Kenangan tentang Kenanga

10006198_10152114629027713_869141256_n

Luhur Satya Pambudi, lahir di Jakarta. Menyelesaikan pendidikan menengah dan perguruan tinggi di Yogyakarta. Kini tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Tribun Jabar, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Surabaya, Bali Post, dan sejumlah media massa lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

 

Di teras rumah. Sendiri belaka aku terjaga pada malam senyap, cukup ditemani secangkir kopi dan sebungkus rokok kretek yang masih utuh. Istriku telah mengajak masuk, tapi masih belum sudi kupejamkan mata. Sejumlah hal ingin kurenungkan tanpa kawan. Entah mengapa lelaki tua yang sudah bolak-balik dirawat di rumah sakit dan terkadang merokok ini masih diperkenankan-Nya berada di atas buana. Justru perempuan muda yang belum sampai tiga puluh usianya itu telah kembali ke haribaan Ilahi.

Sekian jam silam, jasad putri bungsuku dikebumikan. Sungguh sebuah kejutan, tanpa ada cerita menderita sakit apa, serta-merta Kenanga Juliana putriku pergi jauh tanpa permisi. Tak bakal kutatap lagi paras indah salah satu perempuan kesayanganku di muka bumi. Pikiranku pun menerawang ke waktu lalu, tepatnya saat istriku melahirkan anak keenam kami. Kenanga anak perempuan keduaku di antara keempat anak lelakiku. Ada enam orang anakku seluruhnya. Kehadirannya istimewa lantaran tak kuduga, sesudah lima belas tahun berumah tangga, Tuhan masih berkenan menghadirkan warga baru di keluarga kami.

Kenanga beruntung dilahirkan kala kondisi perekonomian rumah tangga kami mulai mapan. Kelima kakaknya pernah mengalami hidup pas-pasan karena posisiku di kantor belum bagus. Aku dan istriku jadi sedikit berbeda memperlakukan Kenanga ketimbang kakak-kakaknya. Sedari ia masih bocah, kami begitu memanjakannya, membiarkannya melakukan semua hal yang ia sukai, dan selalu memenuhi segala permintaannya. Selama sekian tahun kami tetap menganggapnya sebagai bidadari kecil yang lucu dan lugu.

 

***

 

Maka menjadi kejutan luar biasa, kala belum genap enam belas usianya, Kenanga kerap mengeluh mual, bahkan sampai muntah-muntah segala, dan ternyata putri bungsuku telah berbadan dua. Aku tak bisa percaya begitu saja mendengarkan apa kata istriku yang menangis tersedu-sedu, mengadu kepadaku yang baru pulang bekerja malam itu. Istriku sudah memeriksakan Kenanga ke dokter petang harinya.

“Mama, apakah ini bukan kesalahan dokter mendiagnosa sakitnya Kenanga?” ujarku yang belum sudi menerima kenyataan.

“Semua bukti jelas menyatakan putri kita hamil, Papa.”

“Sudah berapa lama usia kandungannya?”

”Kata dokter, sudah sekitar sembilan minggu.”

Rasa lelahku bertambah berlipat ganda. Ingin kumarahi putri bungsuku yang tak mampu menjaga dirinya, ingin pula kumaki istriku yang tak bisa menjaga tindak-tanduk anak perempuannya. Namun, aku paham bakal percuma jika sampai kulakukan. Semua yang terjadi hanya dapat disesali. Tak boleh terlampau lama aku bermuram durja dan menyalahkan diri belaka. Mesti dapat kujaga benakku agar tetap jernih berpikir menghadapi problema yang ada, seberat apa pun itu.

”Ma, tolong panggil Kenanga kemari. Papa mau bicara.”

”Tolong, Papa jangan marahi dia. Kenanga sangat terpukul dengan kehamilannya.”

”Papa tidak akan memarahinya dan tahu mesti berkata apa nanti.”

Sekian menit kemudian, Kenanga masuk ke dalam kamarku dengan tubuh lemas dipapah ibunya. Ia melangkah gontai menghampiri posisi dudukku, lalu bersimpuh di kakiku dengan air mata berlinang.

”Maafkan Kenanga, Pa. Ini memang salah Kenanga,” kata putriku terisak-isak.

”Iya, iya… Papa sudah memaafkanmu, Nak. Sekarang kita bicarakan apa yang mesti kita lakukan selanjutnya.”

”Iya, Papa,” sahut Kenanga sambil mengusap air matanya dan kemudian beranjak duduk di samping ibunya.

”Nak, dengarkan Papa. Laki-laki yang menghamili kamu mesti bertanggung jawab. Dia harus segera menikah denganmu,” ujarku mencoba tegas, padahal hatiku hancur sejatinya.

”Tapi, Kenanga kan masih sekolah? Kenanga belum mau menikah,” sahut Kenanga dengan nada merajuk.

”Itulah konsekuensi perbuatan kalian. Mungkin inilah saatnya kau menjadi dewasa dan belajar bertanggung jawab, Kenanga.”

Tak sampai dua minggu kemudian, Kenanga resmi menikah dengan lelaki yang telah lebih dahulu merenggut keperawanannya. Menantuku itu mahasiswa tahun pertama di sebuah perguruan tinggi swasta, kakak kelas Kenanga di SMA. Syukurlah, ia bersedia bertanggung jawab menjadi suami bidadari kecilku yang telah beranjak dewasa. Kenanga terpaksa menikah mendahului kakak perempuannya dan sepasang kakak lelakinya. Aku berusaha bisa tersenyum bahagia di hari pernikahan Kenanga, kendati hati kecilku belum siap menerima perubahan status putri bungsuku. Namun, aku beruntung bisa sering bertemu dengannya. Kenanga dan suaminya memilih tinggal di rumah kami setelah menikah.

Sejak menjadi istri dan calon ibu, Kenanga lambat laun berubah. Sifat kekanak-kanakannya mulai terkikis, berganti sikap dewasa. Ia sangat bersedih karena terpaksa tidak melanjutkan sekolahnya yang masih kelas II SMA, tapi putriku berusaha bijaksana.

”Seperti Papa bilang dulu, inilah konsekuensi perbuatan Kenanga sendiri. Memang kini terasa pahit, tapi rasa manis itu pasti hadir nanti,” ucap Kenanga dengan suara bergetar. Terasa bergejolak dadaku menyimak kata-katanya. Aku seperti tak percaya mendengarkannya.

”Ya, Nak. Percayalah bahwa masih ada masa depan yang lebih apik bagimu kelak, bagaimanapun situasi dan kondisimu kini. Kau mesti sabar menjalaninya. Bersyukurlah, kau masih berkesempatan memperbaiki kesalahanmu.”

”Kenanga mau tetap optimis menyambut hari esok. Tolong, dukung dan doakan Kenanga selalu ya, Pa,” ujar putriku tersenyum sambil menahan haru.

”Pastilah, Papa akan selalu mendoakan dan mendukungmu, Nak,” sahutku dengan mata berkaca-kaca. Kurangkul hangat Kenanga yang duduk di sampingku dan kukecup lembut keningnya.

 

***

 

Anak pertama Kenanga telah hadir ke dunia, artinya bertambah satu lagi cucuku. Putri bungsuku yang baru enam belas tahun sekian bulan usianya telah resmi menjadi seorang ibu. Seakan baru kemarin aku bahagia menyambut kelahiran Kenanga, membuainya dalam dekapan, memandangnya belajar berjalan, dan masih banyak lagi kenangan indah tentangnya dahulu kala. Lantas sudah tiba begitu saja, giliran bidadari kecilku yang menggendong bayi laki-laki yang telah sekitar sembilan bulan dikandungnya. Bersukacitalah kami menyambut kedatangan warga baru keluarga kami. Kenanga bersungguh-sungguh ingin menjadi ibu sempurna bagi anaknya. Ia rajin bertanya kepada ibunya dan membaca hal ihwal pengasuhan anak sebaik-baiknya. Ia pun tak segan melakukan sejumlah hal baru dalam hidupnya.

Aku tahu, kehidupan rumah tangga Kenanga tidak selalu mulus berlangsung. Kadang terdengar putriku bertengkar dengan suaminya, tapi untunglah tak pernah lama. Mereka senantiasa berusaha setia dengan komitmen yang ada, apalagi sejak kehadiran si kecil dalam hidup mereka. Kumaklumi kondisi Kenanga dan suaminya, lantaran mereka menikah di usia dini, sementara suami Kenanga belum bekerja. Keperluan hidup mereka masih ditanggung oleh kami. Namun, putriku tak ingin sekadar berpangku tangan dengan menerima bantuan semata.

”Pa, apa yang bisa kulakukan untuk bisa mendapat penghasilan sendiri, ya?” tanya Kenanga pada sebuah Minggu pagi.

”Bisakah kau ingat, apa saja yang pernah kau sukai dulu?”

”Seingatku, waktu bocah aku suka melukis. Apa aku bisa jadi pelukis?”

”Cobalah melukis lagi dan nikmati saja dulu. Tak usah kau pikir itu akan mendatangkan uang atau tidak,” saranku.

Ia mengangguk setuju dengan mata berbinar-binar. Ada satu perubahan lagi pada Kenanga, ia tak lagi menyebutkan namanya sebagai kata ganti orang pertama. Putri bungsuku memang kian dewasa. Kenanga melukis kembali seperti pada masa bocahnya, saat ia pernah memenangkan sejumlah lomba, tapi ia berhenti melakukannya kala beranjak remaja. Nyatanya, ia memang menemukan kenikmatan baru dengan melukis. Tak hanya menggoreskan kuas di atas kertas, Kenanga mencoba melukis di atas kanvas. Kuminta teman lamaku yang menjadi pelukis profesional membimbingnya agar mampu lebih terarah dalam berkarya.

Lukisan karya Kenanga sudah semakin banyak dan dipasang menghiasi dinding rumah kami. Suatu hari, temanku yang pelukis itu membawa rekannya yang bekerja sebagai kurator pameran seni rupa. Ia bersedia merekomendasikan lukisan karya Kenanga untuk diikutsertakan dalam pameran karya sejumlah perupa muda yang akan segera berlangsung. Yang mengejutkan, sebuah lukisan karya putriku yang dipamerkan ternyata laku dibeli. Sejak saat itulah, Kenanga mantap menjadi pelukis. Sementara sang suami yang telah lulus kuliahnya, lantas bekerja di sebuah perusahaan jasa. Kenanga melahirkan anak keduanya pada tahun keenam usia pernikahannya. Aku beserta istriku meminta Kenanga tetap tinggal bersama kami, lantaran semua anak kami akhirnya sudah menikah dan meninggalkan rumah.

 

***

 

Tanpa terasa, sepuluh tahun sudah Kenanga melepas masa lajangnya. Profesinya sebagai pelukis dan karier suaminya yang bagus membuat segala keperluan keluarga tercukupi. Mereka akhirnya mampu memiliki tempat tinggal hasil kerja keras mereka sendiri. Kenanga sesungguhnya sudah lama ingin tinggal di rumah impiannya, tapi ia terus menundanya demi aku dan ibunya. Apalagi telah kumasuki masa pensiun serta tak bisa banyak beraktivitas lagi. Bahkan kondisi kesehatanku yang kerap menurun membuatku berkali-kali diopname.

”Papa dan Mama tak perlu bersedih. Rumah kami kan relatif dekat, jadi kami pasti bakal sering kemari,” hibur Kenanga ketika berpamitan untuk hijrah ke rumah impiannya. Aku dan istriku terharu melepas kepergian Kenanga sekeluarga. Tinggallah kami berdua menempati rumah yang pernah begitu riuh rendah selama puluhan tahun.

Baru sekitar sebulan Kenanga dan keluarganya meninggalkan tempat tinggal kami. Seperti janjinya, tak hanya sekali dalam setiap pekannya, Kenanga mengajak suami dan kedua anaknya mengunjungi kami. Kepergian putri bungsuku pun tak terlampau menyedihkan. Namun, pada suatu pagi, kami begitu dikejutkan oleh sebuah telepon dari suami Kenanga.

”Papa, sekarang saya ada di rumah sakit. Kenanga masuk unit gawat darurat setengah jam lalu.”

”Apa yang terjadi pada Kenanga? Istrimu sakit apa, Nak?” tanyaku cemas sekali.

”Sejak tadi malam, ia mengeluh tak enak badan. Setelah mengantar anak-anak ke sekolah, saya segera membawa Kenanga ke rumah sakit. Sebetulnya ia sempat bilang ingin ke rumah Papa, tapi kondisinya yang melemah membuat saya mengubah arah.”

”Kau yang sabar ya, Nak. Papa dan Mama akan segera ke sana sekarang juga.”

Aku dan istriku lekas beranjak menuju rumah sakit. Tak lupa, istriku menghubungi semua kakak Kenanga supaya segera datang melihat kondisi terakhir adik mereka. Sungguh aku terperanjat menyaksikan kondisi anakku di ruang unit gawat darurat. Ia bergeming tanpa daya, sementara dokter dan para asistennya terus mencoba melakukan berbagai hal demi menyadarkannya kembali. Aku dan istriku saling berpegangan tangan, mencoba menguatkan diri seraya berdoa, mohon yang terbaik bagi putri bungsu kami. Betapa terkejutnya seluruh kakak Kenanga mengetahui keadaan adik kesayangan mereka. Kami semua mengenalnya sebagai perempuan yang tak pernah bermasalah dengan kesehatan. Tiada yang tak bersedih menyaksikan apa yang ada.

”Kita tak tahu pasti yang akan terjadi pada Kenanga nanti. Kita hanya bisa berdoa kini,” kataku berusaha tegar melihat istri dan anak-anakku mulai menangis sesenggukan di depan tubuh Kenanga. Dokter meminta kami masuk ke ruang unit gawat darurat, karena denyut jantung putri bungsuku semakin pelan, lebih lambat lagi, dan akhirnya benar-benar berhenti…

Maka pecahlah suara tangisan dari sebuah ruangan di rumah sakit, demi melepas kepergian perempuan muda kesayangan kami. Kenanga meninggal dunia akibat terkena serangan jantung, kata dokter yang menanganinya. Untuk sementara aku terpaku belaka menatap wajah pucat putriku.

”Kenanga Juliana putriku, ada saja kejutanmu buat Papa. Sekarang, tiba-tiba kau pergi selamanya, tanpa kata perpisahan. Selamat jalan, bidadari kecilku,” ucapku dengan dukacita terdalam yang pernah kurasakan.

 

***

 

Kering sudah air mataku kini. Habis sudah sebuah malam untukku mengenang perjalanan hidup putri bungsuku tercinta, cukup ditemani tiga cangkir kopi dan dua batang rokok kretek. Sayup-sayup mulai terdengar suara azan Subuh berkumandang dari berbagai arah. Akan segera kuambil air wudhu, lantas sehabis menunaikan kewajiban nanti, ingin secara khusus kutitipkan salam kasih sayangku buat bidadari kecilku lewat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku percaya, ia sudah tersenyum bahagia dalam belaian kasih sayang-Nya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *