Pak Tua di Taman

New Picture

Erwin Setia lahir tahun 1998. Pembaca puisi dan prosa selain tentu saja menulis karya sastra genre tersebut. Kini bermukim dan bergiat di Bekasi, tepatnya Tambun Selatan. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa seperti Minggu Pagi, Solopos, Medan Pos, dan Cendana News. Bisa dihubungi melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

 

Orang-orang mengenal lelaki tua berkacamata yang rutin membawa tongkat dan buku itu dengan sebutan Pak Tua. Tiap jelang senja ia datang dari arah timur, dari rumahnya yang hanya berupa gubuk kayu, menuju kursi panjang di bawah pohon. Ia akan duduk sambil matanya menatap buku seolah pembaca paling tekun. Ketika matahari tenggelam, ia akan bangkit dan kembali ke rumah, untuk kemudian mengulang rutinitas tersebut keesokan harinya.

Tidak ada yang tahu nama asli lelaki itu. Karena manusia memerlukan nama agar mudah mengidentifikasi orang lain, maka diberilah ia nama Pak Tua. Perihal siapa orang pertama penyemat sebutan itu untuknya, juga tak ada yang tahu. Sebutan Pak Tua memang pantas untuknya. Paling tidak dilihat dari rambutnya yang telah memutih, bungkuk punggungnya, dan langkah-langkah kakinya yang tertatih-tatih.

Di antara beberapa bagian taman—perosotan, jungkat-jungkit, air mancur sederhana, rumpun bunga, patung kecil berbentuk anak kecil bersayap memainkan terompet—Pak Tua hanya meminati tempat duduk. Ia tak pernah kelihatan memedulikan bagian-bagian lain dari taman. Tampaknya ia sudah sangat nyaman dengan kursi kayu yang cat coklatnya agak mengelupas. Barangkali senyaman seorang lelaki paling setia di muka bumi dengan istrinya yang perlahan-lahan bertambah renta.

Selain Pak Tua, anak-anak dan muda-mudi menjadi pengunjung rutin taman. Anak-anak menyukai taman itu karena perosotan dan jungkat-jungkit. Mereka saling dorong, tertawa, dan menangis, sebagaimana lazimnya anak-anak. Sedangkan muda-mudi mengunjungi taman lebih karena tempat itu cocok untuk bermesraan. Mereka selalu datang berpasangan dan bergandengan tangan. Biasanya si pemuda lebih tinggi dari si pemudi. Suatu kali pernah ada pemuda yang tinggi tubuhnya hanya sedada si pemudi. Tapi itu teramat jarang, sejarang jumlah perempuan yang mau mencintai seorang lelaki apa adanya.

Rumpun bunga menjadi bagian paling mencolok taman itu karena warnanya cerah dan jumlahnya banyak. Kupu-kupu, capung, dan aneka serangga kecil senang menghinggapi kerumunan kembang cantik. Selain menjadi saksi bagi kecintaan serangga-serangga pada tubuhnya, rumpun bunga juga acap menjadi saksi bagi kata-kata romantis. Kata-kata romantis yang diujarkan para pemuda kepada pemudi pujaan hatinya. Biasanya si pemuda akan berdiri di hadapan si pemudi. Lalu berlutut, mendongakkan kepala seperti pemuja di kuil sedang berdoa, dan menjulurkan sekuntum bunga atau kotak beludru berisi cincin atau semisalnya, diikuti dengan ungkapan-ungkapan cinta. Bagi rumpun bunga, itu hal yang teramat biasa. Begitu pula bagi Pak Tua yang berjarak sepelemparan kayu dari rumpun bunga. Namun, Pak Tua tak pernah terlalu menghiraukan apa pun selain buku di genggamannya. Ia menoleh secukupnya saja pada romantisme muda-mudi, menganggapnya tak lebih lalat yang mampir ke batang hidung.

Kucing-kucing suka berlalu-lalang di taman. Dan merekalah yang sanggup mengusik ketenangan Pak Tua. Jika ada seekor kucing—dari jenis apa saja dan ukuran berapa saja—melintas di hadapannya, Pak Tua seketika menjadi galak. Ia akan mengusir kucing-kucing itu dengan tongkatnya. Kepada kucing-kucing yang ngeyel, ia tak sungkan memukul lambung kucing dengan tongkatnya, atau menendang dengan kakinya yang lungkrah.

“Ma, lihat, Pak Tua itu jahat sama kucing. Padahal ‘kan kita tidak boleh memukul binatang yang tidak bersalah.”

“Mungkin kucing itu mengganggu Pak Tua, Nak. Jadi. Pak Tua memukulnya agar kucing itu mendapat pelajaran dan kapok.”

“Tapi tetap saja, Ma. Itu perbuatan jahat. Apakah kalau aku mengganggu Mama, Mama juga akan memukulku agar aku mendapat pelajaran dan kapok?”

“Tentu tidak, Nak. Kamu ‘kan bukan kucing. Kamu anak kesayangan Mama.”

Ibu muda dan anak keci laki-laki itu memerhatikan Pak Tua dari jauh. Pada mata si anak, ada pancaran ketakutan dan kengerian. Sementara di mata sang ibu, tampak tertanam rasa iba dan kasihan kepada Pak Tua. Keduanya memerhatikan Pak Tua, hingga Pak Tua sadar ada yang sedang memerhatikannya dan berbalik menatap dengan pandangannya yang polos dan tajam dari balik kacamata. Bila sudah begitu, ibu muda dan anaknya akan mengalihkan pandangan, lalu berjalan menjauh seolah-olah takut Pak Tua akan mengejar dan menangkapnya.

Pak Tua tidak mengenakan jam tangan dan tampaknya juga tidak peduli pada waktu. Tapi, ia sangat patuh pada senja yang pelan-pelan sirna di langit barat. Ketika matahari terbenam—dari bulan ke bulan waktunya bisa berubah hingga beberapa menit—ia akan langsung menutup bukunya. Mengambil tongkat yang disandarkannya pada ujung kursi, kemudian berjalan menuju ke rumahnya yang tak jauh dari taman. Saat berjalan pulang, kepalanya sesekali menengadah ke sisa-sisa senja di langit seperti seorang anak yang pamit pada ibunya.

Ia melewati jalan setapak taman tanpa menengok dan menyapa siapa pun. Bahkan, ketika beberapa orang menegur dan menyapanya, ia mendiamkannya saja. Sebetulnya ia tak sepenuhnya diam. Ada suara tongkatnya mengetuk-ngetuk jalan yang terbuat dari batu. Tetapi orang-orang tentu tak menganggap ketukan tongkat sebagai sebuah tanggapan. Mulanya orang-orang merasa kecewa dan sakit hati diabaikan, namun lambat laun mereka terbiasa. Mereka tetap berusaha ramah dan menyapa Pak Tua, meskipun Pak Tua tampak sama tak acuhnya dengan tongkat dan batu-batu yang terserak di jalan.

Di ambang pintu keluar yang sekaligus pintu masuk, Pak Tua akan menarik gerbang taman dengan gerakan yang membuat orang lain iba. Ia sangat lambat dan orang-orang tak pernah suka pada hal-hal lambat. Dengan muka ramah, orang yang kebetulan juga hendak keluar menawarkan diri membantu Pak Tua. Namun ia selalu menolak dan memilih menarik gerbang dengan tangan sendiri. Itu artinya ia akan bersusah payah dan orang-orang hanya bisa menyaksikan kelakuannya dengan menyimpan kejengkelan di dalam hati. Begitu gerbang terbuka, dengan paras masa bodoh ia menutup gerbang seperti semula, membuat orang-orang harus membukanya kembali dari awal. Ia melenggang menuju rumah yang bagian depannya telah terlihat dari depan gerbang taman. Sementara orang-orang di belakangnya bergeleng-geleng sambil mengumpat lewat lidah batin.

“Maklumi saja. Orang tua memang suka begitu.”

Selalu ada orang bijak di antara orang-orang yang sedang berang.

Pada suatu sore ketika cuaca berangin dan awan-awan menebal di cakrawala, Pak Tua tidak ada di taman. Itu kali pertama Pak Tua absen menghadiri taman sejak bertahun-tahun silam. Tak ayal orang-orang mempertanyakan ketakhadiran Pak Tua. Mereka saling melempar tanya, namun tak ada yang mengetahui jawabannya. Salah seorang—lelaki muda—di antara mereka mencetuskan ide, “Sebaiknya kita jenguk Pak Tua langsung ke rumahnya.”

Maka berduyun-duyunlah orang-orang terdiri dari muda-mudi, anak dan ibunya, orang-orang tua, lelaki dan perempuan dewasa yang sekadar membuang waktu di taman sepulang dari kantor, meninggalkan taman. Kini, taman bagai rumah besar yang ditinggalkan para penghuninya pulang ke kampung halaman.

Orang yang tadi mencetuskan ide mengetuk pintu rumah Pak Tua. Ia mengetuknya beberapa kali, begitu pula orang-orang membantunya dengan memanggil Pak Tua. Beberapa menit lamanya dan tetap tiada sahutan. “Bagaimana jika kita dobrak saja rumahnya?” saran lelaki muda itu.

Namun, rupanya pintu itu tak terkunci. Lelaki yang sedari tadi paling bersemangat, membuka pintu dan menjadi orang pertama yang masuk.

“Lihat itu! Pak Tua itu!” seru salah seorang perempuan tua menunjuk ke sudut ruangan. Di situ, Pak Tua sedang duduk di atas kursi yang sepertinya sama tuanya dengan dirinya. Kepalanya terkulai ke arah pegangan kursi, sedikit menjulur seperti tangkai bunga yang layu. Tongkatnya tersandar di samping kursi. Bukunya jatuh telungkup ke atas lantai.

Orang-orang menghampiri dan mengerumuninya.

“Ia sudah mati,” kata lelaki muda setelah memeriksa denyut nadi dan kelopak matanya.

Tanpa alasan yang sungguh dapat dimengerti, orang-orang yang ada di sana, di dalam ruang pengap rumah Pak Tua, mendadak bersedih bersamaan.

Seorang ibu muda memungut buku dari lantai, buku yang biasa Pak Tua bawa sewaktu ke taman. Dalam buku itu, penuh foto-foto. Foto-foto Pak Tua bersama seorang perempuan yang sepertinya adalah istrinya. Pada beberapa foto, seekor kucing putih-hitam berpose di tengah-tengah mereka. Di halaman terakhir buku itu, tampak tulisan tangan dalam huruf-huruf kapital dengan tinta yang sedikit luntur. Ibu muda membaca tulisan beberapa baris itu, mendekap anak lelakinya, lalu menangis.

KUCING SIALAN! SEHARUSNYA KAU TAK USAH KELUAR KE JALAN RAYA PAGI ITU! SEHARUSNYA ISTRIKU MASIH HIDUP! SEHARUSNYA IA TAK USAH MENJEMPUTMU KE JALAN! SEHARUSNYA MOBIL ITU TAK PERNAH MENABRAK ISTRIKU! SEHARUSNYA KAU SAJA YANG MATI!

Samar-samar terdengar kucing mengeong. (*)

Bekasi, Agustus 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *