Daftar Laku Ganjil Ditinggal Mati

20161113121643_1479043127804

Kristiawan Balasa, Tinggal dan bergiat di Pontianak, Kalimantan Barat. Sehari-hari berprofesi sebagai pewarta di sebuah media lokal di Pontianak. Senang menulis fiksi dan non fiksi. Cerpennya meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik dalam anugrah sastra Litera yang dilangsungkan pada bulan April lalu yang dibukukan dalam antologi Seutas Tali & Segelas Anggur (2017).

 

Kitab suci menyebutkan rezeki, jodoh dan mati adalah rahasia ilahi. Yang dibilang terakhir kemudian mengobsesi orang-orang untuk tahu kapan waktu itu datang. Mereka lantas menyiapkan amal-amal dan mendulang pahala sebanyak mungkin sebagai bekal. Tapi tidak semua demikian.

Orang yang mengambil jalan lain dari kebanyakan itu, satu di antaranya Joko Tole. Usianya enam puluh tiga, beranak dua dan hanya punya satu istri. Dia hampir punya dua, tapi sayang bini pertamanya tak jadi mangkat. Istrinya itu lima tahun lebih tua dan menunjukkan gejala akan mati di usia 60-an sejak umur 40-an. Pasalnya, sang istri punya darah tinggi, doyan makan kambing dan daun ubi dengan paling tidak seminggu delapan kali minum suplemen merk terkenal rasa susu.

Dari zaman pacaran, Joko Tole dan istrinya saban waktu nongkrong di warung kopi. Yang lelaki minum pancong, si perempuan doyan minuman berenergi. Makanya dia tak heran ketika istrinya jatuh sakit, sampai tujuh hari dirawat inap lantaran enggan makan dipantang. Mulutnya sudah berbuih menasehati Nyonya Tante—begitu Joko Tole memberi sebutan jika sebal dengan sang istri. Kadang dia berpikir penderita darah tinggi bisa menularkan penyakitnya jika si penderita juga mengidap keras kepala cum bebal.

Saat itu keduanya sering bertengkar hanya karena hal sepele: lupa mematikan lampu WC; tak menutup pintu pagar; atau menghilangkan Tupperware—tentu sepele dari persepsi lelaki. Jika sudah marah, Nyonya Tante melampiaskan semuanya di Facebook. Untuk yang satu itu, Joko Tole tahu dari aku. Tapi akan percuma jika dibilang, corong masjid sekalipun besar, cuming untuk bersuara, bukan mendengar.

Akhirnya Joko Tole sering keluar rumah. Kembali duduk di warung kopi dan kepincut janda penjaga. Pikiran nakalnya untuk punya istri dua pun lahir seperti kecebong. Kecil, banyak dan cepat besar. Tapi kenyataannya istrinya tak kunjung meninggal dan dia menyesal. Lama-lama warung kopi lebih mengingatkannya pada masa pacaran ketimbang si janda sintal.

Kecebong di kepalanya berubah kodok dan melompat entah ke mana. Pikirannya berubah arah. Dari menunggu istrinya mati, jadi bagaimana seandainya dia yang mati. Namun ketimbang mempersiapkan kematian untuk dirinya, dia malah membayangkan apa yang mungkin istri dan anaknya lakukan setelah ditinggal dia meninggal. Dia pernah ingin kehilangan seseorang tapi kini malah takut mati duluan. Bagaimana nanti orang terkasihnya menangis atau perilaku lain yang menegaskan bahwa mereka benar-benar kehilangan. Otak lulusan filsafat itu memang rada senget dan seringnya menular.

Aku tahu misi ganjilnya setelah menemukan dia duduk mengetuk-etuk kepala dengan ujung pulpen di beranda rumah. Menghadap kertas bergaris dengan corat-coret penaka papan strategi pelatih sepakbola yang timnya tertinggal kosong tiga di jeda babak pertama. Teman kuliahku itu memang punya nilai tinggi di kelas Metodologi Penelitian tapi bukan periset handal. Skripsinya selesai lima bulan jelang batas Drop Out dan dia beruntung diterima jadi pegawai negeri lantaran kenal orang dalam.

Ketika dia bercerita tentang apa yang sedang dikerjakan, aku lebih banyak membayangkan hidupnya yang sering kemarau ketimbang hujan. Keluarganya memang tak seperti sinetron sampai muncul adegan boneka Hello Kitty direbus, tapi tidak juga menggambarkan sinema panutan layaknya Keluarga Cemara tahun 90-an. Seperti yang kuceritakan di awal, Joko Tole sempat ingin bangsat juga.

Joko Tole mereka-reka apa yang terjadi jika ajal datang, sadar diri umurnya lewat jauh lepas matang.

“Aku sudah mencari cerita-cerita yang benar-benar ganjil. Sampai minta ajari Toto Hamzah cara main Google,” ucapnya. Toto Hamzah anaknya yang pertama dan sudah menikah, tinggal terpisah dan butuh waktu setengah jam untuk sampai di rumahnya.

“Setidaknya penelitianmu itu bikin kau tak kudet. Atau, kau bisa menggunakan pengetahuan barumu ketika tak bisa jawab pertanyaan malaikat nanti.”

Kimak kau!” serunya disambut tawa kami.

Dari hasil pencarian dan perenungan, setidaknya sudah ada tiga cerita yang dia rangkum dan dianggapnya cukup ganjil dan layak masuk dalam daftar. Cerita-cerita lain masih sangat mungkin untuk ikut diabadikan lantaran misinya ini baru jalan dua pekan. Satu minggu pertama habis untuk belajar dan mengingat cara pakai telepon pintar istrinya yang selama ini dia toleh curiga. Mencuri waktu di sela sang ibu rumah tangga berdoa di fesbuk atau ribut di grup WhatsApp yang jumlah pesannya satu hari bisa sampai dua ribu. Satu minggu lain digunakan untuk menulis kotor tiga cerita itu.

Bikin Rumah Samping Makam
Cerita ini terjadi di Ekuador. Seorang lelaki membeli sebuah lahan berjarak lima puluh menit dari rumahnya di pusat kota Quito. Jasad istrinya dimakamkan di sebidang pemakaman umum dan ingin dia pindah ke kuburan keluarga yang tengah dibangun. Suami istri itu tak punya anak, dan orang-orang mengatakan dia gila dan tindakannya percuma. Tinggal di samping makam itu bukan cinta.

Dia mengeluarkan semua tabungan. Lahad istrinya di tengah, sisi kanan disisakan dengan ukuran sama untuk liang kubur dirinya. Sementara sisa lahan di bagian kiri dibangun rumah sederhana. Berdinding kaca dengan kedalaman tiga meter di bawah permukaan. Dia ingin melihat bagaimana jasad istrinya dimakan cacing, terurai, tinggal tengkorak.

Ketika diwawancara sebuah media lokal yang kemudian dikutip situs yang jadi rujukan Joko Tole, lelaki itu berkata dia mencintai perempuannya sampai tinggal nama. Rupanya pasangan suami istri itu sudah lama merencanakan. Siapa yang mati duluan harus jalankan kesepakatan. Selama dua puluh tahun menikah, mereka memilih tinggal di rumah sewaan untuk menabung rumah impian setelah meninggal.

“Mereka bersepakat, bukan benar-benar sesuatu yang muncul usai ditinggal,” kataku memotong cerita Joko Tole.

“Ini baru yang pertama dan kupikir masih ada sangkut pautnya. Tidak mudah menggunakan Google, asal kau tahu,” sungutnya.

“Kuharap kau tidak menginginkan hal itu terjadi padamu, sehingga aku tak perlu dirisak rasa tak enak ketika menyampaikan wasiat pada istrimu.”

Aku sengaja tak bahas perihal Google karena dia selangkah di depanku.

“Aku hanya membuat daftar, bukan berarti menginginkan. Seperti yang kau bilang, itu kesepakatan. Lebih baik kau diam dan dengar cerita ini sampai tuntas.”

Aku mengangguk dan menekuninya. Hari itu istrinya sedang arisan RT dan anak keduanya pergi entah ke mana. Kami punya sore yang panjang untuk berbincang, walau hanya liur yang membasahi langit mulut lantaran niatnya membuatkan kopi tak juga tersulut. Joko Tole memang malas menjadikan tamunya raja. Bisa jadi karena di rumah tak ada apa-apa atau mungkin dia sempat membaca buku Kiat Memanjakan Tamu Bagi Tuan Rumah Perhitungan dan Enggan Kembali Disinggahi.

Joko Tole meneruskan cerita. Lelaki itu berdasarkan informasi yang tertulis, masih belum menyelesaikan rumah impiannya. Dia kehabisan dana. Usai ditinggal mati istri, dia hanya berpikir membikin minimal kamar, untuk bisa melihat kekasihnya bersatu dengan tanah sambil tidur siang. Pekerjaan tak dipikirkan sehingga satu-satunya sumber kebutuhan hanya tabungan. Orang-orang peduli membuka donasi dan dari sanalah para wartawan mengetahui tindak-tanduk si lelaki dan memberikan laporan.

“Jadi?” sergahku penasaran.

“Jadi apa? Ya kita tunggu saja berita selanjutnya. Itu cerita yang aku dapat kemarin dan dari tanggalnya sudah aku cek, benar-benar berita baru,” jawabnya menjelaskan, yang menurutku malah seperti sedia payung sebelum diberi pertanyaan.

“Maksudku, jadi siapa yang nanti memakamkan lelaki itu di sebelah istrinya, jika meninggal. Kalau boleh usul, sebaiknya mati setelah rumah itu jadi. Mumpung masih banyak orang menyoroti.”

“Pintar juga kau!”

Unggah Kesedihan di Media Sosial

Laku satu ini dilakukan pasangan muda-mudi. Desy Lorena, perempuan 23 tahun tewas tertimpa papan reklame yang jatuh di Jalan Jakarta, Kota Bandung tiga bulan lalu. Angin membuat papan reklame setinggi 15 meter bebas dari tiang. Terbang menghantam Desy Lorena yang baru pulang kerja. Kepalanya dua kali ditumbuk; reklame dan aspal.

Pasangannya, Deni Oreo sesal bukan kepalang. Di malam maut itu, dia berencana menjemput Desy Lorena. Lantaran seharusnya libur tapi malah kena lembur, Deni Oreo lupa sampai-sampai ketiduran. Apa lacur, malah malaikat Izrail yang ambil pekerjaan.

Sampai malam ketiga Desy Lorena meninggal, Deni Oreo terus mengunggah status-status sedih kehilangan di akun fesbuk miliknya. Tak jarang di dalam unggahan disertakan foto mereka berdua. Cerita sesal, air mata dan romantis—bagi para perempuan itu, lantas dibagikan hingga ribuan kali. Deni Oreo jadi terkenal dan akunnya dimintai pertemanan ratusan orang.

“Sayank, ratusan org “add” fb aq. Mereka doain qmu. Surga utk qmu,” tulis Deni Oreo di akun fesbuk.

Cerita Joko Tole berhenti di situ. Dia menunjukkan kutipan berita yang dia tulis ulang di catatannya. “Kau tahu tidak, apa yang tertulis di sini?” tanyanya sambil menunjukkan kutipan status Deni Oreo di berita kematian Desy Lorena, “Aku sampai tanya Sinta Sari (anak keduanya) untuk baca tulisan ini.”

Aku hanya geleng kepala dan pasang muka bengong. Aku yakin saat itu dia merasa menang, lagak, lebih tahu perkembangan generasi Milenial. Tapi tak sampai lima kali embusan napas, dia mulai berkisah tentang mahluk bernama Facebook yang digemari istrinya itu. Sering istrinya memberi banyak kabar di sela wajah memaku layar datar telepon pintar, berjam-jam. Saat itu wajah istrinya bercahaya. Bercahaya secara harafiah, bukan rayuan pada perempuan rajin ibadah.

“Katanya, dia sana dia menemukan teman-temannya.”

“Kantor polisi tutup saja,” sahutku.

“Kau boleh asal omong, pandir jangan.”

“Sial.”

Joko Tole bercerita, tak jarang dia cemburu jika istrinya asyik masyuk main Facebook. Malam-malam mereka yang sebelumnya dihabiskan dengan menonton televisi atau pasang telinga di radio dengar campursari, berubah. Menonton televisi memang tetap ditekuni namun sang istri sibuk ketawa sendiri. Pasangan itu pun tetap jadi pendengar setia lagu Sonny Joss, Cak Diqin dan Didi Kempot tapi istrinya lebih sering menelepon penyiar dan menyampaikan salam pada orang tak dia kenal.

Saat Joko Tole mulai bertingkah seperti anak kecil mengingat di mana ibunya menyimpan cokelat, aku buru-buru minta ganti cerita laku ganjil berikutnya.

Mengawetkan Jasad

Seorang ibu di Georgia, Tsiuri Kvaratskhelia mengawetkan anaknya, Joni Bakaradze yang meninggal 18 tahun lalu. Berbekal informasi yang dia dapat, alkohol disulapnya sebagai penawar Joni dari kefanaan. Joni diabadikan di ruang bawah tanah rumahnya. Tak ada alasan lain, dia terlanjur sayang dan tak ingin cepat berpisah dengan si semata wayang.

Tak banyak yang tahu Joni tak pernah dikuburkan. Saban hari Tsiuri menyiapkan setidaknya satu jam untuk mengunjungi anaknya yang baring santai di peti dengan pakaian yang diganti setahun sekali. Konon, jasad Joni tetap seperti pertama kali dia meninggal. Ibunya telaten merawat sehingga tiap hari, anaknya serupa orang habis mandi.

Sayangnya, rasa sayang itu kalah sementara lawan usia. Tsiuri makin tua dan dia makin sering sakit-sakitan. Tinggal berdua bersama si anak—jasad sebenarnya benda mati dan tak bisa dihitung dengan “berdua” orang hidup, tapi rasa sayang selalu punya pengecualian—tak ada orang lain yang bisa membantu Tsiuri mengurus Joni. Dokter pun menyarankan ibu dengan kasih tak terhingga sepanjang masa itu menguburkan Joni.

“Demi kebaikanmu dan anak itu,” kata dokter yang dibalas pelan oleh Tsiuri dengan mengulang perkataan dokter.

Tsiuri pun menjelaskan bahwa ide mengawetkan jasad memang permintaan anaknya. Kemudian pada sang dokter, dia meminta agar mereka dimakamkan berdampingan jika ajal untuknya datang. Sebagai dokter yang senang menyenangkan dan menenangkan, dokter itu mengangguk.

“Yang seperti ini banyak di Indonesia. Ada mumi suku Toraja, atau Kaki More Nusa Tenggara Timur. Apa istimewanya Tsiuri itu?” celetukku.

“Biar lebih keren saja. Luar negeri,” jawab Joko Tole enteng.

“Kau terlalu sembarangan. Kau perlu menyusun ulang daftar itu.”

“Kau boleh bantu aku selesaikan nanti.”

***

Empat puluh hari setelah kami berbincang, Joko Tole meninggal. Aku sedih lantaran jelang masa baktinya pada bumi, dia malah sibuk mengurusi apa yang mungkin dikerjakan orang-orang yang akan ditinggalnya mati. Terakhir kali aku menelepon dua minggu lalu, dia berujar telah menulis daftar sialan itu sampai urutan sepuluh. Otak sengetnya mentok dan dia meminta pendapatku untuk laku ganjil berikutnya. Kubilang saja, mungkin aku akan membantunya minggu-minggu depan, saat ini aku masih sibuk ajak warga bikin yayasan pemakaman. Biaya orang meninggal makin mahal dan lahan pekuburan umum terus kurang. Aku menyesal, seharusnya dia kuajak sekalian.

Di pemakaman, istri Joko Tole meraung hebat. Padahal, ketika Joko Tole wafat Selasa siang, istrinya terus menangis hingga petang. Sampai dimasukkan liang lahad Rabu paginya pun, matanya seperti mata air pegunungan yang jadi sumber air kemasan. Jenazah Joko Tole memang diinapkan semalam, menunggu Toto Hamzah yang kesialan dapat tugas di Timur Indonesia dan kesulitan tiket pulang.

Lepas hari ketujuh Joko Tole mangkat, Toto Hamzah datang ke rumah dan menyerahkan amplop cokelat. Ada pesan dari Bapak, katanya. Ketika dibuka, tulisan “Daftar Laku Ganjil Ditinggal Mati” kelihatan pertama. Aku segera mengambil pulpen, menulis semua yang dilakukan keluarganya dan mencoret kata “ganjil” di judul daftar.

 

Pontianak, Juni 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *