Kemurnian dan Cinta di Malam Budaya Tangsel

15135860_1486933447988197_6562211984569844596_n

Tangerang Selatan (Litera) – Buku antologi puisi Kemurnian dan Cinta diluncurkan pada Malam Budaya Tangsel yang digelar oleh Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) dan Tangsel Club di lapangan Sunburt BSD, Selasa malam, 22 November. Peluncuran buku secara simbolis dilakukan oleh wakil walikota Tangsel, Benyamin Davnie dan didampingi oleh Uten Sutendy, budayawan dan presiden Tangsel Club, Tb Imam (Panitia) dan Ketua Umum DKTS H. Shobir Poer. Setelah peluncuran buku, wakil walikota juga membaca puisi karya Uten Sutendy yang diambil dari buku antologi tersebut.

Kemurnian dan Cinta, antologi puisi berisi karya 43 pemuisi yang terdiri dari beragam kalangan dan profesi warga Tangsel seperti pegiat seni, mahasiwa, pendidik dan kalangan akademisi, karyawan, pengusaha, birokrat, dan pejabat pemkot Tangsel. Buku setebal 158 halaman tersebut diterbitkan oleh DKTS dan Tangsel Club yang juga mendanai biaya cetak buku. Respon warga Tangsel sungguh luar biasa pada buku tersebut karena pengumuman pengiriman naskah puisi terbilang singkat, hanya sekitar tiga minggu saat pengumuman diberitakan pada publik pada Oktober kemarin. Begitu juga warga yang tak mengirim puisi dan datang pada acara peluncuran buku, sebagian besar warga berkontribusi dengan membeli buku tersebut.

Awalnya buku tersebut akan diluncurkan pada peringatan hari pahlawan di taman makam pahlawan seribu, karena suatu hal diundur pada malam tadi karena berangkaian dengan acara HUT kota Tangsel yang ke-8.

Kemurnian dan Cinta diberi kata pengantar oleh wali kota Tangsel, Airin Rachmi Diany dan budayawan Uten Sutendy, epilog ditulis oleh H. Shobir Poer, ketua umum Dewan Kesenian Tangerang Selatan. Cinta bukan hanya perasaan, namun memiliki arti yang lebih, yang akan membuat kita sebagai manusia menjalani waktu penuh dengan makna, tulis Walikota dalam prolognya. Sementara budayawan Uten Sutendy menulis bahwa Kemurnian dan Cinta hadir sekadar untuk mengingatkan akan eksistensi kita sebagai manusia yang berasal dari kemurnian, kesucian dan terlahir dari proses cinta, demikian satu kutipan yang ditulis oleh president Tangsel Club tersebut dalam prolognya. (MP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *