Suara Azan Musafir

13177388_10206234415155387_8590646018076780235_n

Nana Sastrawan, lelaki dengan postur tubuh sangat jangkung ini telah menulis belasan buku, baik puisi, cerpen, ataupun novel. Kumpulan cerpen tunggalnya berjudul Ilusi-delusi (2015), sebelumnya telah terbit novelnya yang berjudul anonymous (2012). Kini berprofesi sebagai seorang pengajar di sebuah sekolah di Tangerang sambil tetap aktif bergiat dan melatih teater dan memberi pelatihan menulis puisi atau cerpen.

 

Sore hari di bulan puasa, aku duduk di beranda rumah membaca sebuah cerita pendek. Beginilah ceritanya :

MASJID itu berlokasi di ujung jalan sehingga jarang sekali orang mau salat di sana. Karena tempatnya jauh dari pemukiman warga, maka tidak heran jika masjid itu kotor dan tak terurus. Usia bangunan itu sudah sangat tua, temboknya tebal dan lembab, jendelanya sudah mulai rapuh, lantainya menggunakan batu marmer. Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 30 orang jamaah.

Namun, halamannya cukup luas. Ada tiga pohon beringin besar tumbuh di sana, usianya mungkin sudah seumur masjid itu. pohon-pohon beringin membawa kesejukan di wilayah sekitar masjid dan akar-akarnya mengeluarkan air jernih sehingga sumur untuk wudu sangat terawat dan sejuk. Walaupun demikian, masjid ini sepi pengunjung. Orang-orang memilih salat di rumah masing-masing, atau di tempat Haji Ali, peternak lebah yang menghasilkan berliter-liter madu.

Kehidupan warga di sana adalah pekerja, bekerja kepada Haji Ali untuk mengolah madu-madu hasil lebah-lebah yang dipelihara olehnya. Mereka dapat upah sedikit, hanya cukup untuk makan sekeluarga dalam sebulan, akan tetapi mereka sudah tak ada pilihan. Haji Ali adalah orang terkaya di daerah itu, dekat dengan para pejabat pemerintah sehingga tak ada yang berani melawannya. Perangainya yang galak membuat para pekerja merasakan waktu bekerja yang padat, itulah sebabnya mereka jarang salat berjemaah di masjid ujung jalan itu.

“Kamu harus bekerja lebih tekun!” perintah Haji Ali.

Tubuh besar dan perutnya gemuk. Dia sebenarnya sudah sangat sulit untuk berjalan akibat berat-badan yang selalu bertambah. Namun, kegemarannya tidak pernah bisa hilang, yaitu berpesta dengan pejabat setempat di ruang makan rumahnya yang telah di atur sedemikian bagus. Ruang makan inilah yang menjadi kebanggaan Haji Ali untuk memarkan kekayaannya.

Dinding-dinding ruang makan di pajang berbagai lukisan dari pelukis-pelukis ternama, guci-guci dari Cina juga menghiasi sekitar ruang makan. Piring-piring terbuat dari keramik-keramik yang mewah dan gelas-gelasnya terbuat dari bahan kaca yang mengkilat. Semua memang serba sempurna di ruang makan Haji Ali. Membuat dia semakin tamak dan sombong.

Suatu siang, di waktu salat duhur. Orang-orang dikejutkan oleh suara azan, mendayu-dayu tertiup angin. Orang-orang yang sedang bekerja saling pandang—mereka tak pernah mendengar suara azan semerdu itu, tak pernah semenjak mereka sibuk bekerja di peternakan lebah Haji Ali.

“Siapa yang tidak bekerja hari ini?” tanya Haji Ali.

Dia berdiri dengan perut membuncit dan napas tersengal-sengal akibat tergesa-gesa berjalan menuju ke peternakan lebah, rupanya dia juga mendengar suara azan.

“Tidak ada pak Haji,” jawab salah satu pekerja dengan wajah yang ketakutan.

“Lalu siapa yang azan?” Haji Ali melirik matanya kesetiap pekerja.

Semua menggelengkan kepala. Dalam hati mereka bertanya-tanya, siapa gerangan orang yang membuat Haji Ali murka?

“Bagaimana jika kita tengok saja?” seorang pekerja berani mengusulkan diri.

“Iya Pak Haji. Suara itu dari masjid ujung jalan itu!” temannya menyetujui usul itu.

“Padahal masjid itu sudah lama tidak kita tengok?” salah satu pekerja terlihat bingung.

“Iya… mungkin sajaaa…. Hantu!”

Semua lalu riuh saling bercakap-cakap soal suara azan tersebut. Haji Ali geram, suara azan yang telah mengganggu aktivitas pekerjanya untuk bekerja di perternakan lebah yang sudah dikelola puluhan tahun. Dia tak ingin merugi, apalagi kebutuhan madu bagi industri semakin meningkat, belum lagi untuk para pedagang sangat banyak pesanan, dia tak ingin para pelanggannya pindah ke peternak madu lain.

“Baiklah, mari ikuti saya!”

Haji Ali berjalan, tubuhnya yang gemuk membuat kakinya terseret-seret ketika melangkah. Semua pekerja mengikuti Tuan Haji Ali. Sepanjang jalan, para ibu-ibu juga bercakap-cakap tentang suara azan itu sehingga mereka ikut terlihat berada di luar rumah.

Di halaman masjid bersih, tak ada daun-daun kering yang berserakan seperti biasanya, lantai-lantai masjid juga mengkilat, kaca-kaca jendela kemilau tersorot matahari siang ini. Kesejukan dari pohon-pohon beringin membuat masjid ini nyaman untuk beristirahat pada siang terik seperti ini.

Semua orang tercengang—ketika tiba di halaman masjid. Mereka semakin bertanya-tanya siapa yang telah membuat masjid ini bersih? Sesaat ketika Haji Ali akan tiba, dilihat ada seorang pemuda kurus keluar dari tempat wudu, wajahnya bersih setelah berwudu dan pakaiannya putih. Orang-orang semakin ketakutan, ini pasti hantu.

Assalamualaikum…” pemuda itu mengucapkan salam.

Waaa… Waaa… Waaalaikumsalam…,” semua orang menjawab serempak.

“Mari kita salat berjamaah!” ajak pemuda itu lalu masuk ke dalam masjid.

Tanpa ada perintah dari Haji Ali, mereka langsung menyerbu tempat wuhu. Entah apa yang membuat mereka begitu ingin salat berjamaah dengan pemuda itu, barangkali mereka takut bahwa pemuda itu benar-benar hantu, jadi takut dikutuk. Haji Ali bersusah payah menuju tempat wudu, jalannya berat dengan perut buncit. Dia juga sepertinya penasaran dengan pemuda itu.

Masjid yang biasa sepi, kini ramai. Orang-orang berebut ingin salat di barisan terdepan, pemuda asing ini telah membawa sesuatu yang baru di masjid itu, tempat yang biasanya tidak pernah dikunjungi karena tidak menghasilkan uang, siang ini menjadi bagian sejarah bagi orang-orang sekitar bahwa rasa penasaran dapat menimbulkan kebiasaan buruk menjadi hal yang baik, selama tempat dan tujuannya baik. Haji Ali masuk ke masjid mencari barisan yang belum padat, namun semua sudah rapi sehingga dia membuat barisan sendiri di luar masjid, depan pintu masuk.

Takbir pertama berkumandang, semua hening.

***

Sejak peristiwa itu, masjid semakin ramai dikunjungi di waktu siang. Pemuda itu ternyata seorang musafir, mungkin untuk beberapa hari akan menetap di masjid, orang-orang senang kepada pemuda itu, dia bernama Abu Jail. Selain pandai mengaji, bersuara merdu, dia juga orang yang suka membuat lelucon, pandai mendongeng sehingga semua orang selalu ingin datang ke masjid untuk mendengar dongeng Abu Jail.

Kejadian ini tentu membuat Haji Ali marah—sebab banyak dari pekerjanya berani keluar peternakan ketika terdengar azan dari arah masjid. Sebenarnya, Haji Ali masih meneliti musafir seperti apa Abu Jail itu. Setelah tahu jika Abu Jail adalah musafir biasa, dia berani melarang para pekerjanya keluar untuk salat di masjid, dengan alasan ada ruangan khusus yang memang telah disediakan di peternakan lebah untuk para pekerjanya salat. Dia tak ingin waktu terbuang percuma sehingga akan merugi lebih banyak lagi.

Haji Ali juga merancang rencana untuk menghasut Abu Jail agar dapat bekerja di peternakannya.

“Dia seorang musafir, pasti butuh uang,” katanya dalam hati.

Dikirim kabar kepada Abu Jail bahwa Haji Ali mengundang dirinya makan siang pada jam waktu salat duhur. Rencana ini memang sengaja agar Abu Jail tidak bisa azan di masjid, namun kenyataannya berbeda, Abu Jail mengumandangkan azan dengan sangat merdu, Haji Ali semakin kesal.

Haji Ali mondar-mandir di ruang makan, menunggu Abu Jail datang untuk makan siang. Hatinya resah, marah, kesal dan geram. Kedatangan Abu Jail telah merugikan usaha peternakan lebah, hanya sedikit pekerja mengolah madu, dia merugi. Ketika mondar-mandir di ruang makan, pelayan menghampirinya dan memberitahu bahwa Abu Jail telah tiba, tentu saja Haji Ali segera mempersilahkan masuk.

“Senang rasanya bisa bercakap dan minum bersama Haji Ali,” kata Abu Jail setelah duduk di meja makan.

“Haha… tak usah ragu, sudah kewajiban sebagai tuan rumah menyambut seorang musafir,” jawab Haji Ali.

Hidangan tiba, dibawa oleh gadis-gadis muda yang genit. Bermacam hidangan, dari daging, sayuran hingga buah-buahan. Haji Ali rupanya ingin membuat Abu Jail terkesan dan setelah itu dapat menghasut dirinya untuk bekerja sehingga para pekerja yang lain dapat bekerja lagi lebih giat lalu menghasilkan uang untuk dirinya.

Abu Jail makan dengan lahap, seolah dia tak mengetahui maksud buruk dari Haji Ali, semua makanan dicoba, semua makanan dihabiskan, perut Abu Jail kenyang. Pikirnya, ini rezeki dari Allah jangan disia-siakan, mubazir.

“Ini ada hadiah dari saya. Mmm… hanya seekor lebah,” Abu Jail menyodorkan gelas yang tertutup. Di dalamnya ada seekor lebah besar.

“Untuk apa seekor lebah?” Haji Ali tersinggung.

“Jangan salah sangka pak Haji, ini Ratu Lebah, bisa dengan mudah memerintah lebah-lebah di peternakan Pak Haji untuk menghasilkan madu lebih banyak.”

Haji Ali tersenyum, wajah tamaknya terlihat lagi. Tapi, dia juga masih butuh bukti, tidak mudah percaya begitu saja.

“Bagaimana caranya?”

“Silakan Pak Haji lepas lebah itu.”

Dibuka penutup gelas, lebah itu perlahan mengembangkan sayap, lalu terbang keluar dari gelas, suaranya berdengung. Lebah berputar-putar di atas meja makan, kemudian mendekati Haji Ali, dia berputar-putar di atas kepala. Haji Ali mengamati lebah itu, di dalam pikirannya lebah itu memang besar, lebih besar dari yang dia miliki di peternakan. Tiba-tiba lebah itu menyerangnya.

“Abu Jail! Ini lebah penyengat!” seru Haji Ali.

“Sabar Pak Haji, lebah itu mungkin ingin berkenalan dengan tuan barunya.”

Namun, Lebah itu terus menyerang Haji Ali, dia berlari mengelilingi ruangan makan, lebah itu terus mengejar. Haji Ali panik, sehingga menubruk guci-guci bagusnya, semua berantakan, pecah. Haji Ali marah, diambilnya seikat sapu lidi. Dihantam lebah itu oleh sapu, tapi lebah itu bisa menghindar, dia menempel di lukisan, dihantam lagi, terbang lagi, hinggap di mana saja, di benda-benda bagus di ruangan makan, sehingga semua berantakan, semua pecah, semua kacau. Haji Ali dengan tubuh yang besar kelelahan mengejar seekor lebah. Dia pasrah, apalagi melihat ruangannya berantakan.

Lalu dia duduk. Napasnya turun-naik, keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya. Lebah itu menghampiri lagi, berputar-putar di kepala Haji Ali, lalu hinggap di hidungnya. Haji Ali diam, hatinya cemas jika lebah itu menyengat.

“Sstt… Abu Jail, hantam lebah ini!” perintah Tuan Haji Ali setengah berbisik.

Abu Jail masih diam, mencari alat untuk menghantam lebah.

“Cepat! Pakai apa saja!” Haji Ali kesal.

Abu Jail kemudian mengambil nampan yang tergeletak di atas meja makan.

PLOK!

Sejak itu, Abu Jail menjadi terkenal, dan orang-orang semakin ramai untuk salat berjamaah di masjid.

            Tiba-tiba terdengar suara azan, aku tersadar, langit sudah berubah jingga dan semakin gelap. Ini waktunya berbuka puasa, segera aku meletakan buku itu di atas meja. Dalam pikiranku, cerita di buku itu pasti bohong, tidak mungkin ada seorang Haji yang senang akan kehidupan duniawi, mereka pasti mementingkan kehidupan akhirat dan selalu mementingkan orang lain di atas kepentingannya pribadi.     

 

  2015-2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *