Berita PERISTIWA 

JOKPIN: BERANGKAT DARI OBJEK DAN PERISTIWA

JAKARTA (litera) — Penyair Joko Pinurbo atau yang lebih dikenal dengan nama Jokpin, berbagi banyak hal tentang pengalaman dan pengetahuannya tentang puisi dalam suatu bincang renyah dan asyik melalui akun media Instagram pada Minggu, 17 Oktober 2021. Bincang tersebut dipandu oleh Febi Indirani dari Satupena. Lebih satu jam Febi mengulik banyak hal tentang puisi khususnya puisi-puisi Jokpin yang terkesan lucu dan main-main namun sesungguhnya penuh permainan yang mengajak para pembaca berpikir.
“Saya sebenarnya ingin selalu memberikan ruang pada pembaca pada puisi-puisi saya,” ungkap Jokpin. Penyair yang sebenarnya telah menulis puisi pada usia remaja, tepatnya tahun 1977, namun baru berani menerbitkan buku beberapa puluh tahun kemudian tersebut menambahkan bahwa banyak puisinya mungkin terasa pendek namun sesungguhnya ia menyampaikan banyak hal. Ada teks yang bisa dibaca pembaca tanpa ia menuliskan teks tersebut pada puisinya.
Penyair yang pada awalnya bercita-cita menjadi pastur itu menjelaskan bahwa penyair sesungguhnya sama seperti pastur, sama-sama beribadah lewat kata.
Jokpin menjelaskan pada Febi jika profesi penyair adalah pilihan yang serius dan merupakan pekerjaan bagi Jokpin.
“Saya biasanya memulai kerja atau menulis puisi pada waktu sebelum subuh. Itu waktu yang paling penuh inspiratif bagi saya. Meski mungkin saya tidur larut karena menonton bola, namun saya akan bangun dan menulis pada saat subuh meski mungkin nanti tidur lagi, tutur Jokpin. Bagi Jokpin ada tiga tahapan untuk menulis puisi. Pertama menabung ide dan kata. Kedua, mengendapkannya. Ia bisa butuh waktu cukup lama mengendapkan suatu puisi. Tahap ketiga, adalah menuliskannya menjadi puisi atau yang Jokpin sebut sebagai eksekusi. Ini tantangan tersendiri baginya. Jokpin ternyata sering juga menulis puisi tidak sekali jadi tapi butuh waktu cukup lama.
Saat Febi menanyakan bagaimana cara Jokpin menemukan ide untuk menulis puisi, Jokpin menjelaskan bahwa ia berangkat dari objek atau suatu peristiwa.
“Saya menjumpai objek atau peristiwa di sekitar saya, itu yang saya simpan, pikirkan, dan kembangkan untuk menjadi puisi. Saat saya bertemu objek atau peristiwa, saya akan cepat-cepat jadikan puisi. Saya pikirkan nanti bagaimana menuangkannya,” jelas Jokpin.
Lelaki bersahaja dan murah senyum itu menjelaskan bahwa ia tidak berangkat pada tema saat menulis puisi. Jika ia harus berangkat dari tema, ia cukup kesulitan. Objek-objek dan peristiwa-peristiwa kecil itulah yang membuat puisi-puisinya sangat beragam. Jika harus berangkat dari tema, maka Jokpin bisa saja menuangkannya dalam beberapa puisi, misal lima atau sepuluh puisi dalam satu tema.
“Saya menulis setidaknya sepuluh puisi dalam buku Perjamuan Khong Guan, begitu juga dalam Celana.” Perjamuan Khong Guan sendiri bagi Jokpin bisa dipahami dan ditafsirkan beragam. Bisa jadi kerinduan ibu pada anak-anaknya atau bisa juga makna saling berbagi dan toleransi.
“Kaleng Khong Guan kini berterima kasih karena di dalamnyabisa berisi peyek, rengginang, atau yang lainnya.”
Bincang yang diikuti oleh sekitar 150 pengunjung itu cukup menarik. Febi dari Satupena mampu memasuki dunia Jokpin. Febi juga mengelaborasi tentang Jokpin yang kadang usil dengan diksi-diksi yang mungkin terkesan tidak puitis seperti happy, strong, senggol bacok, dan diksi gaul lainnya.
“Kita perlu menafsir ulang apa puitis itu,” terang Jokpin. Justru dalam puisi-puisinya Jokpin menggunakan diksi yang hidup dan sedang menghidupkan puisi. @ mp

Related posts

Leave a Comment