PESTA KURBAN ANAK KAMPUNG

Ketika masih kecil dan tinggal bersama Bude di kampung, saya bertetangga dengan orang berpunya yang cukup dermawan. Saya ingat betul, setiap Idul Adha, dia berkurban beberapa ekor kambing. Salah satu kambing, sehabis bipotong dan dikuliti, digantung terbalik di pohon jeruk, di halaman belakang rumahnya. Lalu dia memanggil anak-anak kampung, termasuk saya, untuk manimati daging kambing segar itu.

 

Anak-anak dibiarkan memilih dan mengiris sendiri daging bagian mana yang mereka sukai. Disediakan beberapa potong pisau, segepok tusuk sate, beberapa mengkuk sambal kecap, dan dua pemanggang sate. Maka berebutlah anak-anak, termasuk saya, mengiris daging kambing yang tergantung itu. Ada yang memilih daging paha, daging punggung, daging kaki depan, dan daging mana saja. Lalu mereka potong-potong sesuai selera, menusuknya dengan tusukan sate, secara bergantian memanggang, mengolesi sambal kecal, dan menyantapnya. Wah… rasanya legit dan gurih.

——————————————-

Foto diambil dari dompetdhuafa.org

——————————————-

 

Tiap Idhul Adha, bahkan setiap makan sate kambing, saya selalu ingat “pesta kurban” anak-anak kampung itu. Kenangan masa kecil yang nikmat dan tentu menyenangkan sekaligus mengenyangkan. Saya jadi ingat, kawan yang suka memotong-motong daging kambing besar-besar, sehingga setelah matang dia kerepotan memasukkan ke mulut untuk menyantapnya. Ada juga anak yang curang, mengambil sate yang sudah matang padahal satenya baru saja dia taruh di pemanggangan. Dan, berbagai ulah lucu nak-anak kampung yang lugu.

                             ***

 

Ketika itu, karena masih ingusan, saya belum tahu apa makna dan hikmah ibadah kurban. Tahunya, anak-anak kampung bisa pesta daging kurban. Setelah sewasa, dari ceramah ustad, baru tahu bahwa ibadah kurban adalah  ibadah yang sangat disukai Allah pada saat Idul Adha.

 

Tiap Muslim disunahkan untuk berkorban satu ekor kambing per orang, atau satu ekor sapi untuk tujuh orang. Jika satu keluarga ada tujuh orang, jika mampu dan ikhlas, sangat diutamakan berkurban satu ekor sapi untuk satu keluarga.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada Hari Raya Idul Kurban yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengucurkan darah (berkurban). Sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan itu akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya.”

Dalam Hadis yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah itu juga dijelaskan, setiap helai bulu hewan kurban akan dibalas satu kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap satu helai rambut hewan kurban adalah satu kebaikan.” Lalu, sahabat bertanya, “Kalau bulu-bulunya?” Beliau menjawab, “Setiap helai bulunya juga satu kebaikan.”

Berkurban tentu bukan sekadar mengalirkan darah binatang sembelihan, tidak sekadar memotong hewan kurban, tidak sekadar “pesta daging segar” yang menyenangkan anak-anak kampung. Namun, berkurban berarti sebuah ketundukan seorang hamba kepada perintah Allah dan bukti rasa syukur atas nikmak-nikmat-Nya.

Disebutkan dalam QS Al-Kautsar ayat 1-2 bahwa, setelah kenikmatan yang besar, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mendirikan shalat dan berkurban sebagai bukti rasa syukur atas nikmat-nikmat itu.

Menurut Hadis yang diriwayat Ibnu Majah dan Tarmidzi, darah kurban akan sampai kepada Allah, di mana pun hewan itu disembelih. Sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskan menyembelihnya.”

***

 

Kurban juga menjadi  ciri keimanan dan ketakwaan seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mendapati dirinya dalam kelapangan lalu ia tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Id kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Ibadah kurban juga bernilai syiar Islam. Hal ini dijelaskan dalam QS Al Hajj ayat 34 yang artinya, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”

Selain untuk mengabadikan ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah (QS Ash-Shaffat: 102-107), ibadah kurban juga mengandung misi kepedulian kepada sesama, sebagaimana sabda  Rasulullah SAW, “Hari Raya Kurban adalah hari untuk makan, minum, dan zikir kepada Allah SWT.” (HR Muslim).

Dengan demikian, nilai-nilai ibadah kurban sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan guna diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Daging kurban dibagikan kepada warga dari semua golongan, agar rakyat kecil bisa menikmati daging kurban dan bergembira bersama kita. Rugilah orang yang mampu tapi melewatkan ibadah mulia ini. Wallahu alam bissawab. @ ahmadun yh