CERPEN 

Daftar Terakhir pada Oktober yang Muram

Cerpen: Rumadi

________________________________________________________________

 

Akhirnya kau tertangkap juga. Akhir Oktober, secara tak sengaja seorang pencari kayu bakar sedang melihatmu meringkuk di bawah pohon besar, sambil mengunyah pisang. Pencari kayu bakar itu menjerit, dan ia lari tunggang langgang, membuat beberapa petani yang sedang menggarap sawahnya di pinggiran hutan, langsung datang ke arah sumber suara, dan mereka mendapatimu.

Betapa kau ingin lari, tetapi salah seorang dari mereka, yang masih pemuda dengan badan gelap berkilat, langsung menangkapmu. Kau berusaha meronta, hanya dengan tiga gerakan, lelaki itu terjengkang. Namun, beberapa orang yang ada di sana, langsung mengeroyokmu. Tenagamu begitu lemah. Kau berhasil memukul mundur satu orang, dua orang, hingga tiga orang. Kau sempat menghitung, mereka ada sepuluh orang, dan akhirnya tenagamu habis, dan kau tak berdaya. Akhirnya mereka membawamu dengan cara digantung pada batang bambu dengan kedua tangan dan kakimu diikat di sana,. Tubuhmu menjuntai ke bawah, dan kepalamu mendongak ke atas, menggantung.

Kau mencium aroma kematian malam itu. Saat rumahmu didatangi orang-orang kampung tengah malam. Mereka beramai-ramai. Maka demi menyelamatkan anaknya, bapakmu menyuruhmu pergi. Sejauh-jauhnya. Namun kau tak segera pergi. Kau berlari ke arah semak belukar yang tumbuh di samping rumah. Dan di sana kau melihat sendiri bagaimana mereka dengan beringas menyeret ayahmu dengan paksa. Sungguh kau begitu miris melihatnya. Kedua tangannya diikat. Sekali berhenti, ia akan ditendang, dijengkangkan hingga tersungkur, hingga bibirnya mencium tanah. Betapa mereka yang menyiksa ayahmu sedemikian rupa, terkekeh.

_________________________________

Gambar diambil dari pixabay

_______________________________

 

Betapa kau takjub di malam itu. Kau tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahmu. Yaitu lari. Sebaliknya, kau menyusuri jalan ke mana mereka akan membawa ayahmu pergi. Ayahmu dipaksa berbaris dengan puluhan orang lain di tengah lapangan desa. Ia duduk. Menunduk. dan kau tak percaya pada malam itu. Satu per satu mereka disembelih. Tercium amis darah yang memualkan dibawa angin.

Ayahmu, yang berada di barisan paling belakang, dan ia tampak paling tenang di antara korban yang dibunuh malam itu.

Kau menatap ayahmu tanpa berkedip. Saat sebuah celurit dikalungkan di lehernya, Karto, dengan bangga dan terkekeh mengejek ayahmu sedemikian rupa. Ia membuat gerakan melingkar di leher ayahmu, yang membuatmu hampir saja menjerit dan berusaha menyelamatkannya. Namun kau tahu hal semacam itu sia-sia belaka.

Ayahmu tak kunjung mati. Celurit yang dikalungkan di lehernya, meski telah ditekan kuat ke leher ayahmu, tak kunjung menebas kulitnya. Karto bahkan sampai harus menggesekkan jemarinya sendiri ke celurit yang ada di tangannya. Akibatnya, tangannya meneteskan darah. Maka Karto geram bukan main.

Hal wajar jika mereka membenci ayahmu. Ia adalah penggerak para petani agar memasarkan sendiri hasil pertanian mereka. Betapa Karto, kaki tangan kepala desa, yang selalu menakut-nakuti penduduk jika mereka hendak memasarkan produknya sendiri ke kota. Setiap pedati pengangkut hasil pertanian ke desa itu, dicegat kaki tangan Karto, dan diharuskan membayar uang panjar. Jika tidak pedati-pedati itu akan disuruhnya langsung kembali ke kota.

Karto sudah lama menaruh banyak dendam. Ayahmu, satu-satunya orang yang melawan Karto dan selalu mempermalukannya. Meski mereka selalu datang, ayahmu selalu membuat mereka malu di hadapan penduduk. Kau selalu berada di balik pintu ketika ayahmu menghajar mereka satu per satu.

Hingga partai merah—beberapa orang menyebutnya partai palu arit—datang ke desamu. Karto tak lagi berkutik. Partai itu menawarkan kemandirian dalam segala hal. Termasuk seni dan budaya. Orang-orang partai itu ikut memberikan penyuluhan, dan fasilitas kepada para petani yang hendak menjual sendiri hasil pertaniannya ke kota. Satu per satu mereka bergabung dengan partai itu. Dengan cepat orang-orang berbondong-bondong bergabung dengan partai merah.

Karto ditinggal oleh anak buahnya. Hanya tinggal sedikit yang masih setia. Karena sudah kebingungan mencari kehidupan, ia telah kesulitan menjadi tengkulak akibat pedati-pedati yang merupakan fasilitas dari partai merah membantu ekonomi mereka. Tanpa adanya biaya tambahan. Mereka hanya diminta mengganti ongkos penarik kuda dan pakan kuda yang menarik pedati.

Dan Karto menjadi tenaga keamanan di pasar kota. Dengan upah yang sangat sedikit dibandingkan saat dia masih menjadi tengkulak.

Karto tersenyum ketika pada suatu malam, ia didatangi sekelompok orang, yang mungkin saja adalah seorang tentara. Ia menjawab dengan terbata, karena mereka menghendaki jawaban yang tegas dan lugas.

Ia menjadi eksekutor pelaksana pada malam laknat itu. Sebelumnya, hampir setiap rumah di desa itu terpasang bendera palu arit. Namun sejak berita itu menyeruak, bahwa partai merah sedang melakukan makar, hendak menggulingkan pemerintahan yang sah dengan meminta senjata, ditambah lagi mereka menculik tujuh jenderal istana, sudah tak ada lagi bendera palu arit berkibar. Ketujuh jenderal itu yang konon dibunuh dengan cara sedemikian kejam. Mereka disiksa sedemikian rupa sebelum dibunuh. Dan di makam ketujuh jenderal itu, konon kau mendengar dari apa yang diperbincangkan di warung-warung pinggir jalan, anggota Gerwani menari-nari di atas tubuh mereka yang sedang sekarat.

Beberapa orang mengaku tak pernah menjadi bagian dari partai palu arit. Hanya satu yang diinginkan Karto. Ia telah menugaskan kepada anak buahnya untuk menjemput siapa pun yang mereka mau, yang kira-kira terlibat dalam gerakan partai merah. Ia ingin membunuh ayahmu.

Dan betapa Karto kesal, meski diasah sudah sedemikian tajam, ayahmu tak kunjung mati. Maka ayahmu diseret sedemikian rupa, yang tampak lelah dan tersiksa, di makam pinggir desa. Malam itu banyak orang yang dikuburkan ala kadarnya, tanpa nisan. Tanpa disalatkan.

Ayahmu dikubur hidup-hidup. Ia dimasukkan ke dalam lubang kubur dengan gerakan yang sangat hati-hati. Dan di sanalah mereka menimbunnya. Hingga akhirnya semua penduduk telah dimakamkan. Pemberontakan telah direda, setidaknya berita semacam itulah yang beredar dari mulut ke mulut.

Sepanjang malam kau menunggu. Berharap ayahmu masih hidup, karena dia adalah satu-satunya orang yang kau punya. Namun tak satu pun dari anak buah Karto yang meninggalkan makam.

Dan kau tetap menunggu hingga berhari-hari lamanya. Pada hari ketiga makam itu mulai sepi. Kau mulai makan dengan mengambil makanan di kebun orang. Sering kali kau mengambil makanan ketika yang punya kebun sedang berada di sana. Seketika ia berteriak, dan kau langsung lari sekencang-kencangnya, menghindari siksaan dari pemilik kebun.

Kau tak ingin pulang. Sebagaimana yang dipesankan ayahmu, ia telah menyuruhmu pergi. Namun kau tak tega membiarkan ayahmu mati begitu saja. Kau masih berharap kuburnya merekah, tanah terbelah, dan ayahmu melesat sebagaimana seorang pendekar yang mampu meloloskan diri dari kuburan itu sebagaimana yang kau dengar di sandiwara radio.

Namun hal itu tak kunjung terjadi. Hening belaka. Di tanah lapang penguburan tanpa nisan itu, ada beberapa orang yang menebarkan bunga secara acak. Tidak ada yang tahu pasti di mana makam keluarga mereka.

Dan kau mengais kuburan ayahmu. Kau ingin menggalinya, meski yang kau punya hanya kedua tangan. Kau bongkar kuburan ayahmu dengan berlinang air mata.

Dan pekerjaanmu tak kunjung selesai. Beberapa anak buah Karto melihatmu, anak semata wayangnya, yang dengan segera mereka berteriak dan berusaha menangkapmu. Maka dengan air mata yang berlinang kau langsung berlari meninggalkan tempat itu. Kau tak peduli dengan semak belukar yang melukai tubuhmu. Kau lupakan perih, kau lupakan perut yang melilit, kau lupakan kakimu yang berdarah karena menginak duri atau batang pohon yang sudah ditebang.

Kau tak pulang berhari-hari. Dengan makanan ala kadarnya yang kau temukan di hutan, kau merasa cukup bisa bertahan hidup, kau masuk lebih jauh ke dalam hutan. Berharap mereka tidak akan pernah menemukanmu.

Kau menangis sesenggukan seorang diri. Kau memeluk pohon besar yang seolah itu adalah ayahmu. Kembali ke desa, kau hanya akan menjadi buruan. Sebagaimana binatang yang sering menjadi buruan di hutan itu.

Kau ingat, setiap malam, ayahmu mengajarimu berbagai cara bertahan hidup. Tak jarang ia memberikan pelajaran kanuragan yang membuatnya kebal dari berbagai macam senjata. Jika saja ia tak dibunuh hidup-hidup, maka tak ada yang bisa menandingi kesaktian ayahmu.

Kau sering mengintip di balik pohon besar, orang-orang mendengarkan pembicaraan orang-orang yang sedang menggarap sawahnya. Dan kau meringkuk seorang diri, berusaha melawan gigil kedinginan setiap malam.

Dan pada hari itu kau tampak lelah karena sulit sekali tidur semalaman. Maka kau berteduh di bawah pohon besar dengan beberapa buah pisang yang kau makan tadi siang. Karto yang melihatmu, setelah kau dibawa ke tengah lapangan desa sambil diteriaki pengkhianat. Kau hanya memendam segala pertanyaan dalam pikiranmu sendiri.

“Pengkhianatan macam apa yang telah kulakunan? Hingga kalian tega membuat anak lelaki ini tak berdaya.”

Tak ada jawaban. Hanya Karto yang menjawab pertanyaanmu dengan tawa terkekeh. Maka mereka mengharap-harap cemas, apa yang akan dilakukan oleh laki-laki tua itu.

“Dalam darahmu mengalir darah pemberontak. Sebagaimana maklumat tentara, pengkhianat dan anak keturunannya, harus dihabisi. Kau anak pengkhianat itu. Kami tak ingin, kampung kami yang tenang ini, lahir seorang pengkhianat atau pemberontak.”

Kau mendengar perbincangan mereka yang hanya serupa bisik-bisik. Kau adalah orang terakhir yang termasuk menjadi buruan yang ditemukan. Setelah suasana desa cukup tenang untuk beberapa lama setelah malam pembantaian itu, desa kembali gaduh saat kau ditemukan.

Mereka menurunkanmu, melepaskan ikatan kaki dan tanganmu. Sebagaimana ayahmu, kau juga tak kunjung mati, meski Karto telah berusaha untuk menyembelihmu. Kau tertawa. Kau terkekeh. Namun itu tak lama. Beberapa orang langsung menyeretmu ke samping tempat ayahmu dikuburkan. Beberapa orang menggali lubang.

Kau meronta. Namun tenagamu terlalu lemah. Akhir Oktober yang muram. Seharusnya kau mengikuti apa yang diakatakan ayahmu, pergi sejauh-jauhnya. Kini penyesalan sudah tak berguna lagi.

Sebagaimana ayahmu, kau dimasukkan ke dalam tanah, kemudian ditimbun di sana. Kau dengar kali ini Karto terkekeh. Hingga semuanya gelap. Hingga semuanya tak bisa kau lihat. Napasmu menjadi sesak. Kau menggeram. Tanganmu masih terikat. Akankah aku mati begitu saja? Tanyamu dalam hati. Kau adalah orang terakhir yang masuk ke dalam daftar pencarian yang hendak dibunuh.

Ciputat, 16 September 2021

 

Rumadi, lahir di Pati 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di FLP Ciputat dan komunitas Prosatujuh. Cerpennya dimuat berbagai media cetak dan daring. Buku pertamanya berjudul Melepaskan Belenggu. Buku keduanya Luka Tak Tersembuhkan sedang dalam proses penerbitan.
Penulis bisa dihubungi lewat Whatsapp 085711734787 atau instagram @pendekar_hati.

 

 

Related posts

Leave a Comment

three × 4 =