Seniman dan Warga Ramaikan FLT

warga

Tangsel (Litera.co.id)- Festival Literasi Tangerang Selatan (FLT) hari pertama telah dibuka hari Sabtu 04/11. Rencana FLT ini akan berlangsung selama 2 hari hingga hari ini Minggu 05/11. Pada hari pertama sejak pembukaan acara hingga selesai acara berjalan meriah. Tidak hanya seniman, namun banyak elemen warga Tangsel terlihat hadir dan mengikuti acara secara antusias event FLT yang dihelat di Kandank Jurank Doank (KJD) ini.

Acara dibuka pada pkl 15.00 berlokasi di lapangan tengah KJD. Dipandu MC Irwansyah, acara dimulai dengan sambutan oleh panitia yang menyampaikan misi dan tujuan serta harapan dengan berlangsungnya FLT ini. Secara bergantian panitia yang terdiri dari Hilmi Fabeta, Sartika Dian, dan Beni Satria memaparkan pada rekan-rekan yang hadir hal yang berkaitan FLT ini.

Sambutan berikutnya disampaikan ketua Dewan Kesenian Banten (DKB) Chavchay Syaifullah. Chavchay secara menggebu-gebu menyampaikan tentang apa literasi itu. Sementara sambutan dari pemerintah kota diwakili oleh kepala Bappeda Tangsel, Mochamad Taher Rohmadi. Dalam sambutannya kepala Bappeda mengatakan jika literasi adalah keseimbangan rasa dan rasio. Ia juga mengajak warga bersenam jari yang disebut “jembatan korpus” yaitu jembatan antara realistis dan estetis. Mochamad Taher juga berharap FLT ini benar-benar bisa dinikmati warga awam, tidak hanya seniman. Selanjutnya sambutan dari Asisten Daerah (ASDA) 1, Rachmad Salam. Selain menyampaikan harapannya, ASDA 1 juga membacakan salah satu puisi di buku tersebut.

Acara kemudian dilanjutkan baca puisi dan talkshow yang menandai launching buku antologi puisi yang berjudul Situ, Kota, dan Paradoks dengan menampilkan ketua DKB, Chavchay Syaifullah dan Esha Tegar Putra.

Acara rehat untuk sholat maghrib dan dilanjutkan kembali pada pkl 19.00. Kali ini acara dilangsungkan di panggung bawah KJD. Masih dipandu Irwansyah, acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh beberapa penyair undangan seperti Kiki Sulistyo, penyair asal Mataram, NTB, Esha Tegar Putra, dan Saras Dewi. Saras Dewi yang tampil mengenakan baju panjang putih malam itu membacakan tiga puisinya.

Acara makin semarak dan warga mulai banyak berdatangan memenuhi tempat duduk melingkar yang menghadap panggung. Penampilan luar biasa kolaborasi musisi dan penyair malam itu sungguh menghentak. Para penyair diminta dulu membacakan puisi sebelum kemudian puisi itu dinyanyikan oleh para musisi. Acara ini sangat menyedot perhatian para penonton. Dikemas secara teatrikal, musikalisasi ini diangkat dari tema FLT, menggambarkan Situ, Kota , dan Paradoks.

Selesai penampilan kolaborasi, panitia FLT menyampaikan pengumuman sejenak. Ternyata panitia FLT telah menyiapkan sebuah agenda bernama “Penghargaaan Literasi.” Ada 3 komunitas atau lembaga dan perorangan yang mendapat penghargaan panitia FLT. Dalam pengantar singkatnya panitia FLT menyampaikan jika penghargaan tersebut didasarkan pada dedikasi lembaga atau perorangan pada literasi. Gita Irawan menerima penghargaan untuk puisi terbaik hasil kurasi. Andy Lesmana ketua Malam Puisi Tangerang (MPT) mendapatkan penghargaan atas usahanya memasyarakatkan acara baca puisi dari satu tempat ke tempat lain. Litera.co.id juga mendapat penghargaan untuk kategori media yang eksis mengusung literasi.

Seusai pemberian penghargaan, acara dilanjutkan kembali dengan penampilan Jason Ranti. Jason membawakan enam lagu yang jenaka dan penuh satir. Jason sempat mengundang Edi Bonetski, seniman Tangerang untuk tampil di atas panggung. Penampilan terakhir diisi oleh Dik Doank dan rekan-rekan komunitas KJD. Lima lagu yang religius dan penuh pesan dinyanyikan Dik. Dik sengaja ingin mengakhiri acara hingga pkl 00.00 agar FLT hari pertama terasa berjalan seharian.

(Mahrus Prihany)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *