Dari Sastrawan Masuk Sekolah Hingga Penerbitan Buku

13912898_1152937854764605_1327987493502566094_n

Litera (Tangerang)- Acara Kemah Sastra di Saung Sastra, Sabtu malam (13/8) di Pakuhaji, kabupaten Tangerang diisi juga dengan diskusi. Diskusi sesi pertama adalah tentang “Sastrawan Masuk Sekolah” yang menghadirkan Mustafa Ismail, seorang sastrawan yang juga redaktur budaya Koran Tempo. Diskusi ini dimoderatori oleh Rini Intama, pegiat Saung Sastra dan seorang penulis cerpen, puisi dan novel.

Mustafa mengatakan bahwa selama ini para murid di sekolah diminta membuat apresiasi terhadap karya sastra sementara banyak guru di daerah banyak memiliki kekurangan kompetensi dalam mengajar sastra dikarenakan beberapa faktor. Murid harus mencari referensi dan buku sendiri saat mengerjakan tugas sastra. Sementara di perkotaan meski tehnologi telah memadai bagi murid sekolah dalam mencari referensi namun menulis sastra tetaplah harus memiliki dasar yang cukup. Mustafa mengusulkan agar workshop perlu diadakan untuk para guru juga murid dan sastrawan bisa menjadi tutor dengan cara masuk sekolah. Setelah workshop bisa diadakan lomba untuk evaluasi. Selama ini lomba diadakan sementara para peserta lomba belum memiliki kemampuan dasar yang memadai, padahal lomba adalah ujung yang dapat dijadikan suatu parameter untuk mengukur kemampuan seseorang. Bagaimanapun seseorang saat memiliki lomba harusnya telah memiliki persiapan dan kemampuan. Selain itu menurut Mustafa lomba-lomba selama ini pun hanya bersifat seremonial sehingga lomba usai, maka usailah semua.

“Mungkin kita perlu mengusulkan pada balai bahasa agar ada guru tamu yang berasal dari kalangan sastrawan yang datang ke sekolah untuk mengajar atau mendampingi guru sastra sekolah yang bersangkutan. Ini sangat penting juga untuk membangun sanggar-sanggar sastra di sekolah agar tetap berkelanjutan,” tambah Mustafa.

Ayu cipta, penyair Tangerang merespon usulan Mustafa bahwa ia bersama teman-teman di kabupaten Tangerang pernah mengadakan program “Sastra Masuk Sekolah.” Hanya program tersebut belum berjalan secara merata dan menyeluruh. Ayu bersama teman-teman hanya masuk sekolah yang kebetulan ia kenal pada kepala sekolahnya saja.

“Mungkin moment kemah sastra ini bisa menjadi suatu awal bagi kita membuat rumusan sastra masuk sekolah yang bisa melibatkan para sastrawan se-Tangerang raya,” tegas Ayu Cipta penuh semangat.

Penyair dhenok Kristianti yang turut hadir di acara tersebut menceritakan pengalamannya saat diundang sekolah Binus bahwa ternyata anak-anak sekolah memiliki antusiasme yang tinggi saat bertemu sastrawan. Bertemu sastrawan adalah sesuatu yang istimewa bagi anak-anak sekolah, begitu cerita Dhenok.

“Tapi Workshop pada murid agak sulit karena workshop harus berkelanjutan. Guru yang lebih berperan banyak pad murid. Workshop untuk guru akan menjadi lebih penting. Selain itu selama ini sastra seperti hanya tempelan di sekolah. Mungkin ada baiknya jika sekolah mengadakan ekstra kurikuler sastra,” tambah dhenok.

Lutfi, dari kantor bahasa yang turut hadir sangat menyambut baik usulan para sastrawan tersebut.

“Tahun depan kantor bahasa siap masuk sekolah dengan dibantu komunitas-komunitas sastra yang ada dan akan ada program penulisan dan penerbitan sastra dari program masuk sekolah tersebut.

“Soal workshop, jika perlu para kepala sekolah dan kepala dinas juga mengikuti workshop,” kata lutfi yang disambut meriah oleh para peserta dan Teteng Jumara, kepala dinas pendidikan kabupaten Tangerang yang juga hadir.

Diskusi sesi kedua menghadirkan Handoko F Zainsam, seorang penyair yang juga memiliki percetakan dan penerbitan buku. Handoko bercerita banyak tentang penerbitan dan proses kreatif para penulis. Banyak pengalaman penulis terungkap di diskusi ini. Mereka yang turut rembug di diskusi ini adalah Nana sastrawan, Rini Intama, Abah Yoyok dan beberapa penulis lain. Acara berjalan sangat seru hingga tak terasa berlangsung sampai dini hari.

 

Mahrus Prihany

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *