FRASA 

Belajar pada Rumputan

Sebagai penyair yang merambah sastra religius sebagai pilihan ekspresi estetik, sajak-sajak saya banyak yang lahir dari pengalaman religius. Tiap pengalaman religius yang mengesankan, baik pengalaman inderawi maupun rokhani, selalu merangsang proses kelahiran ‘bayi unik’ yang disebut sajak. Dari sini, ribuan sajak saya lahir dan membangun hidupnya sendiri.

Bagi saya, religiusitas tidak hanya inspiratif, tapi juga indah. Setidaknya, begitulah penjelajahan kreatif saya setiap bersentuhan dengan pengalaman-pengalaman religius. Atau sebaliknya, ketika sebuah perjalanan ataupun pergulatan religius menemukan momentum-momentum puitik yang begitu kuat menyentuh rasa keindahan. Hasilnya, adalah imaji-imaji puitik yang sering terangkai begitu saja dalam kata-kata yang terasa indah.

Bagi seorang Muslim, tiap rakaat shalat adalah perjalanan ke langit (mikraj) untuk menjumpai-Nya. Tapi, sejujurnya, banyak di antara orang Muslim yang merasakan perjalanan itu tak sampai-sampai pada-Nya, meskipun rakaat demi rakaat, beribu rakaat, tiap saat ia lipat dalam ‘kelelahan spiritual’ yang kadang menjemukan. Bahkan, zikir dengan kucuran air mata pun tak menyampaikan hati pada-Nya ketika pikiran berada dalam tarikan kuat tipu daya dunia. Maka, ketika dalam suatu tahajud, karena sebuah ‘keberuntungan spiritual’ tiba-tiba dapat merengkuhkan kita ke dekapan-Nya, itu akan menjadi pengalaman religius yang luar biasa indahnya.

Bayangkan saja, ketika kelelahan spiritual seperti mencapai puncaknya, ketika rakaat demi rakaat, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, seperti sia-sia; ketika kerinduan untuk istirah di pangkuan-Nya seperti sudah tak tertahankan lagi; tiba-tiba sebuah lorong gaib dalam tahajud di tengah malam mengantarkan kita persis ke hadapan-Nya, maka itu akan menjadi pertemuan yang sangat indah — bagai pertemuan dua kekasih di puncak kerinduannya. Dalam suasana hati seperti itulah sajak saya, Ciuman Pertama untuk Tuhan (terkumpul dalam buku Ciuman Pertama untuk Tuhan, Logung Pustaka, 2004), lahir:

Merendehkan hati di bawah telapak kaki
Dalam tahajud paling putih dan sunyi, akhirnya
Sampai juga aku mencium tuhan. Mungkin kaki atau telapak
Tangannya – tapi aku lebih ingin mengecup dahinya
Duhai, hangatnya sampai ke ulu jiwa.

Inilah ciuman pertamaku, setelah berabad-abad
Gagal meraihnya dengan beribu rakaat salat dan dahaga puasa
Tiada kecerdasan kata-kata yang bisa menjangkaunya
Tak juga doa dalam tipu daya air mata — Duhai kekasih,
Raihlah hatiku dalam hangatnya Cinta

Namun, sajak tersebut, tidak mampu mewakili semua keindahan pengalaman religius yang serba gaib itu, karena kata-kata tak sepenuhnya mampu mengimajinasikan keindahannya. Sebab, pengalaman religius yang intensif adalah semesta jiwa, sedangkan kata-kata yang tertuliskan hanyalah setitik planet di dalam keluasannya.

Sebuah sajak saya yang lain, Sembahyang Rumputan (terkumpul dalam buku The Worshipping Grass, Bening Publishing, 2005), juga lahir dari pergulatan panjang di wilayah religius yang hampir sama, shalat. Pergulatan panjang tentang makna shalat itu tiba-tiba menemukan simbolisasi yang indah pada gerak rumputan yang tertiup angin, yang seakan rukuk (membungkuk) bersama-sama seperti dalam shalat berjamaah.

Sentuhan puitik (poetical touch) melalui pengalaman indriawi itu saya dapatkan secara tidak sengaja, ketika suatu sore saya sedang mengamati halaman berumput hijau. Saat itu angin bertiup secara periodik. Tiap angin bertiup, rumputan itu seperti rebah bersama-sama, dan begitu angin reda, rumputan itu pun berdiri lagi bersama-sama. Dalam imajinasi saya, rumputan itu seperti ribuan jamaah shalat yang sedang rukuk dan sujud bersama, lantas berdiri lagi bersama. Saat melihat fenomena alam itulah, spontan saya menemukan idiom simbolik ‘sembahyang rumputan’.

Simbolisasi shalat ke gerak rumputan itu saya rasakan sangat pas, karena rumput juga sekaligus simbolisasi kerendah-hatian, kebersahajaan, kefanaan dan ketakberartian umat manusia di hadapan Sang Pencipta. Lebih dari itu, rumputan juga bermakna keteguhan dan semangat religius yang takkan bisa padam, meski berbagai kekuatan sekuler terus berupaya memadamkannya. Coba bakarlah padang rumput, tak lama setelah itu selalu akan tumbuh (bersemi) rerumputan baru yang lebih hijau dan segar. Karena itu, rumputan juga simbol perlawanan yang bersifat laten terhadap penindasan, terus bergerak menyusup tanpa harus berteriak keras, untuk meraih kemenangan:

Walau kau bungkam suara azan
Walau kau gusur rumah-rumah tuhan
Aku rumputan
Takkan berhenti sembahyang
: inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin

topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi
: allahumma shalli ‘ala Muhammad
ya rabbi shalli ‘alaihi wa sallim

sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan

Walau kau tebang aku
Akan tumbuh sebagai rumput baru
Walau kau bakar daun-daunku
Akan bersemi melebihi dulu

Aku rumputan
Kekasih tuhan
Di kota-kota disingkirkan
Alam memeliharaku
Subur di hutan-hutan
Aku rumputan
Tak pernah lupa sembahyang
: sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi Allah, tuhan sekalian alam

Dari pergulatan kreatif seperti itu juga sajak-sajak religius — serta sajak-sajak sosial-religius — saya yang lain lahir, baik yang terkumpul dalam buku Ciuman Pertama untuk Tuhan (Logung Pustaka, 2004), The Worshiping Grass (Bening Publishing, 2005), Sembahyang Rumputan (Bentang Budaya, 1997), Sang Matahari (Nusa Indah, 1984), Sajak Penari (Masyarakat Poetika Indonesia, 1992), dan Fragmen-Fragmen Kekalahan (Forum Sastra Bandung, 1996), maupun yang tercecer di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri.

***

Di antara lebih dari 1000 puisi yang saya tulis dalam rentang waktu lebih dari 30 tahun (1976-2016), sajak “Sembahyang Rumputan” (SR) adalah yang paling popular, paling disukai publik sastra, paling banyak mendatangkan berkah, dan paling memberi citra baik bagi kepenyairan saya. Dua kali SR mendapatkan penghargaan nasional (puisi terbaik dalam Sayembara Penulisan Puisi Iqra, 1992) dan internasional (puisi terbaik dalam Peraduan Menulis Puisi MABIMS – forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura, 2002) untuk versi pendeknya dengan judul “Zikir Rumputan”. Sajak SR juga sangat sering dipilih sebagai puisi untuk berbagai lomba membaca sajak dan musikalisasi puisi di berbagai kota dan daerah di tanah air.

Tentu saya sangat bersyukur, sajak tersebut dapat menjalani nasibnya dengan baik. Seperti pernah dikatakan oleh Sapardi Djoko Damono, sebuah karya sastra, setelah dilempar ke publik, pada akhirnya akan menjalani nasibnya sendiri, yang sering tidak terduga dan kadang-kadang penuh kejutan. Demikianlah, nasib sajak SR, sebuah puisi religius yang pencitraannya diilhami oleh gerak dan karakter rerumputan, yang kini lebih terkenal dari penyairnya sendiri.

Di dalam sajak SR itu pula terkandung spirit kepenyairan saya untuk memilih religiusitas sebagai wilayah kreatif. Sajak SR lahir dari pergulatan batin dan perenungan panjang tentang tujuan dan makna hidup sekaligus hakikat shalat yang menjadi bagian dari rutinitas keseharian seorang Muslim karena harus dijalankan lima kali sehari.
Tentu banyak versi dan penjelasan tentang tujuan dan makna hidup, tergantung pada bagaimana seseorang memahami hidupnya, dan eksistensinya, sebagai manusia, serta bagaimana ia menempatkan diri pada stratifikasi harkat kemahklukannya. Seorang hedonis, misalnya, akan memiliki tujuan dan makna hidup yang berbeda dengan seorang spiritualis. Begitu juga tujuan dan makna hidup ‘manusia profan’ akan berbeda dengan ‘manusia transenden’.

Bagi seorang Muslim berbicara tentang tujuan hidup akan selalu sampai pada pertanyaan tentang tujuan penciptaan manusia sendiri, seperti ditegaskan oleh Allah di dalam Alquran, yakni sebagai abdillah (abdi Allah) sekaligus khalifatullah (wakil Allah) di bumi. Bagi seorang abdillah, tujuan hidup adalah pengabdian sekaligus penyerahan diri secara total kepada Al Khalik. Ia akan memperuntukkan seluruh hidup dan matinya, shalatnya, serta ibadahnya, hanya bagi Allah semata, seperti ‘janji’ yang selalu diucapkannya tiap membaca doa iftitah pada awal tiap shalat wajib: Inna shalati wa nusuki, wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin (sesungguhnya shlatku dan ibadahku, hidupku dan matiku, hanyalah bagi Allah, Tuhan sekalian alam).

Sajak SR juga dapat dianggap sebagai ‘tonggak religiusitas’ kepenyairan saya. Sajak tersebut menjadi semacam mind set proses kreatif, landasan spiritual, sekaligus orientasi kepenyairan saya. Dengan kata lain, sajak SR menjadi semacam manifestasi dari ke-abdillah-an sekaligus kekhalifahan saya sebagai manusia ciptaan Allah. Sehingga, dengan demikian, kegiatan menulis sajak bagi saya adalah bagian dari ibadah — semacam ibadah kreatif — kepada Tuhan Semesta Alam, Allah SWT. [] Ahmadun Yosi Herfanda

Foto diambil dari coretan u-land wardpress.com

Related posts

Leave a Comment