Bincang Karya dan Penerbitan

IMG_20170318_170619_HDR

Litera.co.id (Tangsel)- Bincang sastra dengan sub tema “Karya dan Penerbitan” adalah salah satu topik yang diangkat dalam acara sehari yang digelar oleh teman-teman pegiat sastra yang mengangkat tema utama Menyintas Kata. Acara ini kerja sama beberapa komunitas yang tergabung dalam nama Pesona Literasi. Acara ini dilangsungkan di Akademi Bambu Nusantara, Taman techno BSD, Tangerang Selatan, pada hari Sabtu (18/3).

Bincang “Karya dan Penerbitan” menghadirkan tiga sastrawan Indonesia yang juga memiliki penerbitan, Ahmadun Yosi Herfanda, Mustafa Ismail, Handoko F. Zainsam dan dimoderatori oleh Abah Yoyok dari Dapur Sastra Tjisauk. Bincang ini adalah bincang kedua di acara yang dimotori oleh Andy Lesmana dari komunitas Malam Puisi Tangerang ini.

“Penerbitan adalah masalah yang komplek namun bisa disederhanakan karena telah masuk pada ranah industri kreatif,” Ahmadun berkata membuka diskusi. Ahmadun yang sering disapa AYH melanjutkan bahwa sesungguhnya memang cukup berat jika mengharap keuntungan finansial terlebih jika buku yang diterbitkan adalah buku sastra dengan genre puisi. Novel bisa lebih mudah. Tapi AYH menekankan jika penyair bisa mendapat materi dari jalur lain yang sebenarnya tetap beririsan dengan puisi. Selain itu menerbitkan buku puisi bisa membangun nama baik yang dapat mendatangkan keuntungan.

Mustafa Ismail yang juga merupakan redaktur sastra Koran Tempo mengatakan jika penulis lebih baik menggunakan jaringan dengan cara aktif bergiat di komunitas karena itu bisa menciptakan segmen pasar.

“Cetaklah buku secara swadaya bagi para penyair pemula karena memang susah untuk menembus penerbit major. misal 10 hingga 20 eksemplar terlebih dahulu lalu lihat respon teman-teman. Tapi yang paling penting adalah rajin mempromosikan ke komunitas, itulah mengapa penting penyair bergiat di komunitas,” lanjut Mustafa yang juga penggerak banyak komunitas sastra.

Sementara itu Handoko F. Zainsam mengatakan jika proses penerbitan sesungguhnya bukan hal yang begitu rumit karena semua memiliki kalkulasi yang cukup matematis dan sistematis.

“Penulis tak perlu memikirkan soal honorarium atau royalti, itu urusan penerbit. Penulis teruslah berkarya di media apa saja karena itu bisa meningkatkan daya jual dan komersil. Penerbit akan datang sendiri dan mencari penulis dengan hitungan yang telah kalkulatif,” tutur Handoko atau yang biasa disapa mas Han.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam, pkl 15.00-17.00 itu diikuti para audiens dengan sangat antusias. Tiga narasumber memang telah sangat dikenal dalam dunia sastra tanah air. Mereka berharap dan optimis jika sesungguhnya dunia penerbitan tetap punya pasar yang bagus. (Mahrus Prihany)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *