Mengenal Dua Sisi Shella Rimang

shella

Pontianak (litera.co.id)- Shella Rimang lahir di Kepala Gurung, Kapuas Hulu, 21 September 1995. Ia adalah mahasiswa semester akhir Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak. Perempuan pencinta senja dan ceker ayam ini, sangat menggandrungi buku bagus, warung kopi, dan perjalanan jauh.

Setelah sukses meluncurkan buku antologi puisi pertamanya pada 2016 lalu berjudul Perempuan Puisi, kini gadis 22 tahun itu kembali meluncurkan buku antologi cerpen berjudul Dua sisi yang ia tulis bersama cerpenis asal Kabupaten Ketapang, Kalbar, E. Widiantoro. Buku bersampul boks itu baru saja diluncurkan pada Minggu, 20 Agustus 2016 di Kedai Cangkir Kopi, jalan Dr. Sutomo, Pontianak.

“Kami tidak mengingat lagi kapan dan di mana kami bertemu. Sebab, yang pertama kali bertatap muka adalah buku-buku kami, Kecubung dan Perempuan Puisi, yang serentak diterbitkan pada pertengahan 2016 lalu”, ungkap Shella.

Shella menuturkan, setelah saling membaca karya di sebuah sekretariat komunitas menulis, mereka bertemu secara tak sengaja dan berkenalan. Setelah pertemuan pertama, mereka mulai mengatur waktu untuk pertemuan selanjutnya dan selalu asyik mendiskusikan karya sastra, baik di warung kopi maupun di dunia maya.

“Ada begitu banyak obrolan seru seputar sastra—terutama sastra di Kalimantan Barat—sehingga muncullah ide untuk mengolaborasikan tulisan dalam bentuk cerpen,” kata E. widiantoro, yang akrab disapa Pak Wid ini.

Selain ingin melihat bagaimana hasil tulisan yang ditulis oleh dua orang dengan masa kelahiran berbeda, tujuan penulisan cerpen ini juga untuk melihat bagaimana respons dua kepala yang tak sama terhadapa lokalitas. Tulisan yang bertema lokalitas di Kalimantan Barat, agaknya kurang menarik bagi pembaca berusia muda. Oleh sebab itu, mereka mencoba menyodorkan cerita-cerita yang menyegarkan, yang cocok dibaca oleh semua kalangan dan umur.

Sebagaimana diceritakan Vivi, Dua Sisi memuat 12 cerpen karya mereka berdua. Shella Rimang menulis 6 cerpen berjudul “Bersama Pahlawan”, “Cerita yang Menceritakan Dirinya Sendiri”, “Diorama”, “Panggil Aku Ve”, “Satu”, dan “Suara Berderit Itu.” E. Widiantoro juga menulis 6 cerpen berjudul “Bocah Malam”, “Cerita Terakhir”, “Penyair yang Menyayangi Pohon”, “Puring di Tanah Pekuburan”, “Serumpun Bambu di Muka Rumah”, dan “Tentang Rindu yang Tak Kunjung Padam.” Buku kumpulan cerpen itu pun berisi beberapa puisi yang ditulis oleh Shella Rimang. Puisi-puisi tersebut disertakan untuk menunjukkan konsisten sisi ‘Perempuan Puisi’ itu terhadap genre penulisan yang telah digelutinya. (MP)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *