Kawin

387955_323070527702998_811015655_n

Slamet Samsoerizal, penulis berbagai ragam teks mulai dari puisi hingga skenario tv. Pelestari bahasa Indonesia ini, menulis antara lain:  buku cernak Keberanian Sigit, kumpulan cerpen Bertanya (2001), Bahasa Indonesia untuk Tenaga Pendidikan Kesehatan terbitan Departemen Kesehatan (1994),  Modul Bahasa Indonesia SMP Terbuka (2004), Skenario Pembelajaran Tv-eDukasi, Modul Online Pustekkom Departemen Pendidikan Nasional (2009). Kumpulan Puisinya Kemarau (2000) dan Wisma Hijau Taman Ungu (2008). Pendiri Pusat Kaji Darindo.

 

SESEORANG menepuk pundakku. Aku menoleh. Rasanya aku mengenalnya. Entah dimana. Ia memandangiku penuh selidik. Aku risih.

“Ini Dodi?” tegurnya.

“Anda siapa?” balasku.

Ia membuka topinya. Wajah itu rasanya memang pernah kukenal. Ia tersenyum.

“Aku Bambang!”

“Hmm!”

Aku berusaha keras untuk mengenalnya secara pasti. Tapi, kira-kira siapa ya? Bambang yang mana, ya? Ada Bambang Sugiyono, Bambang Susilo, Bambang Yudhoyono, Bambang Suprayogi, lalu yang kukenal terakhir ya Bambang Gentholet itu.

“Lupa?”

Aku pura-pura tersenyum dan cepat sok akrab. Tapi, sungguh mati, aku masih terus mengingat-ingat Bambang yang kukenal dimana ini? “Oh, tidak!”

“Dimana sekarang?”

Kikuk juga mendapat pertanyaan seperti itu. Bukan apa-apa. Soalnya pertanyaan seperti itu, seringkali justru mempunyai makna beraneka.

“Di sini!” jawabku spontan.

“Kamu tak berubah, Dod. Masih suka guyon. Gimana, apa sudah married?”

Aduh! Bak ditohok pukulan seorang petinju kelas dunia, perutku berasa mual.

“Kawin, maksudmu?”

“Ya!”

“Anda sendiri?”

“Sudah punya celengan dua.”

“Sudah dua anakmu?”

“Ya ..”

“Oooo, dimana kamu sekarang tinggal?”

“Sama … disini.”

Tawa kami pun meledak.

Bambang terbahak. Aku pun jadi latah terbahak. Sungguh mati terbahakku, sekedar sok akrab saja. Dalam pikiranku, aku masih dihantui oleh rasa yang berkecamuk.

“Cepat kawin sebelum kiamat mendekat! ”

“Apa hubungannya kawin sama kiamat?”

“Orang kawin itu sebenarnya cuma soal keberanian. Keberanian mental semata. Banyak orang yang gajinya puluhan hingga ratusan juta, namun disebabkan tak ada nyali untuk kawin … ya terus menerus membujang.”

Ah, sumpah aku tak mengerti dengan jalan pikirannya. Mengapa, ia tiba-tiba khotbah di hadapanku tentang kawin? Apa sih maksudnya? Nyindir? Atau merasa paling berhasil, karena ia sudah kawin? Aku akui, memang. Hingga usia ketiga puluh, aku belum juga kawin. Bukan karena apa-apa. Akan tetapi, karena apa-apa. Maksudku, karena ada apa-apanya.

BUS yang kutunggu sudah datang. Tanpa sedikit ingin mengetahui alamatnya, aku tinggalkan orang yang mengaku bernama Bambang. Ia menepuk pundakku sekali lagi, sebelum kutinggalkan.

Dalam bus, kudengar percakapan dari dua penumpang yang kebetulan duduk di depanku.

“Kawin itu enak, lho!” kata penumpang yang satu.

“O, ya?” sahut penumpang kedua menimpali sekenanya.

“Sungguh. makanya cepetan kawin. Jadi, merasakan bagaimana nikmatnya kawin. Kalau udah tahu, hmmm nyesel deh. Kenapa baru tahu sekarang? ”

Ah ada-ada saja.

SESAMPAI di rumah, ada surat undangan perkawinan tergeletak di meja belajarku. Di sana tertera: ‘Kawin: Nungky bin Remin dengan Efan bin Anune.’ Tak kupedulikan siapa Nungky dan siapa Efan. Aku cuma tahu, pengundangnya Pak Ketua RW 05.

Sorenya aku mendengar kabar, putra kedua Pakde akan dikawinkan bulan depan. Itu, kata adikku yang paling kecil, si bungsu.

“Calon suaminya hebat lho Mas. sudah sarjana, rajin salat dan anak satu-satunya, lagi!” kata si Bungsu bersemangat.

“Kaya?” tanggapku sekenanya.

“He-eh. Hebat, ya Mas.”

“Iya, hebring euy!”

“Ngomong-ngomong, kapan Mas kawin?”

“Kapan-kapan!”

“Kapan-kapan, kapan? Kok selalu begitu jawabannya? Dini kan sudah pengin gendong keponakan.”

“Kira-kira, kapan enaknya?” godaku.

“Lho, kok malah tanya. Kan Mas sendiri yang akan menjalani.”

“Ah, sudahlah. Belajar yang rajin sana! Katanya mau jadi dokter?”

“Uuuuh!” gerutu si Bungsu.

Adikku berlalu. Aku cuma geleng-geleng kepala. Entah mimpi akau semalam. Seharian diberondong dengan satu topik yang sama: kawin.

Mungkin ini teguran. Atau lambing, bahwa secepatnya aku mesti segera kawin. Dulu, sewaktu tunangan calon mertua pesan kepadaku begini:

“Jangan keburu-buru kawin. Biar calonmu lulus dulu. lalu kerja. Lalu punya penghasilan tetap, bisa beli rumah. bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Lalu supaya rumah tangga kalian bisa bahagia ….”

Padahal, untuk memenuhi amanat itu berarti aku harus sabar selama lima tahun. Sabar menunggu. Calonku kini baru memasuki sebuah perguruan tinggi. Ini berarti, menunggu hingga lulus msih tersisa waktu sampai empat tahun. Ini pun kalau otak calon sitriku cemerlang. Apalagi kuliahnya di swasta. Kata orang, kuliah di perguruan tinggi swasta harus kuat uang saja. Sebab, sedikit-sedikit uang. Per mata kuliah yang bobotna Cuma 2 SKS, harus bayar sekian ratus ribu rupiah per SKS-nya.

Belum lagi selesai kuliah, ia pun harus menunggu panggilan kerja dari lamaran yang diajukannya. Harus berapa tahun lagi aku menunggu? Mana tahaaaaann? Kata tetangga sebelah, mencari pekerjaan di zaman kini susah. Kalau tak ada orang dalam atau koneksi atau yang bawa, semisal saudara susah cari kerja. Makanya, jumlah penganggur kian meroket. Banyak tenaga kerja yang belum mendapat lapangan pekerjaan. Banyak pengangguran intelektual.

Ya, kalau calon istriku orang yang berjiwa kreatif dan mandiri. Tidak pasif. Kerja apa saja. Pokoknya: kerja! Atau syukur-syukur bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Jika tidak? Mana tahaaaaann? Kata orang lagi (!), lowongan kerja yang dibuka sekarang ini suka ngeledek. Mengapa? Setiap lowongan kerja yang dibuka, selalu menyertakan dan mengharuskan dua tahun. si pelamar harus sudah berpengalaman selama paling sedikit dua tahun. Mana tahaaaaann?

Aku merenung. Alangkah susahnya menimbang, mengingat, dan memutuskan persoalan ini? Repotnya lagi, hingga kini aku belum mendapat pekerjaan tetap. Honorku sebagai kartunis hanya mampu tutup sedikit lubang hutang. Artinya, tak kurang dan tak lebih cuma mampu untuk biaya operasional: beli rokok dan pulsa internetan. Lha, kalau misalnya aku nekad kawin? Apa kata oang nanti? Bagaimana biduk bahtera rumah tangga yang bakal kujalani nanti?

TIBA-TIBA aku menemukan gagasan. Malam ini aku menemui calon mertua dan istriku.

“Saya kira kami segera kawin Pak!” kataku membuka pembicaraan. Mertua (masih calon) tampak bingung. Begitu juga dengan calon istriku.

“Ya, kami harus segera kawin! kalu tidak, aku takut jalan pikiranku segera berubah. Aku takut, kalau-kalau seleraku untuk kawin sudah lenyap. Ini jangan sampai terjadi, Pak. Lagian umurku sudah cukup. Cukup untuk kawin. Umurku kini sudah berkepala tiga. Aku kasihan dengan keturunanku kelak.

Sementara ia masih kecil-kecil aku sudah tua, dan kalau mereka sudah dewasa kami sudah renta. Aku mohon dengan sangat, Bapak dan Ibu meluluskan permintaanku! Sebab, kalau tidak, rasanya di antara kita tidak pernah ada keterbukaan dalam bersikap. Di antara kita tidak ada komunikasi. Bapak hanya mementingkan kepentingan sendiri. lalu aku menderita sendiri pula. Bagaimana Pak? Bagaimana Bu?”

“Kapan kalian akan kawin?” jawab Calon Mertuaku tak kuduga.

“Terserah Bapak dan Ibu saja!”

“Kamu sudah dapat pekerjaan?”

“Inilah, Pak! Tapi aku kira tidak ada masalah, kan? Banyak orang ketika kawin lalu malah kaya raya. Karena kawin malah akan membawa berkah. tidak ada masalah, kan Pak?”

“Gundulmu! Bapak dulu ngomong apa sama Bapakmu? Juga kamu? Biarkan calon istri ini lulus dulu, dapat pekerjaan dulu. lantas kamu juga dapat pekerjaan, lantas kalian kawin. nah, kenapa tiba-tiba gini? ”

DUA TAHUN kemudian, terjadi berbagai perubahan. Aku sudah menjadi karyawan di sebuah media massa cetak ternama negeri ini. Gaji di atas cukup. Dapat perumahan cluster seluas 300 m2 beserta mobil, dengan status kepemilikan pribadi.

Calon mertuaku sudah agak tua. Oh, ya perlu anda ketahui, aku sering ditugaskan di luar kota. Selama dua tahun pula, aku jarang pulang. Calon mertuaku, begitu aku datang memberondong dengan basa-basi. Mereka mendesakku agar sesegera mungkin mewujudkan keinginanku tempo dulu: kawin!

“Aku belum ingin kawin, Pak. Calon istriku belum lulus. Belum kerja, dan perjalanan karierku masih jauh kutempuh. ” ***

 

(Cerita buat Nas Nakurat, sahabatku!)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *