Memancing Duka di Tubuh Ayah

Puisi-puisi Joko Rabsodi ______________________________________________________________________ DOA YANG MENGAPUNG Ibu, kaos koneng yang kau paketkan dengan redaksi luntur masih menyekat, rindumu padat menyamak setiap pulang ke wismamu, pintalan huruf di baju menuntun kukuh memeluk, kenangan terurai menikungi secarik rasa perpisahan ini mencanangkan beribu pertemuan dengan kondisi terbelak tawa, suatu hasrat yang kuserat pada kalender yang tiba-tiba mengingatkan tentang kehilangan yang lupa ditandai warna

Read More
CERPEN 

Batu Keramat Sang Wartawan

Cerpen Supadilah Iskandar ________________________________________________________________   Sekitar dua puluh tahun umur saya waktu menyimak ucapan Ayah perihal jodoh. Walaupun saya selalu menjaga jarak dengannya, tapi harus saya akui bahwa saya toh tidak memiliki hubungan darah dengan siapapun kecuali dengan orang tua sendiri. Karena itu, ketika dia menyatakan bahwa “jodoh itu sudah ada yang ngatur”, kata-kata itu seakan melekat kuat dalam ingatan saya.

Read More

Puisi Hanya Sekilas Kerlip di Layar Digital

Puisi-puisi Budhi Setyawan __________________________________________________________________   PUISI HANYA SEKILAS KERLIP DI LAYAR DIGITAL lewat bingkai zoom, facebook dan instagram kita kupas lapis lapis perjumpaan euforia untuk mencari lingkar keberadaan seperti memasuki lorong yang diawetkan propaganda dengan keseragaman tanda nujum periferal masa depan

Read More
CERPEN 

Suryamin dan Kakaknya

Cerpen Humam S. Chudori ___________________________________________________________________ Sudah tujuh bulan, sejak tinggal di kompleks perumahan RSS yang dibelinya secara cicilan melalui bank pemerintah, Suryamin tak menemukan guru ngaji di daerah itu. Ia tak mungkin membiarkan anaknya tidak bisa mengaji. Ia menyadari pentingnya mengajarkan membaca Alquran bagi anak-anak. Mengajar membaca kitab suci merupakan kewajiban orangtua terhadap anak. Ia yakin sekali jika anak tidak mendapatkan pendidikan agama, maka orangtua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Read More

Hari Ini Barangkali

Puisi-puisi Kurliyadi ________________________________________________________________   DOA SAAT DI KAMAR MANDI Aku lupa berdoa sebelum kita bertemu Di pertigaan dekat tukang jamu malam itu Kita bertanya dan memesan jamu anti anu Entah pakai telur ayam kampung atau bebek merah pandan Konon katanya bisa menguatkam dan bertahan Meski gelombang keringat berpacu bersatu

Read More
CERPEN 

Kiai Sepuh

Cerpen Muhtadi ZL ______________________________________________________________________ Setiap pulang dari dhalem Kiai Sepuh, wajah Rakmin selalu tampak murung. Pikirannya kerap bingung dengan pertimbangan Kiai Sepuh. Karena ketika menuturkan pembaharuan desa, tidak jarang Kiai Sepuh menolak mentah-mentah. Apesnya lagi, saat dimusyawarahkan dengan perangkat desa yang lain, dirinya dihujani hujatan. Sampai-sampai ia tidak tahu harus melakukan apa supaya desa yang ia pimpin bisa sejahtera.

Read More
PUISI 

Milik Siapakah Kota Ini

Puisi-puisi Iman Sembada _______________________________________________________________   PEREMPUAN ITU MENJADI BAPAK Perempuan itu telah menjadi bapak Mengasah kata-kata setajam kapak Untuk menetak angka-angka di almanak Angin bangkit dari celah ranting Kering. Setiap siang dan malam Selalu ingin kau tuntaskan Fatwa dalam ruang-ruang virtual

Read More
ESAI 

Cerpen Indonesia, dari Cetak ke Digital

Esai Ahmadun Yosi Herfanda _______________________________________________________________   Sejauh ini masih dipahami bahwa cerpen adalah fiksi atau cerita rekaan yang mengungkapkan satu masalah tunggal dengan satu ide tunggal yang disebut “ide pusat”. Lazimnya, cerpen memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi tertentu pada satu saat, sehingga memberikan kesan tunggal terhadap konflik yang mendasari cerita tersebut.

Read More

Jalan Pulang

Cerpen: Firman Fadilah __________________________________________________________________   Bulan bulat sempurna pada malam kepulanganku. Sinarnya yang terang sedikit melegakan kerisauan, cemas bercampur amarah di dadaku. Aku yang sering ngotot kepada adik iparku untuk selalu memberi kabar jika terjadi sesuatu kepada istriku, Tania, di tengah kehamilannya yang sudah memasuki bulan terakhir, tak begitu diindahkannya. Dianggapnya kecemasanku ini adalah main-main. “Ah, tenang saja. Tidak usah berlebihan. Ada aku dan Ibu yang menjaga istrimu. Meski cerewet dan suka bikin kesel, dia tetap Kakaku.” Kuingat kata-kata terakhirnya itu dengan mencebik kesal.

Read More