Cinta dan Kemanusiaan di SR

22046076_1631795706871196_41577629646566070_n

Jakarta (litera.co.id)- Sastra Reboan (SR) yang dilangsungkan pada hari Rabu (27/9) di Warung Apresiasi Seni atau Wapress Bulungan, Jakarta Selatan berlangsung cukup meriah. Gerimis panjang yang mengguyur sepanjang hari hingga petang tak mengahalangi semangat para pecinta seni dan sastra untuk menghadiri dan memeriahkan acara ini. Tak hanya sastrawan yang datang, mahasiswa dan kalangan umum juga terlihat hadir memenuhi kursi-kursi kayu yang ditata melingkar menghadap ke panggung.

Acara yang dimulai pukul 20.00 dengan dipandu pembawa acara Dzevitha dan Ade Novi sebelum akhirnya Ade Novi digantikan oleh Agus Grave- yang memang biasanya berpasangan dengan Dze tersebut- mengangkat tema “Cinta: Hak Setiap Manusia dan Bangsa.” Sebelum acara dimulai, sambil menunggu para penampil yang hadir, terlebih dahulu Martha Sinaga dan seorang rekan menghibur para pengunjung yang telah hadir.

Penampil pertama malam itu adalah Tangerang Beatbox dari Tangerang. Seorang pelajar sebuah sekolah menengah tersebut menghibur pengunjung dengan memainkan mulut dan tangan menyerupai alat musik. Berikutnya Wildan, pemuda yang biasa nongkrong di Wapress tersebut membawakan monolog yang cukup panjang. Aspar Paturusi, aktor kawakan yang juga penyair dan dramawan tampil membacakan beberapa puisi. Aktor asal Bulukumba yang telah berusia 74 tahun tersebut tampil tetap dengan penuh ekspresif. Pada puisi terakhir, ia membacakan puisi berduet dengan sang istri. Para penonton memberi applaus yang meriah untuk duet tersebut. Pembacaan puisi tersebut diselingi suara nyanyian sang istri yang sangat menggugah. Aspar Paturusi bersama istri pada kesempatan malam itu juga memberikan hadiah atau cinderamata berupa beberapa buku pada SR yang diterima oleh Zay lawanglangit dan Dyah Kencono Puspito yang juga menjadi penghubung kepada para penampil. SR memang sedikit berbeda dengan beberapa event atau panggung seni dan sastra lainnya. Semua penampil yang ingin membaca puisi, musikalisasi, monolog, atau penampilan lain sudah tersusun sebelumnya. Dyah Kencono Puspito yang kali ini telah menghubungi dan membuat konfirmasi serta mengatur para pengisi acara. Meski begitu acara tetap luwes dan memungkinkan para penampil lain jika memang waktu masih memungkinkan. Pembaca puisi berikutnya adalah Mahrus Prihany. Pemandu acara yang mengajak dialog para penampil mumbuat panggung terasa interaktif. Dzevitha dan Agus Grave yang selalu memakai slayer pada kepalanya tersebut juga memberi pertanyaan pada pengunjung dan yang bisa menjawab mendapat door prize berupa buku.

Selain pembacaan puisi, musik, dan monolog, ada juga bincang sastra yang membincang buku kumpulan puisi berjudul Sisa Cium di Alun-Alun karya penyair Weni Suryandari. Buku puisi karya Weni yang terbit tahun lalu ini cukup mendapat respon bagus dari pecinta sastra. Dalam pengamatan Litera, buku tersebut telah beberapa kali dibincang di beberapa tempat berbeda. Malam tadi hadir sebagai pembincang adalah Sofyan RH zaid dengan moderator Setyo Bardono. Mereka berdua mengaku sebenarnya hanya pembahas dan moderator pengganti. Budhi Setyawan yang seharusnya mendampingi Weni Suryandari sedang bertugas di Surabaya hingga batal tampil.

Seusai bincang sastra acara kembali dilanjutkan dengan penampilan Abah Yoyok yang didampingi iringan musik oleh Branjangan sh dan Adang. Abah Yoyok membacakan puisi satir tentang koruptor. Setelah itu Rahmat Sadeli dan ditutup dengan penampilan Abah Uki Bayu Sedjati yang menyuarakan puisi Rendra.

Acara diakhir pukul 22.30 dengan foto bersama. Malam itu beberapa penyair yang tampak hadir ikut foto bersama. Terlihat penyair asal Maluku Utara yang fokus menulis puisi tentang laut, Dino Umahuk. Dino hadir bersama istri yang juga penyair yang belum lama ini baru meluncurkan buku puisinya, Alya Salaisha. Hadir pula Hilda Winar. (Mahrus Prihany)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *