Uten Sutendy: Kota yang Besar Memiliki Identitas yang Kuat

15350566_1509525542395654_5284462782882134193_n

Tangsel (Litera.co.id)- Workshop budaya kota Tangerang Selatan yang diadakan di hotel Ibis pada Rabu-Kamis tanggal 7-8 Desember menghadirkan pembicara Uten Sutendy, seorang budayawan yang juga seorang penulis novel dan puisi. Tema workshop yang dilangsungkan pada hari kamis (8/12) mengambil tema Merumuskan Identitas Budaya Kota Tangerang Selatan. Uten juga lama berprofesi sebagai wartawan. Uten dalam pembukaan diskusinya mengatakan jika ia serasa pulang ke rumah yang cukup lama ia tinggalkan saat harus berbicara soal kebudayaan.

Menurut Uten berbicara kebudayaan di suatu negara harus dimulai dari kebudayaan daerah dan kearifan lokalnya. Kearifan lokal ialah sebuah sistem nilai yang dikembangkan turun menurun dan masih dipegang hingga menjadi ciri suatu wilayah. Uten dengan suatu semangat yang penuh keyakinan mengatakan bahwa ada ribuan kearifan lokal yang hidup di masyarakat Indonesia tetapi yang mampu mewakili dan mendapat apresiasi hingga kini justru ada di Banten tepatnya di Baduy yang memiliki suatu sistem nilai yang hampir sempurna.

Pancasila sesungguhnya merupakan kristalisasi keberagaman kearifan lokal. Banten juga memiliki kearifan lokal yang luar biasa. Selain Baduy, Banten memiliki tiga pilar kuat yaitu jawara, ulama, dan kasepuhan. Baduy adalah kasepuhan inti. Semuanya adalah kearifan lokal yang masih bertahan dan saling melengkapi. Semuanya bertahan di hampir semua wilayah Banten termasuk di kota Tangerang Selatan meski khusus untuk Baduy terdapat di wilayah barat atau kulon.

“Di Tangsel banyak jawara dan ulama tinggal di wilayah Lengkong,” Kata Uten. Budayawan yang baru menulis novel berjudul Baiat Cinta di Tanah Baduy tersebut juga menambahkan bahwa jauh sebelum ulama atau Islam datang, sesungguhnya telah ada kerajaan di Tangsel. Kota Tangsel yang kini mengambil anggrek sebagai salah satu identitasnya itupun karena sesungguhnya Tangsel memang memiliki anggrek yang terkenal dan terbesar di negeri ini.

“Pusat penjualan anggrek dulu ada di Pasar Minggu. Sebagian besar anggrek tersebut berasal dari kebun-kebun yang ada di Tangsel. Bahkan anggrek Thailand yang kini merupakan pusat anggrek dunia mengambil bibit dari Tangsel,” tegas Uten.

Tangerang selatan seperti banyak kota lain menghadapi arus modernisasi. Perkembangan tersebut telah mengubah banyak hal dan menjauhkan masyarakat dari sejarah dan budayanya. Salah satu contoh adalah banyak pemukiman yang tumbuh pesat di Tangsel memakai nama-nama asing.

“Kota yang besar memiliki identitas yang kuat. Kota dibangun bukan dengan tumpukan-tumpukan beton tetapi harus memiliki ikon yang bisa menjadi identitas kuatnya,” Uten menegaskan penuh semangat.

Selanjutnya Uten mengusulkan agar ada bangunan yang menjadi simbol di Tangsel yang memiliki arsitektur lokal, selain itu ada landmark yang mencerminkan budaya lokal. Pelaku seni dan budaya juga memiliki tanggung jawab menjaga identitas.

“Budayawan memang harus berkarya, tapi itu tidak cukup karena harus juga didukung dengan political will yang kuat,” tutup Uten. (Mahrus Prihany)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *