ESAI 

PUISI NUSANTARA MAKIN KITA SAJA

Membaca puisi-puisi Nusantara serasa membaca puisi-puisi kita saja. Sebab, Nusantara adalah kita, kita adalah Nusantara. Maka, puisi-puisi kita adalah puisi-puisi yang bercita rasa Nusantara. Dan, puisi-puisi Nusantara adalah puisi-puisi yang bercita rasa kita. Meski ada perbedaan diksi dan makna kata, serta perbedaan budaya lokal yang mempengaruhi kelahiran puisi masing-masing negara asal penyair, tapi cita rasa puisi Nusantara adalah cita rasa kita. Perbedaan pengucapan, metafor, dan simbol, terjadi karena perbedaan kreativitas penyair dan latar budaya itu.

———————————————-

Tulisan ini telah dimuat di Koran Tempo dalam bulan Oktober 2025.

———————————————-

Jika kita runut dan kita baca puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi Pertemuan Penyair Nusantara (PPN), sejak PPN pertama tahun 2007 di Medan, sampai PPN Kediri, Bandar Seri Begawan, Kuala Lumpur, Singapura, Pattani, Banten, Kudus, Palembang, Jambi, Tanjungpinang, dan Jakarta; puisi-puisi penyair Nusantara sebenarnya berada dalam satu spirit: persaudaraan dan perdamaian.

Akan tetapi, puisi (karya sastra pada umumnya), seperti dikatakan oleh Julia Kristeva dan Derrida, dan diulang oleh A. Teeuw, tidaklah lahir dari ruang kosong. Selalu ada teks masa lalu dan masa kini yang mempengaruhinya. Karena itu, penafsiran masing-masing penyair Nusantara terhadap tema tersebut selalu berbeda-beda, dan selalu ada teks personal yang mempengaruhi pengucapan puisi mereka masing-masing.

Dalam konteks itu, gaya pengucapan penyair Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand, tentu berbeda dengan gaya pengucapan penyair Indonesia, karena latar belakang budaya dan pengalaman keseharian yang berbeda-beda. Akan tetapi, dan ini yang menarik, puisi-puisi mereka belakangan ini, terutama yang lolos kurasi PPN XIII Jakarta, menunjukkan gaya pengucapan yang baru dan segar, dengan kebebasan tipografi, kurang memperhatikan rima, tapi tetap indah dan imajinatif. Gaya pengucapannya terasa kekinian, segar, dan bercita-rasa kontemporer.

Coba kita simak bait pertama puisi Zefri Ariff dari Brunei, “Meja dan Lorong”, dalam antologi puisi PPN XIII, Layang-layang tak Memilih Tangan, yang memperlihatkan cita-rasa kekinian, dengan metafora dan citraan simbolik yang kuat, sbb.

dewasakah kita kalau semalam merangkak

bertelatai dan kini berjalan berlari?

yang berlari adalah masa

dan kita tetap mengejarnya kelelahan.

tanpa lelah kita belajar di meja ini

mengenal huruf dan angka, membaca kata

dan membilang nombor

di meja ini kita berkumpul dalam ruang yang bebeza

di meja ini kita mengolah rupa dan mencari arah

arah datang dan pergi sesingkat meja fikir

menuju lorong jiwa

 

Dari judulnya, puisi di atas juga sudah tidak memakai judul yang sloganistik, tapi sudah memakai judul yang simbolik, singkat dan menarik, “Meja dan Lorong”. Cita rasa judul dan substansi puisinya sudah meninggalkan cita rasa lama, semisal judul puisi Brahim bin Ampuan, “Kemanusiaan” yang terkesan umum, atau Khadizah Mumin, “Menyalakan Redup Nadi Bangsa” yang sloganistik. Tetapi, begitulah proses untuk “menjadi”, menata seluruh keindahan dan makna puisi, termasuk memilih judul yang eye catching, sekali dilihat langsung membuat pembaca jatuh cinta dan ingin tahu isi hatinya.

Dari Thailand, pada ajang PPN XIII, salah satu puisi yang menarik adalah “Berkebun di Kedai Kopi” karya Nik Rakib bin Nik Hassan. Ia mengibaratkan kedai kopi sebagai sebuah parlemen, tempat warga kampung berkumpul, membincangkan impian dan harapan, politik dan kekuasaan, serta berbagai persoalan keseharian. Judulnya pun sangat menggoda dan terasa kekinian. Puisi Awwabin Helmi, “Kami Bertetangga dengan Dunia”, ungkapan-ungkapannya juga cukup segar dan memikat. Sedang dari Singapura, puisi Hartinah Ahmad dan Samsudin Said menunjukkan kekuatan serupa. Cita rasa puisi-puisi mereka terasa berbeda dengan karya Muniroh Bachoh, “Bahasa Bangsaku”, dan Nusanwai Ha’, “Nusantara Merangkul Patani”. Kita nikmati bait pertama puisi “Berkebun di Kedai Kopi” sbb.

di kedai kopi

sebagai parlemen di kampung

mencari kenikmatan impian

dalam harap mengharap waktu

konon harapan masih ada

menjadi sidang untuk sebuah bicara

di utara dan selatan kampung

timur dan barat datang ke kedai kopi

sidang inilah tempat dicurah isi hati

maka menjadilah perlemen tidak resmi

 

Masih dari ajang PPN XIII, kita juga mencatat nama-nama penyair yang puisinya unggul dan menampakkan metafor-metafor yang segar, semisal karya Mohammad Saleeh Rahamad, “Sungai Cinta”, dan semua puisi karya para penyair Malaysia yang lolos kurasi, seperti “Layang-layang tak Memilih Tangan” karya Abdul Hamid Abdul Halim, “Rumah Kecilku” karya Shamsudin Othman, serta “Kopi dan Kata Maaf” karya Fatin Nabilah.

Sajak “Layang-layang tak Memilih Tangan” karya Abdul Hamid Abdul Halim yang diambil menjadi judul antologi ini adalah puisi dengan metafor sederhana, tapi sangat puitis dan mencitrakan persaudaraan dan perdamaian yang dibangun dari permainan layang-layang. Permainan layang-layang menjadi simbol sekaligus fenomena sosial menuju persaudaraan. Gambaran yang cukup unik, yang mungkin tidak semua orang menyadarinya, menyadari makna simbolik dari permainan anak-anak itu. Puisi ini terasa segar dan akrab dengan imajinasi kita justru karena kesederhanaannya. Coba kita simak bait pertama dan kedua puisi itu:

 

di ujung sawah

anak-anak bermain langit

dengan layang-layang

dari kertas surat kabar kemarin

dan benang dari mesin jahit ibu

 

matahari tak memilih warna kulit

angin tak memilih bahasa untuk bertiup

layang-layang kertas dari tangan berlainan

berdansa di langit yang satu

di bumi, benang-benangnya

masih saling menegangkan arah

 

Mengejar ketinggalan

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, lebih-lebih pada masa Diah Hadaning memenangkan hadiah Puisi Putera pada tahun 1980-an, secara umum, puisi-puisi penyair Malaysia, Brunei, Singapura, dan lebih-lebih Thailand Selatan yang sedang belajar menulis puisi berbahasa Melayu, cenderung tertinggal dengan puisi-puisi penyair Indonesia. Sementara, penyair-penyair Indonesia dewasa ini, terutama puisi-puisi yang dikirim untuk PPN XIII, tampak kurang menunjukkan pencapaian estetik, atau puitika, baru. Puisi-puisi mereka seperti menunggu perjalanan puitik puisi-puisi Nusantara untuk maju bersama.

Sekarang ini, terutama puisi-puisi para penyair Malaysia, tampak mulai mengejar ketertinggalannya. Mereka tampak semakin akrab dengan cita rasa bahasa Indonesia dan bahasa Melayu modern. Memang sudah menjadi tujuan terpenting PPN sejak awal, yakni menjayakan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu di kawasan Nusantara. Saya kira, antologi-antologi puisi PPN bisa menjadi objek penelitian yang menarik untuk menjelaskan asumsi puitik tersebut.

 

Selera puitik kurator memang cukup mepengaruhi pemilihan puisi untuk antologi puisi pada setiap ajang PPN. Sebagai kurator PPN XIII, saya biarkan selera puitik saya bekerja, karena saya yakin selera itu bekerja demi kebaikan dan kemajuan puisi Nusantara. Saya berharap, puisi Nusantara, dari negara manapun, yang disatukan oleh bahasa Indonesia dan Melayu, terus terdorong maju, menjadi puisi-puisi yang unggul, dalam citarasa Nusantara yang modern dan kekinian.

Dalam diskusi terbuka menjelang pengumuman hasil kurasi, dengan gembira saya sampaikan kenyataan puitik bahwa hampir semua puisi yang lolos kurasi menampakkan kecenderungan puitik yang segar dan dengan gaya pengucapan yang terasa baru, yang terasa modern. Mereka sudah meninggalkan gaya pengucapan lama yang mengingatkan pada puisi-puisi Pujangga Baru. Mereka sudah masuk ke gaya pengucapan baru yang jauh lebih segar.

Sayangnya, kenyataan puitik itu hanya berlaku untuk Malaysia yang menyertakan seratus lebih penyair, dan yang lolos kurasi hanya sekitar 35 penyair. Dapat ditebak, yang tersisih adalah penyair-penyair dengan puisi bergaya lama, bergaya puisi Pujangga Baru, dan puisi-puisi yang dangkal serta tidak berkualitas. Sedangkan para penyair Brunei, Thailand, dan Singapura, terpaksa tidak dikurasi, karena jumlah penyair yang ikut mengirimkan puisi ke PPN XIII berada di bawah kuota, sehingga semua penyair masuk tanpa seleksi.

Sebenarnya sudah sejak lama ada banyak penyair Malaysia, Brunei, dan Singapura, yang puisi-puisinya unggul, terutama para sastrawan negara Malaysia. Sudah lama kita mengenal nama-nama yang populer dan puisi-puisi mereka sangat unggul di Nusantara, misalnya Baha Zein (Baharudin Zaenal), Usman Awang, A. Samad Said, Siti Zainon Ismail, Ahmad Kamal Abdullah (Kemala), Muhammad Haji Saleh, Anwar Ridwan, Zurinah Hasan, dan sederet nama lagi, termasuk sederet nama peraih SEA Write Award.

Sayangnya, para maestro penyair yang berada di luar ajang PPN, seperti juga para maestro penyair Indonesia, enggan melibatkan diri dalam perhelatan ini, jika tidak diundang. Model perekrutan penyair menjadi kuncinya. Pada PPN XIII ini perekrutan peserta bersifat terbuka, menggunakan sistem open call. Banyak penyair senior, yang biasanya hadir di PPN, tidak nampak, karena tidak mengirim puisi, dan karena itu tidak diundang. Perhelatan di Jakarta ini seperti mengubah wajah peserta PPN, sekitar 80 persen wajah-wajah baru.

PPN adalah forum besar yang melibatkan penyair dari lima negara. PPN dirancang sebagai forum kerja sama antar-kumunitas sastra: Komunitas Sastra Indonesia, Pena Malaysia, Asterawani Brunei Darussalam, Asas 50 Singapura, dan Studi Melayu Thailand. Di tiap negara dan daerah selalu saja ada komunitas-komunitas lain yang ikut bergabung. Hal ini tentu menggembirakan, karena dapat menambah keberagaman peserta PPN, dan akan berpengaruh positif pada puisi-puisi mereka.

Kecenderungan perpuisian Nusantara tentu sangat dipengaruhi oleh puisi-puisi para penyair di dalam komunitas-komunitas itu, dan persentuhan mereka dengan puisi para penyair dari daerah dan negara lain. Tukar-menukar buku puisi, pentas baca puisi, antologi puisi, dan di manapun puisi ditampilkan, akan membawa pengaruh positif, dan mendorong perpuisian Nusantara ke arah kemajuan, ke arah yang lebih baik. Maka, jayalah puisi Nusantara!

@ Ahmadun Yosi Herfanda, salah seorang kurator PPN XIII Jakarta.

 

Related posts

Leave a Comment

thirteen − four =