Cinta Butuh Pengorbanan

Cerpen Buk Mery

Sungguh tak terbendung lagi kemarahan ibu Isti pada putrinya, segala ucapan yang keluar dari mulutnya penuh dengan noda-noda yang teramat menyakitkan bagi setiap telinga yang mendengarnya, apalagi bagi Sundari dan Ray setiap ucapan ibu Isti bagaikan anak panah yang menembus jantung mereka.

Sambil memegang erat tangan Sundari, Ray berkata pada Isti bundanya Sundari, “saya tak tahan lagi dengan perlakuan ibu pada Sundari walaupun ibu, ibunya Sundari saya tak rela ibu bersikap kejam pada Sundari hanya karena ibu tak menyukai saya, mulai saat ini saya berjanji akan melindungi Sundari sampai ajal memisahkan kami. Tak pelak lagi Isti semakin naik darah, “Kalau kamu ikut dia, silahkan angkat kaki dari rumah ini, kan ku anggap diri ku sudah kehilangan satu dari tujuh anak-anak ku”, kata Isti pada Sundari anaknya.

Ray semakin erat memegang tangan kekasihnya itu, butiran-butiran air bening nan panas terus meleleh dipipi Sundari mulut Susan terkunci rapat, semuanya terasa kelam dibola matanya yang hitam, namun kehangatan genggaman tangan Ray membuat mata hati Sundari terbuka lebar dan dengan langkah pasti dia ayunkan langkahnya keluar rumah diikuti Ray sang kekasih tanpa menoleh sedikit pun pada Isti bundanya. “Betul-betul anak durhaka, jangan pernah kau injakkan lagi kaki mu di rumah ku ini”, teriak Isti sambil membanting pintu yang tak berdosa.

Di tengah derasnya hujan sepasang kekasih itu berjalan tanpa tujuan yang jelas, badan mereka basah kuyup, tetesan air mata beebaur dengan air hujan di pipi Sundari, “ Kita kemana Ray?”, akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulut Sundari disela derasnya hujan, “Kita berteduh dulu dipos ronda itu Dari”, kata Ray pada kekasihnya.

Kedua insan yang dimabuk asmara itu, sampai di pos ronda yang berdinding dan berlantaikan bambu. Keduanya sudah sangat kedinginan, namun alau raga mereka menggigil diterpa hujan deras, tapi jiwa mereka terasa panas membara, kegetiran menjalar dalam hati Sundari dan Ray, sungguh amat perih bila cinta tak direstui, walau segala cara sudah ditempuh oleh mereka untuk bisa mendapatkan restu, tapi tak sedikit pun sulaman restu melekat pada cinta mereka, bahkan hemparan kepahitan yang muncul diawal kehidupan mereka yang akan mereka buka.

Hujan deras telah berlalu, tinggal gerimis yang masih tersisa, Ray mengajak Sundari meninggalkan pos ronda menuju ketempat orang tuanya di kampung, Sundari hanya mengikuti saja setiap ajakan yang ditawarkan oleh Ray kepadanya, dihatinya Sundari bertekat untuk tak kembali lagi kerumahnya, dimana dia dibesarkan oleh kedua orang tuanya, hatinya sudah mantap untuk hidup dengan Ray kekasihnya.

Rinai mengelus tubuh dua insan yang terus berjalan menuku rumah orang tua Ray, cinta telah membuat mereka tak menoleh lagi kebelakang. Tujuan mereka hanya menyatukan bingkai kasih di rumah orang tuanya Ray. Tapi tanpa mereka sangka langkah mereka dihentikan oleh suara yang sangat melekat ditelinga mereka, “Ray…Ray..tunggu….”, ternyata Iqbal sepupu Sundari yang berteriak. “Kalian mau kemana, hujan-hujan begini?”, kata Iqb