Dahayu: Perempuan Perkasa, Cita-cita dan Kematiannya

Danang solo

Danang Febriansyah, beralamat di Bulukerto, Wonogiri. Aktif tergabung dalam FLP Solo, Sastra Alit Solo dan #KampusFiksi Jogja. Sedang merintis taman baca di sebuah desa. Karya-karyanya berupa prosa dan resensi telah dimuat di beberapa media massa selain tergabung di beberapa antologi buku bersama.

 

Dahayu berjalan menyusuri pematang sawah yang berundak dan masih berselimut embun. Bila kebahagiaan adalah menghirup udara pagi pedesaan, maka Dahayu sudah bosan dengan kebahagiaan itu. Di sawah ia akan menyabit rumput untuk ternak-ternak suaminya. Sapi dan kambing yang jika Dahayu mendekat, maka mereka bagai didatangi sang induk.

Ia mengibaskan kakinya untuk mengurangi embun yang membasahi rerumputan di pematang sawah. Segenggam demi segenggam rumput ia kumpulkan dalam keranjang di punggungnya.

Sampai beberapa saat kemudian, Dahayu menghentikan kegiatannya. Ia mendongak ke atas saat sepasang kaki bersepatu boot berhenti tepat di hadapannya. Ia mengernyit, belum sekalipun ia mengenal lelaki muda di hadapannya.

Dahayu hanya tahu, lelaki muda itu yang sebulan terakhir selalu melewati pematang di sawah ini. Sesekali bertanya pada petani yang kebetulan ada di sawah. Ia sebatas hanya tahu itu. Tidak mengira ia merasa akan mendapat giliran untuk ditanya.

“Kamu bukanlah perempuan yang banyak bicara tapi tak mampu melakukan pekerjaan pria seperti yang kamu lakukan.” Pemuda itu menatap Dahayu yang masih jongkok dengan senyum. “Berdirilah.”

Dahayu berdiri, mengelap tangannya yang basah oleh embun dan kotor oleh tanah pada roknya. Ia menunduk tanda hormat pada pemuda yang tak berpenampilan layaknya pemuda desanya.

“Kami biasa melakukan ini,” ujar Dahayu pelan.

“Oh ya, aku datang bersama kawan-kawan. Selama sebulan kami tinggal di rumah Kepala Desa. Kami sedang KKN di desa ini.” Panji, pemuda itu mengulurkan tangannya dan dijabat oleh Dahayu setelah beberapa saat terulur hampa. Mereka berkenalan

Panji merasa, usia Dahayu tak terpaut jauh dengannya. Namun pekerjaan yang dilakukan Dahayu baginya lebih layak dilakukan pria atau wanita paruh baya.

“Tak usah memandangku heran seperti itu. Kami perempuan-perempuan desa, memang sudah terbiasa pergi ke sawah sejak pagi, menyabit rumput dan saat pulang harus membawa batu untuk kami pecah menjadi koral di rumah.”

“Untuk siapa kamu bekerja sekeras itu?”

“Anak. Siapa lagi?”

“Kamu sudah punya anak?”

“Lebih cepat punya anak bukannya lebih baik daripada terlambat atau tidak sama sekali?”

Pemuda itu diam. Sebagai pemuda kota, ia tak pernah sekalipun melihat betapa keras hidup wanita di desa ini. Bahkan Dahayu yang semuda itu sudah harus mengurus anak. Sementara ia bergelut dengan ilmu di kampus. Dan sebagai mahasiswa, ia tak mampu menjawab pernyataan Dahayu itu.

Namun ia terus digelayuti sebuah pertanyaan yang dalam. Yang menggugah karakternya sebagai lelaki.

“Suamimu kemana?” Lirih Panji bertanya. Suaranya nyaris tertahan.

Benar saja, Dahayu diam seketika. Ia kembali jongkok dan menyabit rumput. Namun itu dilakukan tak sesemangat tadi. Gerakannya lemah.

“Maaf.” Kembali pemuda itu bicara dengan suara yang pelan.

“Tidak. Ia ada di rumah. Mungkin sedang membersihkan alat pancingnya.”

Panji mendapati dirinya menjadi seorang yang paling berpendidikan di desa itu, ia merasa Dahayu adalah cerminan orang-orang desa. Lalu dilihatnya penampilan Dahayu yang sekedarnya, tanpa alas kaki dengan kaos oblong yang bagian lehernya sudah longgar.

“Kamu tidak berniat…”

“Kuliah? Aku terus punya tekat untuk itu. Meski pernah digagalkan oleh pernikahan hampa ini. Aku terus menyimpan niat itu.” Dahayu merasa – perasaan seorang perempuan – Panji membandingkan penampilan mereka.

“Ah, maaf. Aku harus pulang. Suamiku bisa marah kalau aku terlambat.” Buru-buru Dahayu kembali menggendong keranjangnya yang belum penuh terisi rumput.

Panji masih terdiam memandang kepergian Dahayu yang berjalan menuruni pematang sawah dan melewati sungai. Diambilnya sebongkah batu yang tampaknya cukup berat, namun dipaksanya tubuh perempuan Dahayu untuk kuat membawa beban itu.

Ingin rasanya Panji membantu, namun ia seperti terpaku, tak bisa bergerak. Hanya gumpalan pikiran yang bergumul di kepalanya.

***

“Kau jangan berteriak perempuan harus setara laki-laki. Apa sudah melihat seluruh perempuan di negeri ini?” Di rumah kepala desa, tempat mahasiswa-mahasiswa itu tinggal, Panji bicara pada Cetta, kawan perempuannya di pendhapa joglo.

“Melihat? Harus kau tahu, perempuan itu harus sejajar dengan lelaki, apapun itu!”

Panji tersenyum, “Perempuan desa ini sudah jauh melakukannya sebelum kamu dan perempuan sepertimu bicara. Mereka melakukan hal itu, bukan cuma bicara.”

“Apa maksudmu?”

“Kau bisa menyabit rumput? Kau bisa mengangkat bongkahan batu dari sungai untuk kau pecah-pecah menjadi koral? Kau bisa memberi makan beberapa ternak?”

“Itu tugas lelaki.”

“Kau bilang tadi perempuan harus sejajar dengan lelaki. Dan kau belum melakukan hal itu, tapi perempuan desa ini telah melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Jauh dari yang kau wacanakan.”

“Siapa perempuan itu?”

“Perempuan-perempuan desa ini. Salah satunya adalah Dahayu, perempuan seumuran kita yang telah menikah dan memiliki anak. Dan …”

“Dan …”

“Dan ia ingin setara dengan lelaki, melanjutkan pendidikannya.”

***

Rutinitas Dahayu tidak berubah. Mengantar anak sekolah, mencari rumput dan nanti saat pulang, ia akan mampir ke sungai untuk mengambil batu.

Dan rutinitas Dahayu sudah diketahui oleh Panji. Pemuda itu lebih dulu sampai di area persawahan. Mengamati padi-padi yang telah menguning. Melihat burung-burung yang bergerilya menyantap gabah-gabah. Beberapa petani pun mengusir burung-burung kecil itu dengan berteriak-teriak. Beberapa telah menggantungkan kaleng-kaleng yang diisi kerikil di sebuah tiang bambu dan diulurkan dengan tali ke gubuk. Petani itu menarik tali dari gubuk sehingga kaleng-kaleng berbunyi mengusir burung-burung yang mencoba menghabiskan gabah yang masih melekat di batangnya.

Suasana itu, bagi Panji adalah sebuah kedamaian. Ia bahkan mencium aroma sangit di sawah itu. Penciumannya mengendus. Terasa aneh ada aroma semacam ini.

“Itu bau walang sangit.” Dahayu telah sampai di belakangnya.

Wanita desa itu seperti biasa, menggendong keranjang untuk tempat rumput. Panji menoleh, ia tersenyum.

“Oh, sejenis serangga?”

“Begitulah. Karena baunya yang menyengat seperti ini, maka dinamakan walang sangit. Kamu belum pernah lihat?”

Panji menggeleng. Dahayu menunjuk seekor serangga sejenis belalang berwarna hijau bertubuh kecil yang hinggap di batang padi dekat mereka.

“Apa kamu sudah memasak kalau kamu tinggal ke sawah?” Panji mengalihkan pembicaraan.

“Semua sudah aku siapkan sebelum memandikan anak bungsuku.”

Panji terperanjat. Artinya Dahayu tidak hanya memiliki anak yang sekolah. Keningnya berkerut. Dahayu tahu itu sebuah pertanyaan.

“Anakku dua, yang sudah sekolah dan yang bungsu dua tahun.”

“Siapa yang menjaga anakmu kalau kamu ke sawah sepagi ini?”

“Neneknya.”

“Bapaknya kerja juga?”

“Kamu banyak bertanya ya?”

“Maaf. Demi kepentingan tugas akhir.”

“Haruskah bertanya hingga keluargaku?”

“Agar sempurna tulisanku tentang kehidupan desa. Boleh ‘kan?”

Dahayu meski tidak paham dunia perkuliahan, namun ia merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan Panji. Terlepas benar atau tidak tujuan pertanyaan Panji, Dahayu hanya merasa bisa melepaskan beban dengan menjawab pertanyaan meskipun baginya terasa tidak ada hubungan dengan pendidikan yang dijalani Panji.

“Sudah kubilang beberapa hari lalu, bapaknya duduk, membersihkan pancingannya.” Namun dijawab juga pertanyaan Panji.

Jawaban itu membuat Panji terobek jiwa lelakinya. Sebagai pria, seharusnya suami Dahayu tidak hanya berdiam diri memuliakan hobinya. Ia tidak boleh membiarkan istrinya bekerja sekeras ini.

“Semua suami di desa seperti itu?”

“Bukannya suami di kota juga ada yang seperti itu?”

Panji selalu diam ketika pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan juga oleh Dahayu. Ia merasa tak sepantasnya Dahayu diperlakukan oleh suaminya begini rupa.

“Tidakkah lebih baik tidak membicarakan pribadiku?” Dahayu mengalihkan perhatian. Ia enggan untuk membicarakan itu. Sebab sawah adalah pengalihan yang seharusnya.

“Adakah bahaya di sawah yang damai seperti ini?” Panji menuruti permintaan Dahayu.

“Tentu. Bahkan kematian bisa saja terjadi di sawah yang kau anggap damai ini.”

“Seperti apa?”

“Terpeleset, contoh kecilnya. Disambar petir atau digigit ular berbisa.”

“Lalu kenapa kau bertelanjang kaki?”

“Ini memudahkan aku berjalan di pematang sawah.” Dahayu menjawab ringan.

Panji melihat jam tangannya. Tepat jam sembilan pagi. Ia harus kembali ke tempatnya tinggal, berkumpul bersama kawan-kawannya untuk melaksanakan jadwal terakhirnya selama di desa ini. Besok harus kembali.

“Aku harus kembali.” Panji menghela napas, “Dan … hati-hati.”

Setelah beberapa hari ini mendapatkan sesuatu di sawah ini, hari ini Panji merasa berat untuk kembali ke rumah kepala desa. Harus ada yang tertinggal di desa ini.

Tapi dengan berat, Panji beranjak saat Dahayu menatapnya, di kalimat terakhir.

***

Mata yang sembab mengiringi langkah kaki Dahayu di sawah. Betapapun kuat seorang perempuan, air mata tetaplah mengalir dengan mudahnya, bagi Dahayu. Ia merasakannya.

Dahayu ingin melihat ada kehangatan di sawah tempatnya menyabit rumput. Ia ingin kehangatan itu hadir di tengah sejuknya udara pagi ini. Diedarkan pandangannya ke segala arah mata angin. Ia tak mendapati. Dihempaskannya keranjang dan sabit di pematang sawah. Ia terduduk di sana. Air matanya masih mengalir.

Perihnya pisau yang mengiris hatinya dari kalimat yang diucapkan Mahadri, suaminya tadi pagi begitu menghujam.

Dahayu dengan sadar dan rela melakukan segala hal yang seharusnya sang suami yang melakukan, atau setidaknya membantunya. Ia harus mencari rumput tiap pagi, memberi makan ternak-ternak yang dibeli Mahadri – dengan uang hasil kerja Dahayu. Mengantar anak sekolah, memandikan si bungsu, menyuapi.

Lalu Mahadri akan berteriak marah-marah ketika meja makannya masih kosong. Dahayu belum sempat memasak. Dan ibunya, nenek dari anak-anaknya tak sanggup lagi bekerja, meski hanya sekedar memasak.

Mahadri tidak mau tahu. Nasehat mertuanya akan didengarnya, bagaimanapun Mahadri punya rasa hormat. Namun nasehat itu tidak pernah dijalani. Oh, andai dia tidak kuat, ia pasti telah meminta cerai.

Sekedar hal kecil itu pula yang membuat Mahadri kalap. Perut yang lapar tidak mampu diajak berlembut hati.

“Pergilah! Pergilah mencari rumput. Itu pekerjaan perempuan! Tapi bukan berarti meja makan kosong begini!” Mahadri berteriak di sebelah meja makan.

“Mahadri. Berbagilah pekerjaan dengan istrimu, ia istrimu, sigaraning nyawamu. Hidupnya itu hidupmu. Kalau Dahayu memasak, kamu pergilah yang mencari rumput.” Bergetar suara mertuanya, ibu dari Dahayu. Perempuan tua itu rupanya mendengar kemarahan menantunya.

“Maaf, Bu. Tapi Dahayu sudah keterlaluan. Ia tidak juga memasak meski bangun sejak subuh!” Mahadri mencoba meredam suaranya, meski masih terdengar amarahnya.

Dahayu hanya diam, ia merasa tidak bebas bicara dalam tekanan seperti ini. Dilihatnya anak sulungnya sudah siap berangkat sekolah. Ia harus mengantarnya.

“Antarkan anakmu sekolah, biar Dahayu memasak.”

“Ya sudah. Tidak perlu aku sarapan. Aku bisa makan di warung. Pergilah, cari rumput sana!”

“Tolonglah, Mahadri. Dimana kelembutanmu saat melamar Dahayu dulu? Pergilah sekali-kali mengantar anak kalian dan cari rumput. Biar Dahayu memasak.” Nenek itu merasakan kejanggalan di hatinya. “Sekali ini saja…”

“Tidak. Si Sulung lebih suka Dahayu yang mengantar sekolah. Lalu cari rumput.” Mahadri masih menjawab, dengan tenang. Lalu mendekati Dahayu, “Cepat pergilah. Aku akan urus surat cerai kita!”

Dahayu pun menuruti Mahadri, dilihat mata ibunya berkaca-kaca. Ada perasaan yang muncul di kedalaman mata tua itu.

Dan kata cerai itu, kata yang tabu diucapkan oleh warga desanya, telah diiriskan bagai pisau yang tajam ke hatinya oleh Mahadri. Semudah itu Mahadri mengucap kata pamungkas itu. Meski bertubi-tubi ia dihantam beban yang besar begitu rupa, namun kata itu, kata cerai itu, selalu Dahayu buang jauh-jauh. Ia sadar, anak-anak mereka yang akan jadi korban. Dahayu begitu rupa merelakan harga dirinya diinjak-injak Mahadri demi menyelamatkan anak-anak mereka. Sampai kapanpun Dahayu akan terus berusaha menjaga rumah tangganya tetap utuh.

Embun pagi yang sejuk tak mampu meredam sakit yang dirasakan Dahayu. Yang diharapkan mampu meredam dengan percakapan-percakapan yang terjadi, tidak juga muncul. Ia ingin bertanya lebih jauh tentang niatnya kuliah. Setidaknya pernah ada kabar di kecamatan akan dibuka Universitas Terbuka, itu merupakan kesempatan yang datang pada Dahayu. Ia ingin hidup dengan lebih baik. Juga ingin anak-anaknya akan malu jika hanya sampai pendidikan dasar sementara ibunya adalah seorang sarjana.

Dahayu berdiri. Rumput dan sawah adalah dunianya. Meski pagi ini tidak mendapati Panji yang biasa datang dan mengajaknya bicara. Sejenak meredam panas hatinya akan kalimat-kalimat yang dilontarkan Mahadri.

Tidak didapatinya Panji pagi ini dirasakan Dahayu sebagai sebuah kehilangan. Dilihatnya keranjang rumput masih kosong. Sementara air matanya sudah reda. Ia segera mengambil sabit dan menggenggam rumput. Secepat itu pula ular berwarna belang hitam dan putih mematuk tangannya.

Dahayu menjerit, pelan. Ia mengusir ular weling itu, namun binatang melata tersebut tetap diam. Dahayu berdiri mencoba pindah tempat, langkahnya terhuyung. Pandangannya kabur. Tepat saat akan terpeleset, Panji berjalan cepat sambil menjaga keseimbangan di atas pematang menangkap tubuh Dahayu. Sebuah benda terjatuh dari genggaman Panji.

Dalam pandangan yang kabur, Dahayu menatap wajah Panji. Dalam jiwanya yang gersang semacam padang yang tandus, kehadiran Panji seperti setitik embun yang membasahinya.

Jantungnya kian cepat berdetak.

 

***

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *