Hari Puisi Sedunia dan Semangat Gerakan Literasi

FB_IMG_1521690506429

Oleh: Iman Sembada, pegiat seni dan budaya. Aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI)

Puisi telah menjadi peradaban dunia. Puisi memiliki peran penting dalam sejarah, seni dan kebudayaan manusia, dari dahulu hingga kini. Unesco menetapkan Hari Puisi Sedunia pada November 1999 ketika penyelenggaraan pertemuan Unesco di Paris, Prancis. Tapi, peringatan Hari Puisi Sedunia pertama kali pada 21 Maret 2000. So, tahun ini merupakan perayaan Hari Puisi Sedunia ke-18.

Perkembangan puisi di Indonesia sangat pesat. Banyak bermunculan penyair-penyair muda yang punya bakat yang kuat. Di antara penyair-penyair muda itu, bukan tidak mungkin, akan mencatatkan nama dalam peta kesusastraan Indonesia, khususnya puisi. Ini sebuah fenomena yang menggembirakan. Semangat dan kreativitas semakin tinggi mestinya, karena persaingan pun semakin ketat. Tentu saja yang diharapkan adalah persaingan yang sehat.

Dengan adanya persaingan sehat semacam ini akan muncul penyair yang tanggung dan kuat dalam pengusung prinsip dan idom-idiom baru. Masyarakat sastra tentu rindu pembaruan-pembaruan. Pembaruan tidak bisa didapat secara tiba-tiba, melalui proses yang panjang dan berdarah-darah bisa dicapai sebuah pembaruan.

Tidak ada proses yang sia-sia. Segala sesuatu mengalir sesuai dengan masing-masing prosesnya. Maraknya penerbitan puisi, antologi tunggal atau antologi bersama) juga merupakan katalisator yang besar peranannya. Penerbitan antologi puisi bukan sekadar narsisme dalam khazanah perpuisian Indonesia. Bukan puisi sekadar penanda eksistensi seorang penyair, tapi adalah lebih dari itu. Penerbitan antologi puisi, terutama antologi puisi tunggal, adalah sebuah tonggak kreativitas seorang penyair.

Bagi seorang penyair, menerbitkan antologi puisi tunggal, tentu bukan sekadar trend atau gaya-gayaan belaka. Buku antologi puisi tunggal menjadi parameter kepenyairan seseorang, maka pemilihan puisi dilakukan secara ketat sejak awal, tak jarang seorang penyair mencari kurator untuk memilihkan puisi-puisi yang akan diterbitkan – ini jika penyairnya menerbitkan secara indie. Lain halnya jika diterbitkan oleh penerbit besar, kurasi sudah dilakukan oleh pihak penerbit.

Siapa yang akan membeli buku puisi? Ini sebuah pertanyaan mendasar, namun tidak bisa dipungkiri. Pertanyaan ini seakan-akan menjadi pertanyaan abadi alias pertanyaan yang sulit menemukan jawaban. Ya, buku puisi dinilai kurang laku, buku puisi bukan jenis dagangan dalam kategori produk yang laris manis. Buku-buku puisi mangkrak di rak di toko-toko buku. Kecuali beberapa penyair senior yang punya nama besar yang pulaunya diburu pembaca dan pencinta puisi.

Demikian juga penerbitan-penerbitan buku antologi bersama memiliki peran yang sangat penting dalam kontribusi peningkatan produktivitas penulisan puisi di Indonesia.Jumlah buku antologi puisi bersama menunjukkan gejala peningkatan, meski biasanya pembiayaan-pembiayaan ditanggung bersama secara gotong royong.

Meskipun buku antologi bersama dan dibiayai secara gotong royong, namun tak lepas dari sistem kurasi. Sistem kursi ini dinilai sangat penting. Tentu puisi-puisi yang layak dan memiliki kualitas yang baik dan menyuguhkan pembaruan yang akan terpilih dan berhak turut dibukukan dalam antologi bersama. Sebab yang terpenting adalah kualitas, bukan kuantitas semata.

Semangat gerakan literasi di Indonesia makin meningkat, semoga ini akan meningkatkan juga minat membaca dan menulis di masyarakat. Pepatah “Bahasa menunjukkan bangsa” harus bisa kita wujudkan dengan nilai-nilai positif. Semangat berliterasi ini jangan sampai surut atau padam. Dengan memajukan literasi, tentu akan terhindar sebagai penghianat bahasa.

Selamat merayakan Hari Puisi Sedunia (World Poetry Day)……

Depok, 21 Maret 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *