Puisi-Puisi Nanang Suryadi

16603154_1583066775041530_6711602934218111966_n

Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973. Dosen FEB Universitas Brawijaya. Aktif mengelola fordisastra.com. Buku-buku puisi yang menyimpan puisinya, antara lain: Sketsa (HP3N, 1993), Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendiri Membaca Diri (SIF, 1997), Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002), BIAR! (Indie Book Corner, 2011),Cinta, Rindu & Orang-orang yang   Api dalam Kepalanya (UB Press, 2011), Yang Merindu Yang Mencinta (nulisbuku, 2012), Derai Hujan Tak Lerai (nulisbuku, 2012), Kenangan Yang Memburu (nulisbuku, 2012). Penyair Midas (Hastasurya & Indie Book Corner, 2013)

 

Awas

 

Awas tukang kipas, serunya. Aku tak melihat seorang pun membawa kipas. Udara hujan. Dingin. Untuk apa kipas? Nanti masuk angin.

Udara panas pun tak ada yang membawa kipas, gumamku, terlebih ini udaranya dingin.

Lalu siapa yang tadi.berseru awas tukang kipas? Dia mengingatkan kipas yang semakin langka atau bagaimana? Dia mengingatkan orang tentang pembuat kipas, pengguna kipas atau penjual kipas.

Ada pernah kudengar film karena tak pernah kutonton: kipas kipas cari angin. Mengapa angin dicari? Siapa yang menculik?

(Kipas angin menderu. Di ruangan penuh rencana. Udara terasa demikian panas. Hujan menderas di luar).

 

 

Di Penghujung Senja

 

di penghujung senja engkau menulis sajak, sebuah elegi, yang hendak menelusur jejak: airmata

di jemarimu, puisi adalah kandil yang bertahan tak padam, dihembus angin malam

“bicaralah, biar sunyi yang akan mengkhidmati,” ujar malam kepadamu, yang merasa asing sendiri.

“aku ingin menulis sajak, tapi mengapa puisi tak datang padaku?” tanyamu.

mungkin puisi enggan datang kepadamu, penyair yang gagal menangkap isyarat, tanda-tanda, yang berulang disampaikan. cerminmu terlalu berdebu

 

 

Aku Tak Bisa

 

aku tak bisa berbuat apapun
selain berdoa: kebaikan untuk kita semua

terjadilah apa.yang semestinya terjadi
segala sesuatu yang sudah digariskan

pintaku, berilah kami yang terbaik
dunia yang penuh kedamaian dan ampunan

 

 

Di Dinding Waktu

 

Di dinding waktu kau tuliskan
Mungkin cinta yang ingin diabadikan

Di langit harap kau guratkan
Mungkin rindu yang ingin disampaikan

Kau menerka dimana batas
Hingga kau tak melampaui segala yang pantas

Kau menduga gemuruh riuh ada dalam diam
Kau menafsir kekosongan dalam keriuhan remuk redam

Hari ini, kau menulis puisi
Menjenguk diri sendiri

Nun jauh di dalam diri

 

 

Diam Diam Ada Yang Kembali

 

Diam diam ada yang kembali ke gedung itu
Diam diam sajalah jangan berisik jangan gaduh

Diam diam ada yang kembali ke gedung itu
Diam diam duduk di singgasana

“Diamlah kau, penyair, jangan berisik
Aku berdiam di gedung ini menyuarakan suaramu.”

Di seberang jalan, di seberang gedung itu
Seorang pengamen memetik gitarnya:
“Buaya.buaya di dinding, diam diam merayap
Hup… lalu ditangkap”

Setelah itu, udara demikian senyap

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *