentuh kembali pintu

Bangku kayu atau meja di sudut ruang itu

Dengan tatapan mata atau usapan telapak tangan

 

Ruangan yang kini telah lengang mungkin juga asing

Tapi kau tahu kenangan tak akan pernah usang

Apalagi benar-benar hilang

Ada yang dengan sangat baik dan tak terduga

Mengabadikannya dengan catatan

Yang nyaris sempurna: tanpa kita menyadarinya

 

Ya, bahkan hal-hal yang tak kita lihat dan juga ingat

Bukankah demikian?

 

Ada yang pernah mengetuk pintu itu: tanganmu yang gemetar

Sebelum dingin bangku menjadi hangat

Hingga malam merambat

Melipat percakapan yang telah bertunas-tunas

 

Di luar hujan saat itu – saat kau bergegas

Ketika seseorang memanggilmu dari seberang

Dan di dalam lift mata kita masih saling berdekapan

 

Tak ada yang benar-benar hilang

Sebab selalu ada diam-diam yang menyimpannya

Dengan sangat rapi dan nyaris sempurna

: Kau tahu itu bukan?

 

2016

 

 

Rahasia Besar Apa yang Kau Simpan?

 

Aku melihatmu berjalan pelahan

Memanjat tangga menuju awan

Di atas langit seperti berongga: memancarkan cahaya

Putih dari kubah hitam kebiruan yang membentang

 

Rahasia besar apa yang kau simpan di kepala?

Tak ada suara. Hanya sunyi, angin, kabut dan dingin

Meski burung-burung masih beterbangan dalam diam

Burung yang tampak seperti titik hitam berbaris di kejauhan

 

Ada yang memandangmu

Jutaan pasang mata

Yang segera bergerak mengikutimu

 

: Menembus langit?

 

2016

 

 

Tak Ada Lagi yang Kau Punya

 

Barangkali engkau pohon yang teramat letih

Daun-daun di kepalamu telah rontok

Dan di senja sore tadi selembar daun terakhir

terlepas dari genggaman tangan ranting

 

Senja tak lagi menyimpan warna lembayung

Hanya putih dan hitam

Serupa kabut yang membungkus malam

Sementara tanah di tempatmu berpijak

Telah mengering dan retak

 

Tak ada lagi yang kau punya

Kecuali sebuah bangku kayu

Berwarna merah jingga

Di mana kau ingin sekali

Duduk dan bersandar di sana

: Sekali saja

2016

 

 

Batas Sepi

 

Ia ingin berhenti di batas sepi – di akhir mimpi

Sambil menatap riuh dan gemuruh di kejauhan

Ada yang akan datang menjemput, katanya

Sebuah bayangan yang kelak disebutnya sebagai ibu

Ia merasakan sentuhan lembut hangat

Seperti hembusan tangan angin di punggung badan

Ada yang menariknya berkali kali

Agar berlari mengikuti arah nyanyian

Meski ada yang membisikanya agar tetap diam

Ia merasakan tangan-tangan dalam tubuhnya saling tarik

Ada yang mengajaknya berlari

Ada yang menahannya di batas sepi

2016

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

i

2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *