CERPEN 

Siapa yang Menaburkan Bau Busuk di Beranda Rumah Kami

Cerpen: Kak Ian ___________________________________________________________________

 

Beberapa hari ini kami mencium bau busuk. Baunya seperti perpaduan antara anyir dan nanah manusia yang sudah membengkak di tubuh lalu meletus. Begitu baunya saat tercium oleh kami. Sungguh membuat kami tidak nyaman sekali.

Ya, baunya sangat menyengat sekali bila kami menciumnya. Anehnya, bau itu baru menyengat bila malam tiba. Kami yang menciumnya saat itu benar-benar sangat terganggu sekali bahkan tidak bisa tidur. Bagaimana mau nyenyak, saat mencium bau itu saja kepala kami langsung pusing-pusing dan muntah-muntah. Kami benar-benar tidak kuat menahan bau itu.

Begitu tajam bau itu menggelitik bulu-bulu hidung kami. Padahal kami sudah berupaya memberikan dengan berbagai pengharum. Entah itu pengharum kamar bahkan sampai pengharum ruang tamu, tidak lupa kami semprot pula. Tapi bau itu ternyata tidak hilang juga.

Akhirnya, kami pun setiap malam direpotkan mencari dari mana sumber bau busuk itu berada. Walaupun hasilnya nihil. Padahal kami sudah mencari berbagai segala penjuru. Lagi-lagi kami tidak mendapatkannya sampai pagi menjelang.

Bau busuk itu ternyata tidak hilang-hilang juga.  Apalagi bila malam tiba. Hingga kami pun memutuskan untuk memanggil orang pintar yang bisa mencari dan mengusir keberadaan bau busuk itu bermuasal.

Ternyata semakin hari bau itu tidak bisa lenyap. Kami pun memutuskan mencari orang pintar. Walaupun aku sebenarnya tidak menyetujuinya. Kukira bau busuk itu hanya bermuara dari bau bangkai tikus, bangkai kucing maupun bangkai ayam tapi mana mungkin. Sedangkan rumah kami bukan di perkampungan.

Sebenarnya untuk mencari orang pintar itu adalah gagasan Ayah. Ayah memintaku untuk mencari orang pintar ketimbang tidak bisa tidur dan bisa-bisa insomnia akut. Walau sebenarnya aku paling malas dan enggan jika sudah berurusan dengan yang berbau klenik. Masa iya di zaman Tiktok begini masa harus percaya hal seperti itu!

Aku sebagai anak lelaki satu-satunya di keluarga tidak mungkin menolak mencari orang pintar itu. Maklum Ayah dan Ibu hanya memiliki aku seorang. Bila mau dikatakan aku anak semata wayang mereka. Jadi akulah yang ketumpuan mencari orang pintar. Menyebalkan sekali menjadi anak tunggal.

Setelah mendapatkan orang pintar dan sudah mematau rumah kami. Akhirnya ia pun memberikan beberapa penjelasan. Salah satunya, mengatakan jika ada seseorang yang sakit hati pada keluarga kami. Maka dari itu bau busuk yang selalu menebar tiap malam tiba merupakan bentuk kiriman dari seseorang yang dialamatkan ke rumah kami. Begitulah, menurutnya mengatakan bahwa ada seseorang yang sakit hati pada keluarga kami.

Ayah dan Ibu pun saling adu pandang saat mendengarkan ucapan orang pintar itu. Mereka pun tidak percaya. Mereka mengatakan orang pintar itu hanya mengada-ada saja. Mau mencari keuntungan di dalam keresahan dan ketakutan kami.

Begitu kata Ayah dan Ibu saat aku memberitahukan mereka di teras halaman belakang agar orang pintar itu tidak mendengarkan pembicaraan kami. Akhirnya dari pembicaraan kami pun memutuskan untuk menghentikan orang pintar itu. Ia tidak lagi bekerja untuk kami. Dikarenakan Ayah dan Ibu mengatakan orang pintar itu sudah melukai hati mereka—dan sudah tidak memercayainya lagi. Itu menurut Ayah dan Ibu.

Ibu dan Ayah menegaskan lagi bagaimana mungkin baru beberapa bulan pindah ke rumah ini sudah menyakiti orang. Walaupun sebenarnya kepindahan kami karena mengikuti Ayah dinas sekaligus dimutasi kerja. Aku yang mendengarkan jawaban Ayah dan Ibu seperti itu ada benarnya juga.

Tapi saat aku ingin mengatakan hal itu jika Ayah dan Ibu tidak lagi mau mempekerjakan orang pintar itu—dan mendadak bayangan Siti menari-nari di pelupuk mataku. Aku terbayang dengan wajah teman masa kecilku itu.  Saat itu ia memohon agar tidak mengaborsi anak hasil biologisku padanya. Ia ingin merawatnya walaupun semua raganya sudah ia berikan padaku tanpa ikatan. Terpenting benih dariku itu dibiarkan saja tertanam di tubuhnya. Tapi aku tidak menginginkannya. Aku takut jika ia besar kemudian akan mencari tahu siapa ayahnya nanti. Terlebih keluarga kami cukup terpandang.

Aku pun akhirnya mengultimatumkan Siti jika ia tidak bisa menggugurkan kandungannya terpaksa kedua orangtuanya itu harus meninggalkan rumah sengketa yang mereka tempati.  Siti pun mengiyakan perintahku.  Ia pun menggugurkan benih itu— yang masih 45 hari. Usai itu aku meninggalkannya tanpa pesan.

Apakah itu perbuatan Siti untuk membalas sakit hatinya padaku?
Pencarian orang pintar pun terus berlanjut. Aku disuruh kembali oleh Ayah untuk mencari orang pintar kembali. Walaupun aku sebenarnya menolak!

Tidak lama kemudian aku kembali mendapatkan orang pintar yang kedua. Lagi-lagi walaupun aku paling benci dengan hal klenik terpaksa mengabulkan permintaan Ayah. Kini di hadapan kami berdiri dengan tegak seorang lelaki paruh baya dengan tampilan paranormal pengusir hantu.  Ia pun lantas mengatakan jika pohon belimbing wuluh(1) yang lebat daun dan buahnya berada di depan rumah kami itulah penyebabnya. Menurutnya ada penunggunya yang kasat mata, tiap malam selalu ada di pohon itu sebagai kediamannya.

Kontan saja Ibu yang selalu menggunakan pohon itu untuk penambah rasa sambal dan sayuran langsung bergidik. Antara percaya dan tidak. Mana mungkin pohon lebat itu—dengan buahnya yang masam dihuni oleh makhluk astral.

Harus ditebang dan dimusnahkan.

Begitu kata orang pintar itu memberikan kami solusi dari bau busuk yang tiap malam menyebar di rumah kami. Kami pun akhirnya menebangnya. Tapi apa dinyana bau busuk itu masih saja menyebar tiap malam. Ayah dan Ibu lagi-lagi kecewa sekaligus memarahiku. Aku dianggap tidak becus mencari orang pintar.

Melihat apa yang aku lakukan dalam pencarian orang pintar selalu gagal menurut Ayah. Kemudian merekalah yang mencari orang pintar. Ayah dan Ibu yang bergantian mencarinya.
Setelah bertemu dengan orang pintar yang ketiga atas pencarian Ayah sendiri melalui rekan dan kolega Ayah. Orang pintar itu mengatakan kepada kami lebih baik meninggalkan rumah yang kami tempati.  Sebab, bau busuk itu akan selalu ada tiap malam tiba. Salah satu jalan keluarnya adalah kami harus pindah.

Konon menurut orang pintar itu rumah kami tepat pada tikungan tusuk sate. Di mana posisi rumah tusuk sate(2) tidak baik untuk tempat tinggal, karena akan selalu ada ketidaknyamanan di dalam rumah bagi para penghuninya. Begitu katanya.

Mendengarkan ucapan orang pintar yang ketiga itu akhirnya kami memutuskan pindah rumah. Itu pun atas persetujuan Ayah pula ketimbang kami diganggu dengan bau busuk. Walaupun sebenarnya lagi-lagi aku yang tidak percaya apalagi berbau tahayul mencoba memberikan penawaran agar Ayah dan Ibu tidak meninggalkan rumah yang kami tinggali itu. Namun karena aku harus mendengar kata-kata mereka dan demi kententraman diriku pula aku pun mengalah. Keputusan akhirnya kami pun memutuskankan pindah rumah dari rumah yang kami tinggali belum begitu lama.

Singkat kata, kami pun mendapatkan rumah baru untuk ditinggali. Tapi entah kenapa kepindahan kami di rumah baru tetap saja sama. Bau busuk itu tetap tidak juga hilang. Di saat aku telisik lebih lanjut ternyata bau busuk itu…Astaga,  bau itu bersumber dari Ayah dan Ibu. Bau busuk itu datang dari mereka berdua.

Aku pun bertambah yakin ketika malam itu ingin mencari tahu. Saat itu Ayah dan Ibu ada di dalam kamar. Sebelum mereka memejamkan mata aku pun mendengar dari dalam kamar. Ternyata mereka sedang membicarakanku.

“Aku tidak ingin anak manusia yang kita rawat hingga besar itu mengetahui kita sesungguhnya!”

Aku yang mendengar ucapan mereka dari balik pintu kamar sambil menahan bau busuk yang menyengat tiada tara. Aku pun tidak bisa lagi menahannya apalagi mendengarkan ucapan kedua orangtuaku—dan menambah tak kuat menahan bau itu lagi.  Kepalaku  langsung  tujuh keliling dan netraku pun begitu, tetiba menggulita.  Saat itu aku pun mencercau tak sadar diri.

“Oh, Tuhan ternyata aku bukan anak kandung dari mereka.”[]

 

 

*KAK IAN, penulis, aktivis dunia anak, dan penikmat sastra. Karya-karyanya sudah termaktub di Koran Tempo, Kompas Minggu (Dongeng Nusantara Bertutur), Solopos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Banyuwangi, Fajar, Riau Pos, Pontianak Pos, Padang Ekspres, Haluan, Singgalang, Majalah Balai Bahasa Lampung KELASA, Majalah Utusan dll. Bergiat di Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

 

KETERANGAN:
1. Belimbing Wuluh : Beberapa kepercayaan menyatakaan bahwa menanam belimbing wuluh di halaman rumah akan membuat pemilik rumah diganggu makhluk astral yang buruk. Tanaman ini juga disebut sebagai rumah oleh mahluk tak kasat mata seperti jin.

2. Rumah Tusuk sate : Adalah rumah yang posisinya terletak di ujung jalan, persis di tengah jalur pertigaan. Menurut mitos yang beredar, posisi rumah sunduk sate ini akan membawa banyak kesialan. Banyak ahli feng shui yang mengatakan bahwa aliran chi pada rumah tusuk sate sangatlah kuat. Aliran tersebut memiliki pengaruh buruk yang membuat penghuni rumah menjadi lebih mudah sakit dan juga menarik perhatian para makhluk astral.

Related posts

Leave a Comment