Malam Penutupan PESTARAMA Berjalan Meriah

Pestarama

Litera.co.id (Ciputat)- Malam penutupan Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (PESTARAMA) yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (HMJ PBSI UIN SYAHID) berjalan sangat meriah. Malam penutupan yang digelar pada Senin malam (22/5) tersebut tak hanya dihadiri oleh kalangan mahasiswa UIN tapi juga kalangan seniman dan budayawan.

PESTARAMA sesungguhnya adalah acara tahunan HMJ PBSI sebagai bentuk apresiasi pada seniman dan budayawan Indonesia. Tahun lalu PESTARAMA memberi apresiasi pada karya Nano Riantiarno, untuk tahun ini PESTARAMA memberi apresiasi pada Putu Wijaya.

PESTARAMA digelar selama sepekan sejak tanggal 16 mei lalu. Acara sepekan tersebut diisi dengan bedah karya dan penampilan yang dipersembahkan pada sang budayawan kelahiran Bali 11 April 1944 tersebut. Putu adalah seorang penulis yang sangat begitu produktif dalam berkarya baik puisi, cerpen, novel, drama, esai, dan skenario film.

Selain apresiasi karya Putu Wijaya selama sepekan, PESTARAMA juga menggelar lomba puisi dan monolog untuk pelajar dengan total hadiah 25 juta rupiah.

Malam penutupan “Sepekan Bersama Putu Wijaya” dimulai pkl 19.30 dengan dibuka sambutan panitia dan rektorat UIN juga diselingi penampilan hiburan dari mahasiswa UIN. Hadir memberi sambutan juga kapolsek Ciputat yang mewakili kapolres Tangerang Selatan yang rencananya akan hadir tapi mendadak mendapat panggilan dari Kapolda Metro Jaya.

Acara lalu dilanjutkan dengan testimoni dan orasi budaya oleh Ninik L. Karim dan ketua umum Dewan Kesenian Banten, Chavchay Syaifullah. Dalam orasinya Chavchay membangkitkan semangat generasi muda untuk tetap berkarya layaknya sang legenda, Putu Wijaya yang tetap bersemangat tanpa kenal usia.

“Putu adalah seniman dan budayawan besar Indonesia yang telah mengangkat nama Indonesia di pentas dunia. Putu adalah kebanggaan kita semua. Karya Putu seperti teror mental yang mampu membuat batin dan pikiran kita terguncang dahsyat,” lantang Chavchay memberi orasi diiringi tepuk sorak dan suara gegap gempita dari para pengunjung yang hadir. Ketua umum DKB tersebut juga serasa memberi teror mental lewat orasinya hingga ratusan pengunjung yang hadir bergemuruh penuh semangat pada tiap kalimat yang terucap oleh Chavchay dan terlihat Putu Wijaya khidmat menyimak di bangku depan.

Acara lalu dilanjutkan dengan penampilan monolog oleh Jose Rizal Manua. Berbusana kemeja lengan panjang berwarna merah dan celana panjang putih, Jose Rizal tampil lebih dari setengah jam.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba puisi dan monolog oleh Lisa Syahtiani dan diteruskan oleh panitia. Lomba ini menyediakan hadiah total Rp 25 juta.

Puncak penutupan acara menghadirkan duet musisi Jepang KURI. Duet musisi negeri matahari terbit tersebut begitu memikat dengan musik etniknya. Para pengunjung berteriak agar mereka meneruskan permainan gitar dan bermacam alat tiupnya. Pada lagu keempat, KURI berkolaborasi dengan dua musisi Indonesia.

Acara akhirnya ditutup dengan sesi foto bersama dengan Putu Wijaya. Sang legenda dengan sabar melayani para pengunjung yang ingin berfoto meski Putu terlihat sedikit susah untuk berdiri dan berjalan. Acara selesai hingga pukul 23.30. (Mahrus Prihany).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *