Berita 

Sekali Berarti, Sesudah itu Lebih Berarti Lagi

“Sekali Berarti, sesudah itu mati.”

 

Mungkin anda sering mendengar ucapan terkenal sastrawan besar kita yang dijuluki si Binatang Jalang di atas. Tapi tadi malam, Sabtu 14 Mei, kritikus sastra kenamaan Indonesia Maman S. Mahayana mengucapkan kalimat Chairil Anwar di atas menjadi “Sekali berarti, sesudah itu lebih berarti, dan terus lebih berarti lagi.”

Kalimat Maman itu ditujukan pada Dewan Kesenian Depok (DKD) di event gelar budaya 2016 dalam memperingati hari jadi kota Depok yang ke-17. Maman dalam kapasitas sebagai salah seorang pengurus DKD menyampaikan hal tersebut dalam suatu orasi kebudayaan di depan audiens yang hadir yang terdiri dari para pegiat seni dan budaya kota Depok dan beberapa kota sekitar, para undangan seperti perwakilan DPRD kota Depok, aparat kepolisian, dan masyarakat awam.

Maman melontarkan beberapa catatan kritis dengan jargon budaya yang penuh satir di orasinya mengenai kota Depok, misal tentang pemukiman-pemukiman, jalur kereta dan pembangunan yang gencar dilakukan, juga tentang begitu banyak situs dan kesenian yang muncul tetapi semua seperti “tak bunyi” di Depok karena para birokrat dan pejabat penguasa tuna sejarah. Depok seperti kota tak punya identitas tanpa ikon yang dapat menjadi ingatan kolektif.

Dalam orasi budaya sepanjang hampir tujuh menit, Maman mengkhawatirkan banyaknya para seniman dan budayawan Depok yang mesti berkiprah mewakili Jakarta dan Nasional karena mereka tak mendapat tempat dan perhatian dari Pemerintah kota Depok. Maman mengobarkan semangat para seniman kota Depok untuk tetap optimis membawa semangat perubahan dan memainkan peran untuk kemaslahatan.

“Biarkanlah kambing mengembik, Seniman tetap berjalan, melangkah dengan segala keyakinannya pada kebenaran,” seru Maman pada para seniman untuk membangun Depok bersama-sama.

“Pancangkan tiang, kita berlayar, sekali layar terkembang pantang surut kebelakang,” tutup Maman dengan diiringi tepuk tangan para pengurus DKD yang berdiri di belakangnya di atas panggung dan gemuruh suara penonton yang ramai memadati Warung Betawi Ngumpul, Beji, Depok. (Mahrus Prihany)             

Related posts

Leave a Comment