Setelah Horison Berganti Rupa

242952570_1_644x461_majalah-sastra-horison34-buahtahun-04-09-malang-kota

Litera- Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 27 Juli, kita mungkin semua tersentak saat sastrawan Taufik Ismail sebagai salah satu dewan pendiri majalah sastra Horison mengumumkan bahwa media itu berhenti menjadi media sastra cetak dan beralih menjadi majalah on line atau yang kita kenal dengan nama portal. Pengumuman itu justru disampaikan saat majalah itu genap berusia 50 tahun, suatu usia perjalanan yang begitu panjang.

Horison tentu telah menjadi salah satu barometer sastra tanah air. Suatu kebanggaan bagi banyak sastrawan Indonesia jika karya mereka baik berupa puisi, cerpen, atau esai bisa dimuat di majalah yang telah berdiri sejak tahun 1966 itu. Biaya operasional yang begitu besar, hingga Horison mengalami defisit hingga Rp 19 juta dalam setiap bulan seperti yang dikatakan Joni Ariadinata, salah satu anggota dewan redaksi membuat Horison tak mampu lagi bertahan sebagai sebuah media cetak.

Tentu saja ini bukan akhir dari segalanya. Horison kini beralih menjadi media sastra on line, meski sebenarnya portal ini telah dimulai beberapa tahun lalu. Mungkin sebagian kita ingin mengetahui bagaimana prospek Horison ke depan, masihkah media ini menjadi satu simbol literasi seperti yang digaungkan Joni Ariadinata.

Kompas Gramedia, Pawon, dan Balai soedjatmoko akan mengadakan diskusi publik dengan tema “Sastra Tanpa Media Sastra”. Diskusi ini akan menghadirkan Joni Ariadinata dan Bandung Mawardi dan dimoderatori oleh Indah Darmastuti. Acara akan diadakan pada hari Minggu, 7 Agustus mulai pkl 19.00 WIB bertempat di Balai Soedjatmoko, Solo.

 

Mahrus Prihany

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *