AYH'S CORNER 

Berjamaah di Serambi Istiqlal

Bahagia rasanya, berjamaah dengan para penyair Muslim Indonesia di Serambi Istiqlal (Ilmu Giri, 2020). Biasanya acara sastra di Masjid Istiqlal memang diadakan di serambinya yang luas, bukan di ruang utama yang untuk shalat berjamaah. Karena itu, judulnya, saya kira, pas. Walau terkesan seadanya. Kurang eye catching. Ini merupakan antologi puisi kedua yang berkait dengan istiqlal, setelah antologi berjudul menggelegar, Takbir Para Penyair (Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, 1995).

Sesuai dengan judulnya, antologi itu berisi karya-karya 45 penyair Muslim Indonesia, dan seperti Takbir Para Penyair, dimulai denga puisi-puisi KH Ahmad Mustafa Bisri. Di Serambi Istiqlal sepenuhnya diisi para penyair Indoensia, sedangkan Takbir Para Penyair berisi puisi-puisi 46 penyair Muslim, 14 di antaranya negeri jiran, terutama Malaysia, dan terbit dalam dua bahasa, Indonesia-Inggris, denga judul The Poets Chant. Antologi ini dieditori Hamid Jabbar, Leon Agusta, dan Sitok Srengenge. Sedangkan Serambi Istiqlal dieditori oleh Iman Budi Santosa, Mustafa W. Hasyim, dan Nasruddin Anshory Ch.

Pada Takbir Para Penyair, tim editor menempatkan lima puisi saya, yakni “Sajak Kepompong”, “Sajak Urat Leher”, “Sajak Orang yang Sendiri”, “Sembahyang Rumputan”, dan “Zikir Seekor Cacing”. Sedangkan pada Serambi Istiqlal hanya empat puisi yang diloloskan oleh tim editor, yakni “Kereta Azan”, “Bertemu di Raudhoh”, “Ziarah Senja”, dan “Sujud Bunga Teratai”.

Banyak “wajah baru” yang ikut berjamaah di Serambi Istiqlal, yang dulu belum muncul di Takbir Para Penyair, seperti Abdul Wachid BS, Abidah el Khalieqy, Aslan Abidin, Candra Malik, Fikar WEda, Hasan Aspahani, Hudan Nur, Iyut Fitra, Kunni Masrohanti, Nana Ernawati, Raudal Tanjung Banua, Soni Farid Maulana, Toto ST Radik, dan Ulfathin Ch. Mereka memberi warna baru pada kepenyairan Muslim Indonesia. (red)

Related posts

Leave a Comment