POEM PUISI 

JAKARTA MEMANGGILKU ANGIN MUSIM GUGUR

Puisi-puisi: Iman Sembada ___________________________________________________________________

 

JAKARTA MEMANGGILKU BERKALIKALI

Pagi ini, Jakarta memanggilku berkali-kali
Apakah aku bisa bertemu lagi dengan mantan
pacarku? Aku baru saja turun dari sebuah bus
antarkota antarprovinsi. Jakarta sedang sibuk

Mimpiku tersangkut di ranting-ranting angin
Menjelma layang-layang dalam imajinasi
anak-anak. Siapakah yang mengganti nama
Batavia menjadi Jakarta? Siapa yang melihat
becak terakhir hilang dari Jakarta? Jangan main
lenong seperti itu, lenong bukan pertunjukan sirkus
Lalu tikus-tikus berlarian di saluran got bau pesing

Tetapi, Jakarta telah menjadi kota yang penuh
intrik dan skenario politik. Ada pelajar tawuran
Di jalan raya, ada juga polisi menembak polisi
di rumah polisi. Ada pula kursi yang patah tak
kuat menahan korupsi. Mantan pacarku adalah
perempuan yang hidup dalam buku resep masakan

Inikah Jakarta yang memanggilku berkali-kali
Lewat bunyi klakson? Aku masuki lagi rumah
kontrakanku. Lagu Koes Plus mengalun dari
rumah tetangga: Ke Jakarta aku kan kembali
Walaupun apa yang kan terjadi. Sebuah lagu
lama tiba-tiba membangkitkan kesadaranku
Seperti membangunkan gunung yang tidur
dalam simpul-simpul musim. Ada tahi cicak
menempel di dinding kamar. Lalu aku melihat
orang-orang keluar dari bayangan kecemasan

Jalanan, 16 Agustus 2022

 

ANGIN MUSIM GUGUR

Angin musim gugur berkesiur
Menghasrati hangat segelas
anggur. Di antara meja-meja
bujur sangkar kita berkelakar
Mentertawakan diri sendiri

Dunia tidak sebatas lift
yang kita buka. Bunyi klakson
membuat lagi peta perjalanan
yang harus kita tempuh. Kita
lewati hari-hari tanpa cermin

Daun-daun yang gugur
akan menjadi humus. Mungkin
angin akan segera bersalin
Menguarkan harum tembakau
dari negeri tropis. Kita tidak
pernah membuat jadwal
kepulangan. Orang-orang
terjebak dalam lift yang
tertutup. Lift seperti peti mati

Di sepanjang musim gugur
Segala kenangan menghambur
Kita masih berkelakar
di antara meja-meja
bujur sangkar. Dan tidak henti
Menertawakan diri sendiri

Jalanan, September 2022

 

PIDATO DI ATAS KUBURAN

Aku mencium bau kesedihan dalam tangismu
Kesedihan dari sebuah kematian. Siapakah
yang mati, 20 menit yang lalu? Daun-daun
berguguran bersama acara tabur bunga
dan pidato di atas kuburan. Hari ini kau
berkabung, melebihi cuaca yang muram

Angin mendesak ke dadamu. Dadamu yang
sesak dan akan meledak. Aku masih mencium bau kesedihan. Aku melihat seorang lelaki berteriak histeris di seberang jalan, sepertia ada speaker dalam mulutnya. Tanah kuburan seperti baru saja dibasahi tetes-tetes airmata

Siapa yang telah mati? Tanah kuburan pun
bersedih. Sebuah kematian, seperti tulang ikan
di tenggorokanmu. Tembok-tembok dipenuhi
grafiti kehilangan. Tanah kuburan menyimpan
mayat-mayat. Mayat-mayat tanpa asuransi

Kau masih menangis. Apakah kematian harus
ditangisi? Ke mana ruh pergi setelah keluar dari
badan? Di laut ada bayangan langit. Langit yang
biru dan putih. Orang-orang larut dengan pikiran
dan kenangan masing-masing. Bau kematian
dan requim: selamat berakhir pekan di kuburan

Depok, September 2022

 

 

Iman Sembada, lahir di Nglejok, sebuah dusun kecil yang terletak di wilayah Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan melukis. Buku antologi puisi tunggalnya antara lain Airmata Suku Bangsa (2004), Perempuan Bulan Ranjang (2016), dan Orang Jawa di Suriname (2019). Biografinya juga termaktub dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017).

 

 

Related posts

Leave a Comment

twenty + 10 =