CERPEN 

Perempuan yang Diburu Kenangan

Cerpen Ahmad Tadi N*

________________________________________________________________

 

Sampai saat ini, kau masih belum bisa melupakan kenangan itu. Kenangan yang

terkadang menggenangkan air mata di pelupuk mata. Meski sudah berapa kali kau berusaha

melupakannya, kenangan itu akan selalu hadir, nyaris menyerupai kedipan matamu.

Kenangan itu terlalu pekat. Terlalu dalam. Terlalu menetap. Dan kau tak mampu merawat

dengan tepat.

Dalam kamar yang sepi, kau sempat membayangkan andai kenangan bisa ditukar pada

orang lain, sedari dulu kau sudah melakukannya. Kau tak akan buang-buang waktu, disia-

siakan sedikitpun tak ‘kan kau beri kesempatan. Hanya saja, sampai saat ini kau masih belum

mendapatinya. Kenangan hampir sama dengan rezeki; sudah ada tempatnya dan tidak

mungkin tertukar. Begitu kau meyakini meski lebih terasa perih.

 


Foto diambil dari statistik.jakarta.go.id

————————————————

 

Setiap waktu, kau dirundung kenangan itu. Hampir saja kau mau mengakhiri hidup

hanya karena kenangan. Jika bukan karena Devi—anak perempuanmu yang berusia tiga

tahu—sedari awal kau memilih menggantung diri di langit-langit kamar. Kau lelah dengan

kenangan itu. Memilih pasrah. Benar, ibumu tak pernah mengajarkan hal itu. Hidup itu bukan

tentang dirimu, tetapi tentang mereka yang dekat denganmu. Tak ada kehidupan tanpa

kenangan, tak ada kenangan tanpa kehidupan. Itu pesan ibu yang kerap kau dengar sepulang

dari surau mengaji, dulu.

 

Berkali-kali kau membayangkan untuk mengakhiri hidup, tetapi selalu urung. Kau tak

sanggup meningggalkan Devi. Terlalu dalam kau menaruh harapan padanya. Terlalu pekat

rasa sayangmu padanya. Suatu waktu, ketika kau hendak membuat Devi tidur di kamar, kau

memaku pandang pada langit-langit kamar, menatap kayu usuk yang tampak sangat kokoh

dan kuat untuk menggantungkan tubuhmu. Lagi-lagi pikiran edan itu terpental ketika

tatapanmu mengarah wajah polos Devi.

 

“Bunda belum tidur?” kau terkejut ketika mendengar suara putrimu. Kau tidak bisa

mengelak dari pertanyaan anakmu, kau tertangkap basah.

 

“Bunda belum ngantuk, Nak,” jawabmu sekenanya, sambil sesekali mengucek mata.

“Ya sudah, Devi tidur duluan, tapi bunda harus tidur.”

Kau mengangguk pelan, “Iya, Nak,” susulmu kemudian lirih.

 

Kau benar-benar tidak bisa melupakan kenangan dan mengakhiri hidup. Kesia-sian

akan mengekori hidup putrimu kelak ketika ia dewasa. Dua kata yang seolah menjadi karib

dekat, dan apesnya kau tidak bisa menghindarinya. Lagi-lagi kau berpikir, andai ada penjual

kenangan, cepat-cepat kau akan mendatangi tempat itu dan membeli salah satu

kenangan—meski sama-sama kenangan, setidaknya tak sama dengan milikmu sekarang.

Pedih!

 

Tatapanmu masih terpaku pada kayu usuk yang memanjang di langit-langit kamar,

sambil mengingat kembali tali yang pernah kau simpan dalam lemari bagian atas. Anganmu

seketika terpatri pada dirimu yang menggantung menahan cekikan kuat.

Saat matahari setinggi jendela kamar, kau membangunkan Devi dalam lelapnya.

Karena kau akan mengajaknya pergi ke pasar untuk berjualan hasil ladang belakang rumah.

Tadi sore kau menyempatkan diri untuk memanen ubi-ubian dan singkong demi sesuap nasi

putri tercintamu. Lagi-lagi, kau teringat kenangan itu, sampai-sampai kau hampir

membatalkan diri untuk pegi ke pasar.

 

“Bunda ayok berangkat, nanti kesiangan,” ajak putrimu di ambang pintu sambil

menunjuk arah pasar.

“Iya, Nak, bunda sudah siap,”terpaksa kau berbohong demi menutupi kecelakaan dalam

pikiranmu.

 

Sempat kau berpikir keras, andai tak ada putrimu, mungkin kau sudah memilih mati

daripada hidup dihantui kenangan taik yang tak henti-henti mengelabui. Kau lelah dengan

cara kenangan itu bekerja. Bosan dengan cara kenangan itu bertandang. Benci pada pencipta

kenangan yang hampir menjadikanmu bunda tidak becus mengurusi anak.

 

Pada Mbah Nyiuk, sesekali kau bertanya perihal kenangan padanya tatkala ngobrol di

pasar. Mbah Nyiuk adalah orang-orang pasar yang—suatu kali kau pernah mendengar

ceritanya—nyaris senasib dengan dirimu. Katanya, beberapa waktu lalu, ia pernah hidup

dengan seorang anak lelaki hasil hubungan liar. Katanya lagi, Mbah Nyiuk kejora desa yang

diperebutkan para perjaka, duda-duda atau bahkan para suami hidung belang, dulu.

 

Semasa menjalani hidup, memilih bunuh diri hampir setiap waktu mendatangi

pikirannya. Setiap kali melewati geladak sungai Ajung, pikiran Mbah Nyiuk selalu berkata,

“Lompat saja, hidupmu tidak berati, kalau tidak, kau akan diolok-olok warga kampung

 

Gedangan.” Karena itu pula, hampir saja Mbah Nyiuk dijuluki orang gila. Selain berbicara

sendiri, Mbah Nyiuk kerap kali memukul kepalanya keras-keras.

 

Bahkan orang-orang desa pernah suatu kali memergoki Mbah Nyiuk bersiap-siap untuk

melompat. Tapi untung saja, Pak Kadir, lelaki yang juga tertarik pada Mbah Nyiuk sewaktu

muda memanggil dengan lantang dari arah selatan sungai.

 

“Kau gila, ya?” cepat-cepat Pak Kadir menarik baju dan mengoloki Mbah Nyiuk

dengan umpatan keras.

 

“Aku bosan hidup, Dir, kau tidak tahu rasanya menjadi diriku,” Mbah Nyiuk membela

diri dan membernarkan penjemputan ajal tadi.

 

“Kau gila, apa yang membuatmu bosan hidup?”

“Kau tidak akan mengerti, setiap hari aku selalu dihantui kenangan menjijikan itu.”

“Seharusnya kau menyukuri punya kenangan seperti itu, karena tidak semua orang bisa

memiliki kenangan.”

“Kau yang gila, aku disuruh mati diburu kenangan!”

 

Setiap kali Mbah Nyiuk menceritakan cerita perihal dirinya, kau selalu menemukan

cara untuk bertahan dan melawan kenangan itu. Kenangan yang memang tidak sama dengan

yang dialami Mbah Nyiuk, tetapi perih dan pedihnya nyaris seleting.

 

Dari hal itulah, kau merasa memiliki teman yang sama dengan dirimu, sebab memang

tidak mungkin kesempatan memiliki kenangan bakal dimiliki banyak orang. Bisa saja orang

lain melupakan kenangan pahit, karena teramat banyak kenangan manis menjumpai. Tetapi

tidak dengan dirimu dan Mbah Nyiuk, kenangan manis seolah tidak legowo masuk akibat

kenangan-kenangan pahit dan menjijikkan itu memagari kepalamu. Lagi-lagi membunuh

hidup mendatangi kepalamu kesekian kali.

 

Sesampainya di pasar, sedetik pun kau tidak menemukan Mbah Nyiuk. Awalnya kau

berpikir Mbah Nyiuk sedang libur dagang. Karena dua hari yang lalu sempat mengeluhkan

sakit punggung dan kerap batuk-batuk serak.

“Mbah Nyiuk kok tidak di tempatnya, Bun?” tiba-tiba putrimu bertanya perihal Mbah

Nyiuk.

 

“Paling Mbah Nyiuk sakit, Nak, jadinya libur dagang.” putrimu mengangguk

memoncongkan bibir pertanda kehilang teman.

“Devi tidak punya teman lagi, Bun.”

“Devi masih banyak teman kok, anak Buk Tris kan pernah bermain bersama.”

“Iya, tapi dia nakal, Bun, Devi tidak mau punya teman nakal.”

 

Kau merasakan kehilangan yang dirasakan putrimu. Benar-benar merasakan pedihnya

kehilangan yang dirasakan putrimu. Belum sempat kau bertanya pada putrimu, kenangan itu

kembali hadir dan menuntunmu ke sungai Ajung dan menjatuhkan diri dan mati begitu saja

dimakan ikan-ikan dan kau tidak lagi bertemu dengan Devi, putri sematawayangmu, dan akan

selamanya kehilangan kenangan itu dan kau tak akan mengingat kenangan anyir itu lagi.

Cepat-cepat kau menghapus lamunan sesat di kepalamu. Kembali padanganmu

menyisir semua orang, tetap saja kau tak menemukan Mbah Nyiuk. Kau pun merasa sedih,

tak ada orang lain yang sebaik Mbah Nyiuk dengan senang hati menceritakan pengalaman

hidupnya.

 

Dari Mbah Nyiuk pula kau banyak belajar arti kehidupan. Dalam hidup tak ada

kematian yang disengaja, semua sesuai porsi dan waktunya. Mau berusaha sekuat apapun

mengakhiri hidup, jika Dia tak berkehendak, apalah arti usaha.

Di dekat tempat jualan Mbah Nyiuk, ada seorang perempuan setengah baya jadi sorotan

mata. Perempuan itu tak henti-henti berkata “Nyiuk, ibuku mati karena kenangan menjijikan

di kepalanya.”

 

Apa benar perempuan itu putri Mbah Nyiuk? Apakah kau akan mati senasib dengan

Mbah Nyiuk? Pertanyaan-pertanyaan gila kembali menghantui kepalamu

“Bukannya bunda juga punya kenangan?” tanya putrimu. Kau memilih bungkam tak

menjawab, karena tak ingin mengingat gerakan tangan menggenggam pisau yang mencacah

tubuh suamimu di malam gelap.

 

Annuqayah Lubangsa, 13 Juni 2022 M.

-Teruntuk yang terkasih, Arina Maulidia 03 Juni 2022

 

 

______________

*Penulis merupakan alumni SDN Sukogidri 1, Sukogidir,i Ledekombo, Jember, MTs Nurul

Mannan, Sukogidiri, Ledekombo, Jember, Sekolah Menengah Atas (SMA) Annuqayah dan

Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Insntika) Studi Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) Guluk-

Guluk, Sumenep, Jawa Timur. Tulisannya berupa, esai, resensi, dan cerpen yang termuat di

pelbagai media offline dan online. Aktif di Organisasi Ikatan Santri Annuqayah Jawa (Iksaj),

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Instika, Redaktur Majalah Fajar Institut Ilmu Keislaman

Annuqayah (Instika), Komunitas Nulis (KCN)-Lubsel, Komunitas Penulis Kreatif (KPK)-

Iksaj, Lesehan Pojok Sastra (LPS)-Lubangsa. Bisa berkomunikasi lewat Email:

azzamdy09@gmail.com dan IG: @muhtadi.zl09.

Related posts

Leave a Comment

nineteen + 10 =