Peran Penting Penyair Indonesia di Level Asia Tenggara

P71104-170941-001

JAKARTA (Litera.co.id) – Diskusi bertajuk “Kiprah Penyair Indonesia di Kancah Asia Tenggara” yang diadakan di Museum Layang-Layang Indonesia, Jalan H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Sabtu (4/11) sangat menarik perhatian para sastrawan dan para aktivis penggerak literasi.

Diskusi yang dimulai pukul 17.00 WIB itu dimoderatori oleh penyair Sosiawan Leak, menghadirkan empat narasumber yakni Bundo Free Hearty M.Hum, Mohammad Rois Renaldi, Danny Susanto, dan Endang Drajat.

Sejauh ini kesusastraan Indonesia mendapat pengakuan dari para sastrawan-sastrawan Asia Tenggara, terutama pengakuan dari sastrawan negeri serumpun. Hal itu dikatakan Danny Susanto karena Indonesia punya banyak kebudayaan, itulah yang membuat karya-karya penyair Indonesia kaya akan ragam dan tema. “Sastrawan asing sangat agresif agar karya-karya mereka bisa diterjemahkan ke lain bahasa, misalnya bahasa Indonesia,” ujarnya.

Peran dan kiprah penyair Indonesia di level Asia Tenggara sangat penting. Bundo Free Hearty mengungkapkan bahwa karya-karya penyair Indonesia seperti Rendra, Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri telah dijadikan mata pelajaran di kampus-kampus negeri serumpun (Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura).

Diskusi ini juga dihadiri para penyair antara lain Herman Syahara, Darmadi, Rukmi Wisnu Wardani, Deddy Tri Riyadi, dan lain-lain.

Dan tak kalah penting adalah peran para penerjemah. Jika sastrawan membentuk kesusastraan nasional, maka penerjemah membentuk kesusastraan internasional. (R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *