Puisi-puisi Sufyan

New Picture (2)

Sufyan, lahir pada 9 Juli 1985 di Dusun Jurak Daya 002/002, Desa Juruan Daya, Batuputih, Sumenep. Alumni Pondok Pesantren Darul Hikmah Batuputih, Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar dan Raudlatut Thalibin Sumenep dan Universitas Negeri Surabaya ini sekarang mengabdi di SMKN 1 Sumenep sebagai guru produktif Administrasi Perkantoran. Karir kepenulisannya tidak begitu mulus, tetapi ia punya tekad dan keyakinan untuk terus belajar dan menulis.

 

Dermaga

 

Maka aku berlari menuju dermaga
Barangkali masih ada perahu yang tertambat
Tapi mendadak lengang

 

Kemana perahu-perahu itu?

 

Dan dermaga ini hanya menyisakan tiang-tiang sejarah yang rapuh
Aku ragu ini masih bernama dermaga
Sementara sama sekali tak ada perahu
Apalagi orang-orang yang lalu lalang mancari penghidupan atau hendak menuju masa depan.

Wahai lautan! Apa ombakmu terlalu gelombang? Atau aku yang bimbang?

 

#22/09/16

 

 

Surat Ke-1
: Untuk perempuan yang memintaku menjadi laut

 

Setiap kali aku hendak berjalan
Kau tak pernah bosan mengingatkan untuk bershalawat kepada Nabi
Dan merangkum doamu dalam doa-doaku
Pada setiap kata yang kau ucapkan
Benderang serupa purnama memancar di dinding hatiku yang sering temaram.

 

Seperti malam itu
Tiba-tiba kau memintaku menjadi laut
Ketika aku berkisah tentang ombak, buih, gelombang dan kapal-kapal yang enggan berlabuh di dermaga
Kau pun lalu berkisah tentang bahtera Nuh, tentang tongkat Musa, tentang Khidir, juga tentang fir’aun yang tenggelam.

 

“Laut itu tidak biru, dan itu di sini!”, katamu sambil mengelus dadaku.

 

24 November 2016

 

 

Surat Ke-3
: Kepadamu di sana

 

Aku hanya merasa tahu bahwa yang bergulung-gemulung di laut itu bernama ombak bahwa yang berbaris rapi berkecipak seperti sayap angsa itu bernama buih bahwa yang berdiri kokoh tinggi rendah itu bernama karang bahwa yang menghampar seperti putih seperti hitam itu bernama pasir. Seorang gadis membungkuk memungut butiran-butiran beku yang menggigil. Apakah garam? Entahlah.

 

Sementara matamu seperti sepasang jendela. Di sana aku melihat tembok besar membentang sampai jauh. Orang-orang yang lalulalang sama sekali mata mereka tidak mirip seperti matamu apalagi mataku dan mata kami. Tapi aku hanya merasa tahu. Atau malah sok tahu. Tidak pasti tahu.

 

Dan mata kami mulai berkaca-kaca.

 

24 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *