Pencarian Belum Usai

15400920_1508392209175654_5604379402531935231_n

Tangsel (Litera.co.id)- Workshop budaya yang digelar di hotel Ibis pada hari kamis (8/12) mengangkat tema Merumuskan Identitas Budaya Kota Tangerang Selatan. Acara ini merupakan acara inti dari rangkaian kegiatan kebudayaan yang dihelat oleh kantor Budaya dan Pariwisata bekerja sama dengan Dewan Kesenian Tangerang Selatan dan berlangsung selama dua hari, 7-8 Desember. Workshop dihadiri peserta yang merupakan perwakilan dari beberapa pelaku seni dan budaya juga unsur mahasiswa.

Workshop menghadirkan empat pembicara dengan dua termin berbeda. Pembicara workshop pada termin pertama yang digelar pagi hingga siang hari menghadirkan budayawan Uten Sutendi dan Nurdin, seorang peminat agama dan kajian kebudayaan yang aktif di ICMI Tangsel. Moderator untuk sesi ini adalah Ghozali. Uten Sutendi mengangkat sub tema tentang kearifan lokal dan budaya-budaya yang ada di Tangsel. Sementara Nurdin menyoroti kebudayaan dalam perspektif teoretis dan wacana .

Pemateri pada diskusi kedua yang digelar pada sore hari adalah Humam S Chudori, sastrawan yang dikenal seagai penulis novel dan puisi. Humam didampingi oleh H. Shobir Poer, ketua umum Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS). Pembicara dimoderatori oleh Ismedi. Diskusi kedua lebih menekankan pada aspek literasi di Tangerang Selatan. Kemunculan banyak penulis di kota Tangsel tentu bisa diharapkan untuk mengangkat dan memperkuat hal-hal yang berkaitan budaya.

Peserta workshop mengikuti acara dengan cukup antusias dan aktif. Banyak peserta merespon aktif pembicara. Diskusi lebih terasa hidup. Para peserta workshop seperti Zaenal Radar, Eko Cahyo Widianto, Mahrus Prihany, Yadi, Sos Rendra, Edi Wahyu dan beberapa lagi memberi tanggapan, tak sekadar memberi pertanyaan.

Memang banyak hal yang belum usai dari workshop tersebut. Hal yang patut disayangkan adalah acara workshop sendiri tidak cukup mendapat perhatian dari pihak penyelenggara dalam hal ini kantor budpar karena tak ada perwakilan kantor tersebut yang turut duduk di ruangan. Banyak peserta menyayangkan hal ini dan menganggap bahwa acara ini hanya semata acara seremonial untuk menggugurkan kewajiban. Para peserta sesungguhnya menilai momentum ini sangat baik untuk merumuskan bersama tentang budaya karena berbicara budaya sebuah kota harus melibatkan para pemangku kepentingan, pelaku budaya dan pemerintah. Antara pelaku seni dan pemerintah harus sering duduk bersama, demikian moderator Ghozali menutup acara. Moderator pada acara kedua Ismedi menutup jika semua hasil workshop ini akan ditulis sebagai rekomendasi yang akan diserahkan pada kantor Budpar. (MP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *