Agenda 

Jalan Buntu

Ruly R, tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Literasi Kemuning. Senang menulis khususnya genre prosa baik novel atau cerpen. Kumcernya yang baru saja terbit berjudul Cakrawala Gelap (Penerbit Nomina, 2018) dan Novelnya yang akan segera terbit berjudul Tidak Ada Kartu Merah.

Read More
Agenda 

Portal Sastra Litera.co.id akan Berikan Anugerah Sastra 2018

TANGERANG SELATAN (Litera.co.id) – Portal sastra Litera.co.id kembali memberikan Anugerah Sastra Litera 2018 kepada para penulis (penyair dan cerpenis) yang karyanya tayang di portal sastra Litera.co.id pada rentang waktu Januari sampai Desember 2017. Acara penyerahan anugerah tersebut akan dihelat di Resto Kampung Anggrek, Jalan Raya Victor No. 81, Buaran, Serpong, Tangerang Selatan, pada 27 Juli 2018, pukul 15.00 WIB-selesai.

Read More
Agenda 

Yayasan Hari Puisi Gelar Seminar Syair Toleransi

JAKARTA (Litera.co.id) – Yayasan Hari Puisi (YHP) bekerja sama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (DRPM UI) dan Pusat Dokumentasi sastra (PDS) HB Jassin akan menggelar Seminar Nasional bertajuk “Syair Kampung Gelam Terbakar: Representasi Toleransi Masyarakat Melayu” di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, pada 26 Juli 2018, pukul 14.00-17.00 WIB.

Read More
Agenda 

Sorban

Humam S. Chudori, lahir di Pekalongan pada 12 Desember 1958. Menulis cerpen, puisi, esai, dan novel. Dikenal luas sebagai novelis dan cerpenis. Beberapa novelnya adalah Ghufron (Republika, 2008), Shobrun Jamil (Republika, 2011), dan Rezeki (Q Publisher, 2016). Cerpennya banyak menghiasi media massa nusantara. Beberapa cerpen dan karyanya juga pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Agama. Kini tinggal dan bergiat di Tangerang Selatan.

Read More
Agenda Berita 

Undangan Menulis Puisi Bertema Multatuli

Rangkasbitung (litera.co.id)- Pada 21 Januari 1856, Multatuli alias Eduard Douwes Dekker pertama kali tiba di Rangkasbitung. Bertugas sebagai Asisten Residen Lebak. Tidak kurang dari 84 hari ia bekerja di Rangkasbitung lalu mengundurkan diri setelah berselisih paham dengan atasannya. Multatuli kemudian pergi menuju Belgia dan menuliskan kegelisahannya dalam bentuk roman berjudul Max Havelaar.

Read More