Empat Penyair dari Kota Berbeda Baca Puisi di Tembi

berita_349259_800x600_SBP_4_Antologi_-_web_1

Litera.co.id (JOGJA) – Empat penyair yang antologi puisinya mendapat penghargaan pada Hari Puisi Indonesia 2016,  tampil  membacakan puisi karyanya di  acara Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya, Jln Parangtritis Km 8,5, Bantul, Yogyakarta. Jumat (13/1).

Ke-4 penyair asal kota berbeda itu adalah Ahmadun Yosi Herfanda (Tangerang Selatan) dengan antologi puisi berjudul Ketika Rumputan Bertemu Tuhan, Rini Intama (Tangerang),m embacakan puisinya yang terkumpul dalam antologi Kidung Cisadane, Umi Kulsum (Yogyakarta) dengan antologi puisi  berjudul Lukisan Anonim dan Tjahjono Widarmanto (Ngawi) antologi puisinya berjudul Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi para Pemuja Sajak.

Mereka masing-masing tampil berbeda satu dengan lainnya. Meski demikian dari segi gerak tangan, masing-masing penyair ini memiliki kesamaan, yakni mengangkat tangan saat membacakan puisinya. Ini sebagai bentuk dari ekspresi atas puisi yang sedang dibaca. Gerakan tangan, dan ekspresi wajah tak bisa dilepaskan dalam membaca puisi.

Rini Intama misalnya, tampil membaca puisi dengan ekspresi wajah yang terus berubah, bahkan bibirnya ikut mengekspresikan kata dalam puisi yang sedang dibacakan. Selain dibaca sendiri, puisi Rini juga dibawakan para pembaca puisi lain, seperti Adi Novi dan Nayang Jaime.

Umi Kulsum yang tampil setelah Rini, tak  lepas pula dari gerakan tangan, mengacung ke atas. Suaranya terdengar lepas dan tegas sembari mengepalkan tangan, seperti sedang memvisulkan kata dalam puisi yang sedang dibacakan.  Puisi Umi Kulsum juga dibacakan oleh Bambang Legowo yang bekerja sebagai staf  ahli Bupati Bantul. Mantan Bupati Bantul Sri Suryawidati dan perupa Ong Hari Wahyu membawakan puisi Umi Kulsum pula.

Sedangkan penyair asal  Ngawi, Tjahjono Widarmanto mengajak rekan seprofesinya penyair dari Surabaya, Giryadi. Keduanya membacakan puisi karya Tjahjono secara bergantian. Kali ini, Giryadi dan Tjahjono tidak menampilkan puisi gaya Jawa Timuran, yang dipadu dengan ludruk, melainkan dibacakan sebagaiman penyair membaca puisi.

Penampilan Ahmadun khas, selalu mengenakan sal yang dikalungkan di lehernya. Ia membaca puisi dengan penuh ekspresi. Ahmadun mengenali karakter puisinya, sehingga dalam membawakan puisinya mampu menghadirkan karakter puisi yang divisualkan melalui gerak tubuh, ekspresi wajah dan suara yang berubah-ubah sesuai karakter puisinya.

“Kali pertama saya datang ke Tembi, setelah tiga kali absen setiap diundang panitia Ons. Malam ini saya senang karena selain  kembali ke Yogya, bisa bertemu dengan teman-teman lama. Ada Mas Iman Budhi Santosa, senior saya. Aprinus yang sekarang sudah doktor dan sejumlah teman lain,” sebut Ahmadun, mengawali celotehnya sebelum membacakan puisi karyanya sendiri. (Sumber foto dan berita: bam, JurnalJogja.com)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *