Jame dan Latifa

New Picture (2)

Tjak S. Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di sejumlah media, antara lain Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Radar Surabaya, Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Femina, Padang Ekspres, Pikiran Rakyat, Suara NTB, Lombok Post, Bali Post dan lain-lain. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang, akan terbit bulan Desember, 2017. Mukim di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

Mendapati dirinya masih meringkuk di sofa ruang tamu, membuat Jame merasa bersalah. Ia berusaha bangun dengan kepala pusing dan segera menuju ke dapur di mana Latifa sedang suntuk di depan kompor.

“Sedap sekali sepertinya. Apa kau bisa mendapatkan kakap pagi ini?”

Latifa mengangguk. Beberapa potong ikan kakap segar telah disiapkan di dalam sebuah mangkuk plastik besar. Jame berjanji akan mengantar Latifa ke pasar pagi ini. Mereka telah berencana memasak singang bersama-sama—hal yang sudah lama tidak mereka lakukan di hari Minggu.

“Aku sengaja tidak membangunkanmu. Kau kelihatan letih sekali.”

Jame baru teringat, ia masih menyimpan kunci mobil di saku celananya. Membayangkan bagaimana Latifa sibuk mencari-cari kunci itu pagi ini, membuatnya semakin merasa bersalah. Jarak pasar dengan kompleks perumahan akan cukup menguras keringat jika ditempuh dengan naik sepeda. Tapi dirinya memang sial. Semalam, ia tidak bisa menolak ketika Tirto dan Rudi mengajaknya ke diskotek. Jame baru sampai di rumah sekitar pukul tiga dini hari.

“Apa yang bisa kubantu?” tanya Jame mengusir rasa bersalahnya.

Latifa menuangkan air rendaman asam jawa ke dalam wajan. Harum aroma tumisan bumbu halus menguar ke seluruh ruangan. Sembari terus menumis, Latifa memberikan isyarat dengan telunjuk kepada Jame. Jame segera memasukkan potongan-potongan kecil belimbing sayur yang telah disiapkan oleh Latifa.

“Tolong kemanginya.”

Jame mengambil sejumput daun kemangi yang sudah dibersihkan dan memasukkannya ke dalam wajan. Lalu dengan cekatan Latifa mengaduk-aduk kembali paduan bumbu itu hingga merata. Beberapa saat, setelah kuah berwarna kuning dan mendidih, Latifa meminta Jame memasukkan kakap segar yang telah disiapkan sebelumnya.

“Sekarang saatnya menunggu,” ujar Latifa seraya menutup wajan rapat-rapat.

Sinar matahari menembus atap fiber glass, jatuh menimpa tubuh Latifa yang mulai berkeringat. Ketika matahari terlalu terang, sudut dapur yang sempit itu bermandikan cahaya. Sembari mengusap keringat di keningnya, Latifa menuang teh hangat dari teko ke dalam dua gelas transparan berukuran sedang.

Jame menyesap teh yang baru saja dituang oleh Latifa setelah terlebih dahulu menghidunya dengan mata terpejam. Jame selalu melakukan hal seperti itu jika mendapati makanan atau minuman yang disukainya.

“Pukul berapa sekarang?” tanya Jame, lebih kepada dirinya sendiri. Ia melirik arloji di tangan kanannya. “Sekitar satu jam lagi. Kau ikut menjemput ibu?”

Latifa mengangguk. “Masih ada waktu untuk sarapan.”

Latifa kembali menyesap tehnya. Ia mengenakan t-shirt lengan panjang putih berleher longgar di atas celana olahraga abu rokok. Rambut hitamnya ditahan dengan bando bermotif batik, menampakkan dengan jelas dua tahi lalat di keningnya. Tidak biasanya Latifa memakai bando seperti itu. Jika di rumah, ia terbiasa mengikat rambutnya ke belakang dengan scrunchy kain perca yang dibeli Jame saat pertama kali melihat benda—yang menurutnya— cantik itu di sebuah toko aksesoris. Ketika Latifa membungkuk untuk memeriksa api kompor, Jame menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan penampilan Latifa hari ini.

“Kau baru dari salon, ya?”

“Dua hari lalu.”

Dua hari yang lalu Latifa menelepon Jame untuk memberitahunya bahwa ia akan pulang kantor lebih lambat dari biasanya. Latifa pergi ke salon langganannya dan memotong rambutnya hingga sebatas tengkuk.

Kening Jame berkerut, mencoba mengingat-ingat apa saja yang terlewati olehnya belakangan ini. Sejak mereka menikah, Jame kerap memuji rambut Latifa yang hitam, lebat, dan panjang. Bahkan suatu kali, Jame pernah menolak dengan tegas ketika Latifa meminta menemaninya ke salon untuk memotong rambut. Jame tidak rela jika harus kehilangan mahkota indah di kepala istrinya itu.

“Apa yang harus kita katakan pada ibu nanti?” tanya Latifa.

“Kita tidak harus mengatakan apa-apa dulu. Maksudku, jika ibu menyarankan sesuatu, kita ikuti saja sarannya.”

“Cepat atau lambat kita juga akan mengatakannya, kan?”

Jame melepaskan napas panjang. Sebuah instrumen terdengar dari ruang tamu. Belakangan, sewaktu mereka berada di rumah, Latifa sering mendengar kembali instrumen itu ketika ponsel Jame bergetar di meja ruang tamu atau ketika mereka sesekali berada di meja makan yang sama— biasanya Jame akan meminta ijin kepada Latifa untuk menerima telepon seraya menyebut nama tertentu; terkadang kawan sekantornya, lain waktu mungkin kawan menghabiskan waktu Sabtu-Minggu sorenya di sebuah gym. Ketika mereka menikah tiga tahun lalu, Jame memasang nada dering itu dan mengatakan pada Latifa bahwa ia menyukai lagu itu. Namun suatu hari ketika ponsel Jame tiba-tiba hilang, Jame menggantinya dengan ponsel baru dan Latifa tidak pernah lagi mendengar lagu favorit mereka berdua itu. Kali ini ketika Latifa mendengarnya kembali, peristiwa-peristiwa di tahun pertama pernikahan selintas-lintas muncul dalam benaknya.

Jame bekerja di sebuah perusahaan asuransi yang baru saja membuka cabang di kota ini. Jame pergi ke kantor hingga hari Jumat dan selalu sampai rumah sekitar pukul lima sore. Latifa sendiri sering menambah jam kerjanya di hari Sabtu untuk memeriksa tagihan-tagihan dan mencetak laporan-laporan, atau penawaran-penawaran tertentu dengan sebuah printer yang berdengung di kamar kerjanya. Latifa telah diterima sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan properti.

Ketika ponsel itu berdering ketiga kalinya, dengan tenang Latifa mengingatkan Jame.

“Kau tidak mengangkatnya? Cobalah, siapa tahu itu ibu.”

“Bukan. Ibu biasanya menghubungimu. Itu pasti bukan Ibu,” jawab Jame.

Ibu Jame memang sering menghubungi Latifa. Nyaris setiap Minggu ia menelepon Latifa untuk bertanya apakah segala sesuatunya berjalan dengan baik; apakah urusan-urusan di kantor Latifa berjalan lancar, apakah Latifa dan Jame pergi berlibur di hari Minggu, apakah paketan-paketan kecilnya—lebih sering bandeng presto, dendeng sapi, dan stoples kecil berisi manisan mangga kering— sudah sampai tepat waktu. Di akhir pembicaraan, ibu Jame biasanya bertanya apakah Jame masih menjaga kebiasaannya pergi ke gym atau sekali waktu menyarankan agar mereka berdua rajin mengonsumsi makanan sehat dan mengunjungi dokter kandungan terbaik di kota ini.

Kecuali soal kunjungan-kunjungan ke dokter kandungan itu, Latifa akan menceritakan semuanya kepada Jame, dan Jame mendengarkannya dengan saksama. Seminggu lalu saat ibu Jame mengabarkan rencana kedatangannya, Jame tampak tidak begitu senang. Latifa sendiri lebih memilih untuk bersikap tenang meski dalam hatinya gusar. Ibu Jame mengatakan kepada Latifa bahwa ia akan bertemu kawan lamanya yang kebetulan seorang dokter berpengalaman. Ibu Jame akan mengenalkan mereka ke dokter tersebut. Tidak ada masalah dengan Jame dan Latifa. Nyaris semua dokter yang memeriksanya berkesimpulan bahwa mereka baik-baik saja. Secara medis, mereka adalah pasangan yang subur dan layak mendapatkan anak banyak. Namun bagi ibu Jame, tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menunggu menimang cucu.

“Sepertinya ikannya sudah siap,” ujar Latifa.

Setelah mematikan kompor, Latifa menuang singang ikan kakap itu ke dalam sebuah mangkuk besar. Aroma harum-gurih segera saja mengambang di seluruh ruangan itu. Saat Latifa meletakkan mangkuk besar itu di meja makan, Jame tengah menyendok nasi dari magic com dan membaginya sama-sama setengah dalam piring berbentuk bulat. Pagi itu mereka sarapan dalam diam. Beberapa kali Jame dan Latifa melirik arlojinya masing-masing untuk memastikan bahwa mereka tidak akan terlambat sampai di bandara.

***

Malamnya Ibu Jame berangkat tidur lebih cepat, mengingat keesokan harinya ia harus pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan beberapa urusan. Di ruang tengah udara terasa begitu dingin. Latifa meminta Jame agar menutup pintu dan jendela yang masih terbuka. Setelah mengecilkan volume televisi, Latifa pun beranjak ke kamar.

“Aku mau ke kamar. Kau masih ingin menonton?” tanya Latifa.

Jame belum juga beranjak dari depan televisi. Ia menoleh beberapa saat kepada Latifa tanpa mengatakan apa-apa.

Mereka akan tidur sekamar malam ini. Untuk pertama kalinya sejak satu bulan terakhir, Latifa dan Jame akan bersama-sama dalam satu ranjang lagi. Mereka akan berbagi selimut sebatas sampai dada dan tidur bersisian dengan sebuah guling besar yang membatasi keduanya. Sebelum lampu tidur diredupkan, Latifa akan memakai kacamata dan mulai membaca sebuah serial misteri dari Agatha Christie dalam halaman-halaman tidak berurutan. Sementara Jame, akan mengamati halaman-halaman sebuah majalah gaya hidup dan dengan gusar memerhatikan gambar-gambar pria bertubuh kekar. Mereka terus bertahan seperti itu sampai salah satu di antaranya menyerah dan mengatakan akan melakukan sesuatu yang mesti diterima sebagai sebuah kewajaran pada malam-malam seperti itu. Latifa akan bangkit dari ranjang dan sedikit mengeluh bahwa dirinya tidak bisa tidur sehingga ia perlu pergi ke dapur untuk menyeduh susu hangat. Setelah itu, ia akan menuju kamar kerjanya, membuka laptop dan menonton YouTube apa saja yang bisa menghiburnya hingga ia tertidur pukul tiga dini hari. Sementara itu, Jame akan mengatakan bahwa dirinya merasa gerah, sehingga ia perlu pergi ke beranda untuk duduk dan merokok seraya berbalas pesan-pesan pendek lewat whatsapp dengan seseorang atau siapapun yang entah berada di mana. Ketika matanya mulai tidak kuat lagi menatap layar android, Jame akan masuk ke rumah dan tertidur di sofa ruang tamu hingga esok paginya.

Tapi mungkin hal seperti itu tidak akan terjadi malam ini. Latifa dan Jame telah merencanakan segala sesuatunya. Mereka memasak singang tadi pagi— menu yang jelas-jelas juga merupakan kesukaan ibu Jame. Saat ibu Jame sampai di rumah ini, ia langsung ke meja makan dan menikmati makan siangnya sambil sesekali memuji masakan Latifa. Sorenya, adalah kunjungan dokter seperti yang diharapkan. Jame dan Latifa memasuki ruang praktek seorang dokter, sedikit mengeluhkan sesuatu, menerima sebuah resep, lantas pulang dengan membawa sebuah kartu nama untuk dipamerkan kepada ibu Jame.

Agar segalanya tampak baik-baik saja, malam ini mereka harus bertahan sampai pagi. Di dalam kamar, Latifa sedang duduk menghadapi meja rias. Ia menatap wajahnya cukup lama, sebelum kemudian mencoba menyisir rambutnya. Dulu-dulu, Latifa sering melakukan hal ini. Ia akan memersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum tidur, dan Jame menerimanya dengan senang hati, sebelum kemudian segala sesuatunya menjadi berantakan.

Semua berawal ketika Latifa menemukan video dan foto-foto pribadi dalam ponsel android milik Jame. Butuh waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Jame telah berani melakukan sesuatu yang sama sekali di luar dugaannya.

“Kau harus percaya bahwa akulah yang menginginkannya,. Aku mencoba menghindar tapi tidak bisa. Sudah tidak bisa lagi,” ujar Jame suatu kali.

“Jadi, kau …” Latifa tidak sampai hati melanjutkan kata-katanya.

“Iya, aku dan Efendi memiliki hubungan sejak dulu. Tapi aku berusaha hidup bersamamu, demi ibu. Dan aku minta maaf untuk itu.”

Latifa teringat kembali saat-saat itu. Saat mereka terus menerus mencoba merekatkan sesuatu yang tidak mungkin rekat kembali. Lalu hari-hari berikutnya mereka lewati dengan menciptakan sejumlah sandiwara, hingga memutuskan untuk mengakhiri semuanya melalui pengadilan.

“Aku ke depan dulu, ya,” suara Jame tiba-tiba di ambang pintu kamar.

Latifa tidak menjawab, ia hanya menoleh sebentar. Selang beberapa saat, sebuah instrumen yang sangat dikenalinya bergetar dalam ponsel Jame. Kali ini Jame mengangkatnya.

“Ya, halo. Hai…”

“Iya. Maaf, maaf…”

Sebelum suara-suara itu terdengar semakin sayup dari dalam kamar, Latifa memasang headset dan memilih sembarang lagu di dalam ponselnya. Lalu ia memakai kacamata dan berusaha membaca sebuah serial misteri dari Agatha Christie.()

 

Mataram, 10 September 2016

 

Singang merupakan makanan khas tradisional Sumbawa yang berbahan ikan segar baik itu ikan laut maupun ikan air tawar, yang dibumbui berbagai macam rempah. Selintas penampilan singang mirip dengan gulai ikan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *