PUISI 

Puisi Luka di Atas Kereta

Puisi-puisi: Dedi Tarhedi _____________________________________________________________________

PUISI LUKA DI ATAS KERETA

Puisi luka menjerit pada gerit rel kereta api Tasikmalaya-Surabaya
Helai- helai kenangan rontok seperti rambutmu setelah kemoterapi di sana.
Dari Madiun sampai Gubeng, kulihat pohon, sawah dan sungai mengalir ketenangan. Tapi tak membuat kegembiraan di wajahmu yang kesakitan.
Kau menjadi penunggu waktu yang ragu. Wajah ajal menimpa siapa saja. Sakit dan sehat hanya sebutan. Sedang usia sebutan lain yang berbeda bab dan pembahasan.
Walau begitu, aku selalu lesu mengenang saat-saat itu.

Oktober 2021

 

PEKALONGAN

Menuju Lolong, tempat dulu Ebiet pernah berkemah, senja harusnya sumringah.
Tapi aku jauh dari gairah.
“Tinggal selangkah,” bisiknya pasrah.
Jembatan batu menjadi kaku seperti tatapannya padaku Pancuran bambu mengalirkan deras rindu di jantungnya bertalu. Aku pun tahu.
“Kumohon tidak sekarang,” kataku. Waktu merambat cepat. Merampas semua kesempatan bebas. Seperti kancing bajunya yang lepas.
Aku suka tempat dingin ini, dibanding
Jakarta atau kota besar lainnya. Matahari tak mampu menembus
hutan sunyi, tempat lahirnya bait puisi.
Tapi aku tak bisa berlama-lama, walau hutan ini begitu pesona.
“Maafkan aku” kuyakinkan dia.
Tiba-tiba hutan gerimis, matanya pun gerimis.
Kadang senja tak selalu manis.

0210021

 

MENUNGGU

Harus kutulis berapa puisi lagi agar kau datang malam ini?
Minta kunyanyikan berapa lagu, agar kau terhibur syahdu? Sedang irama langkah terdengar semakin gundah
Mesti kupetik kunci nada apa agar harmoni bisa tercipta? Sementara suara harpa semakin mengetuk dada.
Malam semakin pudar
Bulan semakin bundar
Tapi belum juga ada kabar.
Kuyakinkan padamu, saat kau mengetuk pintu. Semua terhidang di meja rindu.

2021

 

SEPERTI TONGKAT SULAIMAN

Tak ada yang mampu menghapus keriput di tubuh waktu, jejak peta masa lalu.
Mata payah dijajah abjad, angka dan warna-warna purba.
Yang nampak pucat dan bias, begitu terasa batas-batas.
Walau wajahmu tetap kulihat tegas.
Lalu anak-anak kita pergi tinggalkan beranda. Tinggal berdua, merapikan kenangan, menutup album luka dan mengunyah ompongnya hari.
Dengan ranjang reyot, masihkah bisa bahagia?
Manisku, engkau tetap juwitaku.
Dulu kau harum parfum dengan dada ranum. Kini bau minyak gosok dengan dada tak lagi montok.
Ya, kau pun tahu. Semua dirayap waktu, lebur pelan-pelan seperti tongkat Sulaiman.

2021

 

 

Dedi Tarhedi, lahir di Bandung, 6 April. Buku puisi yang sudah terbit; Hidup Makin Tak Mudah, Kereta Nisan, dan Ning. Buku puisi Ning masuk nominasi Buku Puisi pilihan di HPI (Hari Puisi Indonesia) di Jakarta 2018.

Buku Puisi terbaru Dili Tak Kembali, 2020 masuk pula nominasi HPI 2020. Pada HPI 2021, buku puisi Ibu, Kota, Kenangan masuk 5 buku pilihan.

Sehari-hari Om Dedi, biasa dipanggil rekan kantor dan kawan seniman di Tasikmalaya, bekerja selaku PNS/ASN.

Alamat email: deditarhedi66@gmail.com

Related posts

Leave a Comment