PROSA 

Hujan dan Surat untuk Bapak

Latif N. Janah, lahir Oktober 1990. Menulis cerpen dan cerita Bahasa Jawa. Karyanya “Tresan Sulaya” tergabung dalam buku Timur Gumregah, Pawon Sastra, Solo (2014). Dalam waktu dekat berencana menerbitkan karya-karyanya yang lain sambil tetap bergiat di komunitas seni dan sastra.

 

Secangkir teh yang saya pesan satu jam yang lalu kini telah dingin. Rintik hujan di luar masih memukul-mukul kaca jendela, membentuk buliran air yang menumbuhkan sebentuk kenangan.

Hujan yang menderu-deru seperti menyerap manis teh yang saya pesan. Dulu, semasa kecil, Bapak selalu memanggil saya yang tengah bermain di halaman tetangga jika hujan hendak turun. Jika mendung telah menggumpal, Bapak lekas-lekas menarik tangan saya dalam genggaman. Jangan dibayangkan ia menuntun saya secara paksa. Bapak tak pernah melakukan hal yang kasar pada saya, mengajarkan pun tidak. Ia akan menggenggam tangan saya seperti hendak menunjukkan hadiah atau menunjukkan sesuatu yang saya suka.

Bapak lekas menyusul saya yang tengah belajar mengaji di surau Mbah Mus ketika langit menghitam. Apalagi jika diiringi dengan gelegar yang terdengar begitu memilukan. Terkadang, kepada Mbah Mus-lah saya mengeluh. Sementara teman-teman yang lain tidak beranjak dari tempat duduknya, saya harus angkat kaki mengikuti Bapak pulang. Sepanjang perjalanan pulang melewati kebun-kebun ketela, kepala saya berada di rengkuhannya. Pada saat seperti itu, Bapak merangkul saya seperti tak akan ada kesempatan lagi untuk memeluk saya. Pernah saya tanya alasan ia melakukan kebiasaannya itu. Jawaban yang saya terima sungguh membuat saya tertegun. Ia pernah kehilangan adik satu-satunya sebab disambar petir saat hujan deras.

Bulir air hujan masih merembes di kaca jendela. Meninggalkan garis bengkok-bengkok serupa aliran sungai. Saya bisa merasakan udara dari luar melalui pintu yang saat itu dibuka oleh seorang perempuan yang baru saja masuk, lalu mengambil tempat duduk persis di meja di depan saya. Perempuan itu membawa buku catatan lalu sibuk menulis dan berhenti saat pelayan mendekatinya untuk menanyakan pesanan.

Sesaat ia mengambil alih perhatian saya dari hujan, sesaat kemudian, ia mengingatkan saya pada dua benda di meja. Selembar kertas putih masih kosong, didampingi pulpen biru pucat teronggok lebih dari sejam lamanya. Teh di hadapan saya sudah tandas, tetapi belum satu kata pun berhasil saya tuliskan. Tadinya, di kantor, setelah menyunting sebuah novel seorang penulis muda, saya ingin mengetikkan saja surat yang hendak saya kirimkan kepada Bapak. Namun, setelah saya pikir ulang, tak bersahaja namanya jika tak saya tulis dengan tangan sendiri.

Maka setelah jam kantor bubar, saya membelok ke kafe ini. Bukan lantaran saya suka dengan menu ataupun latar tempat dan musiknya, melainkan karena hujan datang seperti kejutan. Petir pertama terdengar tepat ketika saya membuka pintu kafe, disusul air yang datang begitu derasnya. Entah bagaimana, semua itu membuat saya seolah digiring pada perasaan rindu dengan tempat bernama rumah.

Rumah adalah memorabilia. Tempat menghabiskan masa indah dan sedih. Tempat yang pintunya menjelma sampul dari begitu banyak kisah. Yang dalam injakan pertama, menyambut begitu hangat bagaimana pun keadaan pemiliknya.

Saya tak ingat lagi tepatnya terakhir kali memasuki lembaran cerita itu. Mungkin sudah lebih dari dua tahun yang lalu, saat Ibu pergi untuk selamanya. Bapak pernah menyuruh saya kembali saat ia bertemu dambaan hatinya yang kedua dan memutuskan menikahinya. Bagaimana saya bisa sebahagia dulu saat memasuki rumah, jika Ibu tak menyambut saya di depan pintu.

Perempuan yang duduk di meja depan saya, kini ditemani seorang lelaki berdasi, duduk dengan wajah gelisah di samping kanannya. Meski tak begitu jelas, telinga saya dapat menangkap sedikit apa yang tengah mereka bincangkan.

“Kau harus membereskannya,” kata perempuan itu, pelan tapi jelas. “Aku tidak mau nama baik keluargaku tercemar.”

“Tentu, Bu, tentu. Tapi…”

“Ah, kau tak usah khawatir. Akan aku beri lebih. Kau bisa pegang kata-kataku.” Sela perempuan itu sembari memberikan amplop kepada lelaki di sampingnya. Mereka keluar bersamaan dan mengambil arah berlawanan setelah mencapai tubir pintu.

Saya kembali pada tawanan di meja saya. Selembar kertas dan sebatang pulpen. Ingin sekali rasanya saya menumpahkan segala kerinduan pada rumah, pada surau Mbah Mus, juga pada jejeran bunga kenanga yang ditanam Ibu membentuk pagar hidup sebelum saya mengutarakan inti surat kepada Bapak.

Seminggu yang lalu, sebuah surat tiba di kontrakan saya dengan amplop putih berhiaskan tulisan tangan. Bapak memang tak pernah tahu nomor telepon saya selain memang, ia tak suka bicara lewat pesawat penghubung suara. Bapak mengatakan dalam suratnya, akan membantu merampungkan riset untuk novel saya dengan mengirimi sejumlah uang. Dalam kalimatnya di lembar kedua, secara tidak langsung, keinginan itu dilakukannya sabagai permohonan maaf atau tepatnya restu atas pernikahannya setahun yang lalu. Saya tak pernah memusingkan hal itu. Keinginannya itu pun tak saya indahkan. Toh Ibu tak akan pernah tahu. Untuk pertama kali saya merasa bersyukur Ibu telah tiada. Sialan!

Pada paragraf berikutnya, Bapak secara langsung mengisahkan kehidupannya dengan istri barunya. Wanita yang selalu mendukung apa pun yang dikerjakannya. Perempuan yang berada di garda paling depan saat ia memutuskan undur diri sebagai pegawai negeri untuk mengabdi menjadi wakil rakyat. Sampai di situ, saya menarik napas panjang-panjang.

Meski belum satu kata pun berhasil saya torehkan, saya ingin sekali menyelesaikan surat ini. Saya menyulut kretek lagi seperti yang selalu saya lakukan saat menulis atau menyunting naskah. Bahkan halaman pertama novel saya, saya rampungkan dengan tiga batang kretek.

Saya mulai lancar berkata-kata dalam kertas. Mula-mula, saya bertanya tentang bunga-bunga kenanga Ibu, lalu tentang pohon mangga di depan rumah yang buahnya minta ampun asamnya. Menanyakan keadaan Mbah Mus dan suraunya, saya wajibkan bagi diri saya sendiri untuk memberi kesan pada Bapak jika saya masih ingat dengan ajaran agama sekalipun jarang mengamalkannya. Satu-satunya yang masih saya amalkan adalah mendoakan mendiang Ibu. Saya juga ingin menanyakan pada Bapak tentang kebiasaannya saat hujan. Ah, tidak, tidak. Saya lewatkan bagian ini. Saya tak ingin menakar seberapa besar kepeduliannya pada saya sejauh ini. Lebih baik saya tidak tahu. Saya hanya cukup tahu bahwa noktah kesetiaannya kepada Ibu telah pudar. Bahwa janji yang dibuatnya sendiri saat Ibu sakit sudah karam.

Sebelum saya mengutarakan penolakan terhadap penawaran Bapak, terlebih dulu saya ingin memberi cerita padanya tentang novel dan pekerjaan saya menyunting naskah. Sebuah novel yang terilhami dari Orang-orang Proyek milik Ahmad Tohari saat ini tengah menyita hari-hari saya.

***

Sepagi ini, saya sudah duduk di meja bar kafe yang berada tepat di seberang kantor saya. Selembar kertas yang dari jauh hari menemani saya di kafe ini, saya bawa lagi. Saya berharap uap panas kopi di hadapan saya, sedikit membantu saya meneruskan kembali surat untuk Bapak. Tetapi, alih-alih mengambil pulpen dari saku kemeja saya, saya malah merogoh saku celana lalu mengambil satu batang kretek dari dua batang yang keriput.

Tanpa mengesampingkan surat yang belum tuntas di hadapan saya, saya meraih surat kabar yang tergeletak di meja. Satu jangkauan tangan saya sambil berdiri. Judul di halaman pertama dicetak besar-besar seperti ingin menelan bulat-bulat berita yang lainnya. Di situ, tertera sebuah kabar seorang kepala daerah terpilih yang dikasuskan oleh lawan politiknya karena dokumen palsu. Saya tatap gambar tersangkanya. Astaga!

Saya buru-buru membayar kopi yang saya pesan. Terpaksa belum saya tandaskan. Selembar kertas di meja, saya bawa keluar bersama selembar surat kabar. Sampai di bibir pintu, hujan turun sangat tenang. Surat setengah jadi dan gambar Bapak bersama seorang perempuan, saya amati dalam-dalam. Perempuan yang saya lihat di kafe ini tempo hari. Hujan berubah menerjang, meluruhkan Bapak dan surat untuknya pelan-pelan.[]

 

Gemolong, Maret 2019

Related posts

Leave a Comment