Malam Hangat di Panggung Budaya Depok

14642337_1445795978768611_6571118144990230694_n

Litera (Depok)– Panggung Budaya Depok yang digelar oleh Dewan Kesenian Depok (DKD) berjalan meriah tadi malam 15/10. Sekitar 80 para pegiat seni Depok dan Tangerang Selatan memeriahkan acara yang dihelat di Warung Betawi Ngoempoel, Tanah baru, Beji tersebut, bahkan ada yang berasal dari kota lain. Acara dimulai pkl 20.00 dengan dipandu pembawa acara Tora Kundera dan Widya dan disiarkan secara langsung oleh Radio Mantarena FM.

Sanggar tari anak Cisalak asuhan bang Andi mengawali acara. Sanggar anak yang sudah cukup terkenal ini seakan menyambut para tamu yang mulai ramai berdatangan. Lalu ketua umum DKD, Ir H. Nurodji menyampaikan sambutan tentang betapa pentingnya sebuah kesenian.

“Banyak seniman Depok harus lari ke Jakarta karena Depok belum memiliki gedung kesenian. DKD berjuang agar Depok bisa tersentuh dan dimeriahkan oleh kesenian. Jika pembangunan hanya mengandalkan uang dan pembangunan fisik semata, maka akan menjadi sebuah kota batu,” tutur Nurodji. Ketua umum DKD tersebut menyadari bahwa meski DKD bertekad membangun dan mengembangkan kesenian kota Depok, tapi tetaplah butuh bantuan dari pemerintah kota.

Sementara itu Iman Sembada, komite sastra DKD dalam sambutannya mengatakan bahwa Panggung Budaya Depok ini akan diadakan rutin setiap bulan dengan cara bergiliran melibatkan semua komite yang ada di DKD dan para seniman Depok lain. Panggung Budaya Depok edisi kedua kali ini adalah giliran komite sastra DKD.

“Jika Chairil Anwar pernah mengatakan bahwa penyair harus mengambil bagian, maka malam ini yang bukan penyair pun boleh mengambil bagian. Acara ini adalah milik kita bersama,” ucap Iman Sembada.

Acara kemudian berlanjut kembali dengan menyajikan penampilan musik dari “Hitam Putih” oleh Ki Sungsang Tumbal dan rekan. Penampilan yang ekspresif dan penuh suasana heroik membuat penonton seakan terhipnotis. Setelah “Hitam Putih” membawakan beberapa lagu, peluncuran buku penyair perempuan Depok juga meramaikan acara. Willy Ana meluncurkan buku puisi berjudul Aku Berhak Bahagia yang disambut resmi ketua umum DKD.

Acara talk show juga memeriahkan acara panggung tersebut. Dua pembincang yang dijadwalkan hadir yaitu Maman S. Mahayana dan Sunu Wasono berhalangan hadir. Mustafa Ismail dan Sihar Ramses Simatupang menjadi pembincang dengan talk show betema “Posisi Depok dalam Panggung Sastra Nasional.” Talk show juga membincangkan proses kreatif Willy Ana yang meluncurkan buku puisi.

Panggung Budaya juga menyajikan penampilan tuan rumah dengan berbalas pantun. Tiga seniman Warung Betawi Ngoempoel berbalas pantun yang makin membuat meriah suasana. Tradisi berbalas pantun dan tradisi palang pintu masih dijaga oleh para seniman Betawi. Biasanya itu diadakan pada pesta pernikahan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi para peserta lain seperti Anisa Afzal yang datang dari kota Sukabumi. Musikalisasi puisi oleh H. Shobir Por dan Eni Zhu dari Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS), Anita Ningsih seorang mahasiswi, Andri seorang ibu rumah tangga, Kartika Hanafi, Efrida Pulungan, Mahrus Prihany, Sihar Ramses Simatupang, Endang Supriadi, Edi Pramduane, Hadi sastra, Badri AQT dan tuan rumah, Nurodji yang membacakan “Rancak Si Pitung.”

Saat malam makin larut, penampilan “Sihir Poetika” seakan benar-benar menyihir penonton. Acara berlanjut hingga larut meski gerimis turun. Jeffry Sumampow mengiringi seorang penyanyi menghibur para penonton yang masih menikmati kebersamaan dan kehangatan dengan lagu-lagu kenangan. (Mahrus Prihany)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *