PERISTIWA 

RITUAL GAYO WARNAI GELARAN SENI ISLAM

JAKARTA (Litera) — Ritual tepung tawar oleh Kumunitas Kopi Gayo asuhan Fikar WEda di selasar Teater Kacil TIM menandai  ujung rangkaian acara Pergelaran Seni Islam selama tiga hari berturut-turut, 25-27 November 2022.  Mereka yang mendapat ritual tersebut adalah Jose Rizal Manua, Herman Syahara, Nana Sastrawan, Ical Vigar, Oktavianus Mahesa, dan Rifqi Petra.

Acara yang diselanggarakan oleh Yayasan Hari Puisi (YHP), bekerja sama dengan Sanggar Matahari, ini diisi seminar sastra Islam, diskusi, pertunjukan musikal sufisme puisi Sutardji, dan pergelaran seni Gayo. Perhelatan  ini didukung antara lain oleh Dispusip DKI Jakarta.

Hari pertama, Jumat, diisi oleh Seminar Sastra Islam di panggung Teater Kecil dengan pembicara Maman S Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, dan moderator Herman Syahara. Malamnya, panggung sepenuhnya dikelola Sanggar Matahari untuk pentas uji coba Musical Sufisme yang sudah seperti pentas yang sesungguhnya. Pentas uji coba ini dikomandani oleh penyair Fikar WEda.

Hari kedua, mulai pukul 14.00, diisi diskusi puisi Sutardji Calzoum Bachri di selasar Teater Kecil, yang diikuti para siswa dan guru dari berbagai SMA di Jakarta. Sebagai pembicara Maman S Mahayana dan Dadies Putra Siregar, dengan moderator Nana Sastrawan. Malam harinya, pertunjukan Musical Sufisme. Aspek-aspek sufistik puisi-puisi presiden penyair Indonesia ini dikemas dan disajikan secara musical oleh Sanggar Matahari secara apik. Penonton seperti tersihir oleh nuansa sufistik puisi Sutardji.

Hari ketiga, Sabtu, pukul 14.00, diisi Pergelaran Sastra, Sufi, dan Kopi, dan diawali diskusi dengan topik Tradisi Minum Kopi Kaum Sufi bersama Dr Juhdi Syarif dan Filosofi Kopi Kaum Sufi bersama Bastian Zulyeno PhD di selasar Teater Kecil, dengan moderator Fikar WEda. Malamnya ditutup dengan ritual Tepung Tawar, pertunjukan baca puisi, dan happening art Doa Sengkewe. Jose Rizal Manua, Ical Figar, dan Herman Syahara, berkolabortasi dengan Komunitas Kopi Gayo, lumer dalam puisi sufiatik.

 

Tak Perpisahkan

Dalam diskusi, Juhdi Syarif mengatakan, kopi dan sufi merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Penyebaran kopi ke seluruh dunia diyakini berkat upaya kaum sufi. Kesimpulan ini telah banyak diutarakan oleh para peneliti. Antara lain oleh Bennet Alan Weinberg dan Binnie K Bealer. Menurut mereka, kaum sufi mengosumsi kopi untuk membantu mereka terjaga dari tidur. Tejuannya agar mereka tetap dapat beribadah. Ini dibenarkan oleh Bastian yang bercerita tentang tradisi minum kopi di sejumlah negara.

Mengawali dengan Seminar Sastra Islam, Ahmadun mengangkat topik pentingnya reaktualisasi sastra religius, dan Maman menyempurnakannya dengan menelusuri tradisi sastra Islami di nusantara. “Perjalanan sastra Islami sangat penjang hingga ke masa kini. Perlu kita menelusur sejarah itu, dan mengenali penyair-penyairnya dengan baik,” kata Maman selaku penggagas kegiatan tersebut.

Menurut Ahmadun, sastra Islam atau sastra Islami masih meninggalkan diskusi panjang. Karena itu, dia berangkat dari istilah religius untuk menghindari batasan-batasan yang bersifat teologis. Sastra religius, menurutnya, adalah karya sastra – prosa maupun puisi — yang memancarkan semangat untuk setia pada hati nurani, serta sifat-sifat dan kehendak Yang Maha Agung.

Semangat demikian, tambahnya, bisa memancar dari karya seorang sastrawan Muslim maupun non-Muslim, seperti Mohammad Iqbal, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Rabiah Adawiyah, Goethe, Kahlil Gibran, Raja Ali Haji, dan Hamzah Fansuri, Abdul Hadi WM, Emha Ainun Najib, dan Lukman Asya.

 

Paling Fitrah

Semangat religius, menurut penyair “Sembahyang Rumputan” itu, adalah semangat sastra yang paling fitrah (hakiki). Sebab,  seperti diyakini oleh Iqbal dan kalangan penyair sufi — juga ditegaskan oleh Mangunwidjaja dalam Sastra dan Religiusitas (1981) — pada mulanya segala sastra adalah religius. “Karena itu, religiusitas dapat dianggap sebagai fitrah sastra,” kata Ahmadun.

Karena itu, tegasnya, karya sastra riligius dapat      dipandang sebagai karya sastra yang mencoba untuk tetap bertahan pada fitrahnya, di tengah narasi besar sastra sekuler dewasa ini. Dengan demikian, sastra religius dapat dianggap sebagai salah satu upaya resistensi terhadap arus dereligiusitasi peradaban manusia. “Melihat surutnya sastra religius akhir-akhir ini, maka perlu direvitalisasi,” katanya.

Rangkain acara pada hari ketiga, kemarin malam (Minggu 27 November), ditutup dengan happening art , bersama Pegayon, keliling Teater Kecil, pertunjukan doa sengkewe, sambutan wakil YHPI dan tokoh Gayo Aceh, ritual minum kopi, parade baca puisi diringi tepuk didong Pegayon dan Bahar, bersama Jose Rizal Manua, Herman Syahara, Octavianus Mahesa, Ical Vigar, Rifqi Putra, serta pertunjukan Didong bersama Fikar WEda dan Sanggar Pegayon. Devie Matahari, selaku koordinator acara, pun ikut bernyanyi di panggung pertunjukan. @red

Related posts

Leave a Comment

16 − six =