Kontemplasi Menata Diri

Sejak wabah covid19 menyerang Indonesia semua kegiatan sastra temu muka (luring) nyaris tidak ada lagi. Memang ada kegiatan sastra yang diadakan secara luring dan daring, seperti perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) dan Musyawarah Sastrawan Indonesia (Munsi) 3. Namun saya memilih ikut secara daring, itung-itung mengurangi kemungkinan penularan melalui kontak langsung — walaupun panitia menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Kegiatan sastra lain yang melibatkan saya, seperti Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas), Diklat Proses Kreatif Penulisan Puisi yang diadakan oleh Akademi Puisi Rumah Seni Asnur, dan kegiatan serupa yang diadakan oleh Rumah Produksi Indonesia, serta Seminar Satra Nasional yang diadakan oleh Program Pasca-sarjana Universitas Sriwijaya Palembang, syukur diadakan secara daring, sehingga saya enjoy mengikutinya.

Sepinya kegiatan sastra luring dan kegiatan tatap muka lain memberi kesempatan pada saya untuk lebih banyak berkontemplasi, melihat ke dalam diri, mengurai kekurangan, dan menata diri. Sejujurnya saya akui bahwa saya belakangan ini kurang istiqomah dalam “menyair”, dalam menggauli dunia puisi. Terlalu banyak kegiatan non-literer yang harus saya jalani. Selain mengajar dua mata kuliah (creative writing dan academic writing), dan mengisi berbagai diklat dan seminar, saya juga tidak bisa menolak ketika diajak aktif di sejumlah organisasi seperti Yayasan Hari Puisi. Sementara, saya juga harus mengurus Lembaga Literasi Indonesia yang menayangkan blog ini.

Begitulah, pada akhirnya konsentrasi terpecah, menjulis puisi tidak suntuk lagi, dan sesekali juga harus menulis cerpen, esai, dan artikel ilmiah. Tampaknya semuanya harus dijalani dengan sabar dan tawakal….