Bedah Buku Puisi Hilda Winar

13501646_1027621093940549_4882743986900101163_n

Jakarta (Litera). Buku Puisi berjudul Panyalai karya Hilda Winar dibedah di acara diskusi yang dikemas santai dengan baca puisi dan buka puasa bersama hari minggu 19 Juni. Bertempat di perumahan Taman Buaran Indah 1 Klender, Jakarta timur acara ini relatif meriah dan berjalan penuh kehangatan. Sekitar 30 orang hadir pada acara tersebut. Acara yang dimulai pkl 15.30 dan selesai pkl 20.00 ini dipandu oleh Ade Novi sebagai pembawa acara. Acara juga diisi dengan kultum menjelang berbuka puasa oleh dai cilik, Faiq Ali Badri yang masih duduk di kelas 3 SDN Cilangkap 01.

Cerpenis Kurnia Effendi atau yang biasa disapa Bang Keff turut hadir memeriahkan acara tersebut. Terlihat juga Fikar W. Eda yang mendampingi penyair senior L.K Ara dan istri dan beberapa rekan penyair serta pegiat sastra yang cukup aktif di dunia sastra Indonesia turut hadir. Pasangan sastrawan Mustafa Ismail dan Dianing Widya Yudhistira juga Saifullah S atau Pilo Poly yang jauh-jauh datang dari Pamulang, Tangerang Selatan turut pula menghadiri acara ini.

Buku Panyalai sendiri dibedah oleh Narudin Pituin dan dimoderatori oleh Ewith Bahar. Panyalai adalah buku puisi dua bahasa berisi 18 puisi Hilda Winar. Alih bahasa dalam bahasa Inggris dikerjakan oleh Narudin yang juga berkesempatan hadir sebagai pembedah dalam diskusi ini.

Menurut penjelasan Narudin, ia menerjemahkan puisi-puisi Hilda dalam bahasa Inggis selama enam bulan dan dilakukan secara berkala. Narudin mennerjemahkan tiga atau empat puisi Hilda dalam satu bulan.

“Hilda tergolong penyair yang malas dalam menulis puisi, tetapi puisi-puisi Hilda penuh dengan air mata,” ungkap Narudin yang datang langsung dari Subang. Air mata tersebut adalah penghayatan yang dalam Hilda terhadap realitas yang ia lihat dan kemudian tertuang dalam tulisan.

“Menurut Kahlil Gibran, tak ada penyair yang bahagia. Jika penyair bahagia, ia belumlah apa-apa,” tambah Narudin. Peserta diskusi terlihat cukup antusias mengikuti jalannya diskusi yang diselingi dengan baca puisi.

Hilda Winar sendiri saat berbincang dengan awak Litera mengatakan bahwa ia menulis buku ini sebagai penyaluran energi positif. Ia tak berharap banyak atas buku ini karena ia hanya ingin berbagi. Ia pun memberi apresiasi pada peserta yang hadir sebagai pembawa energi positif padanya.

“Penyair atau Sastrawan lebih baik tak berharap banyak secara materi pada tulisan-tulisannnya. Anggaplah karya mereka sebagai penyaluran energi positif yang bisa bermanfaat bagi orang banyak,” ungkap Hilda yang kerap dipanggil “uni” oleh teman-teman. Hilda sendiri cukup aktif bergaul dan bergiat di acara-acara sastra. Ia memiliki penerbitan sendiri yang ia niatkan untuk membantu teman-teman sastrawan yang ingin menerbitkan buku.

“W.S. Rendra pernah berkata jika penyair harus mandiri dan memiliki ladang sendiri. Mereka harus bekerja diluar, jangan hanya bergantung dari aktifitas mereka sebagai sastrawan. Profesi sastrawan masih menyedihkan secara nasib,” lanjut Hilda saat berbincang hangat dengan awak Litera pada waktu jeda seusai buka puasa bersama. Hilda sendiri sehari-hari berprofesi sebagai tukang gado-gado, penjual es batu, dan juga bertani jamur tiram dan masih beberapa usaha lagi yang ia geluti hingga terkadang ia disebut sebagai “penyair multi talenan” oleh teman-teman.

Acara bedah buku tersebut juga berbarengan dengan peluncuran buku L.K Ara berjudul Kau Pergi. Hilda merasa tersanjung dan mendapat kehormatan bisa bersama dalam satu forum dengan penyair besar seperti L.K Ara. Ia merasa seperti pungguk merindukan bulan dan berharap energi positifnya makin bertambah.

(Mahrus Prihany)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *