SCA: Bukan tentang Ciuman

22007569_1631796046871162_7789915520776499660_n

Jakarta (litera.co.id)- Salah satu sesi panggung Sastra Reboan (SR) kali ini yang dilangsungkan pada hari Rabu (27/9) adalah bincang buku kumpulan puisi Weni Suryandari yang berjudul Sisa Cium di Alun-Alun (SCA) terbitan Taresi Publisher. Tampil sebagai moderator adalah Setyo Bardono yang dikenal sebagai sastrawan KRL dan sebagai pembahas Sofyan RH Zaid. Mereka berdua dalam prolog bincang mengaku hanya sebagai pengganti. Seharusnya tampil sebagai pembahas dan moderator adalah Budhy Setyawan- yang secara kebetulan tak bisa hadir karena sedang bertugas di luar kota- dan Zay lawanglangit yang malam itu bertukar peran sebagai seksi dokumentasi. Weni Suryandari sebagai penulis buku turut menyertai acara bincang sastra.

“Awalnya saya ingin membahas buku ini dalam perspektif sufisme karena saya menemukan cukup banyak puisi yang bernafaskan sufistik. Tapi karena saya harus menyesuaikan tema acara SR malam ini yang mengusung “Cinta”, maka saya akan membawa bahasan kita dengan perspektif ‘Romantisme’,” terang Sofyan RH Zaid. Sebelumnya Sofyan menjelaskan jika ia menemukan ada cukup banyak puisi yang menggunakan nama tokoh Darwish yang sesungguhnya dinisbatkan pada sosok sufi. Lebih lanjut Sofyan juga menegaskan jika puisi-puisi Weni itu adalah puisi prosaik karena ditulis menyerupai prosa dengan memiliki alur cerita dan karakter atau tokoh di dalamnya.

“Tapi jangan dibalik bahwa ini prosa liris. Puisi prosaik tentu berbeda dengan prosa liris,” lanjut penyair Madura kelahiran 31 tahun lalu tersebut. Sofyan melanjutkan bahwa romantisme dalam puisi-puisi Weni cukup kental karena dibangun dengan emosi dan perasaan yang dalam. Penyair Pagar Kenabian tersebut lalu membacakan sebuah puisi dari buku SCA.

Setyo Bardono yang menjadi moderator memberi kesempatan pengunjung untuk bertanya. Zay Lawanglangit juga turut bertanya. Ia seakan mewakili pertanyaan orang banyak tentang judul buku tersebut kenapa menggunakan kata “Cium di Alun-Alun” sementara banyak juga tentang laut dibahas dalam buku tersebut.

“Sesungguhnya puisi ini bukan tentang ciuman. Kata ‘sisa’ dalam buku ini juga telah dibahas dalam prolog dan epilog. Kata ‘cium’ sendiri bisa berarti sesuatu yang sangat bermakna seperti tentang pengembaraan batin, tentang kerinduan pada alam, kehidupan, dan sang pencipta. Sejak kecil ayah saya sering mengajak dan mengajarkan saya tentang banyak hal. Jika kata ‘laut’ banyak muncul karena saya punya banyak kenangan juga tentang laut bersama ayah saat kecil,” terang Weni yang juga telah menulis dan menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Kabin Pateh. Pada akhir sesi bincang, penyair yang juga guru di sebuah sekolah di Bekasi tersebut turut membaca puisi karyanya sendiri. Dan terasa seperti ada sisa cium di atas panggung.

(Mahrus Prihany, foto oleh: Alya Salaisha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *