CERPEN 

Calon Mayat

Cerpen: Zainul Muttaqin ____________________________________________________________________ Sudah hampir satu minggu Mak Murken jatuh sakit, lemas tiba tiba tubuhnya. Dia terbaring di atas ranjang, tak lagi banyak berkata. Sesekali saja ia bicara, pelan suaranya terdengar meminta sesuatu pada Wati, anak perempuannya itu. Semakin hari, wajah Mak Murken kian redup, pucat terlihat oleh Wati. Kecemasan tambah membelukar dalam dada Wati, takut ia bila ibunya meninggal.

Read More
PUISI 

Rel Kereta Stasiun Besar

Puisi-puisi: Setiyo Bardono ____________________________________________________________________ TANGGA STASIUN KERETA Menapaki anak-anak tangga stasiun kereta, aku belajar menghitung kalori yang terbakar sebanyak angka-angka tertera. “Naik tangga membuat jantung sehat,” katamu memberi semangat. Semoga itu bukan sekedar rayuan pemikat, agar aku melupakan eskalator yang sering tak sehat atau lift yang terkadang sekarat.

Read More
ESAI 

Buku Sastra Bukan Sekadar Kliping Karya

Pada suatu kesempatan, saya bertemu dua kawan penyair di salah satu pojok di Pamulang, Tangerang Selatan. Salah seorang di antaranya bertanya: Apakah ada buku Abang yang terbit tahun ini? Saya terdiam sejenak, lalu berkata: “Saya belum bisa menjawab untuk apa saya menerbitkan buku baru?” Itu bukan jawaban bercanda, tapi sangat serius. Alasannya, pertama, lazimnya yang banyak dilakukan penyair dan penulis cerpen di Indonesia adalah menerbitkan atau membukukan membukukan karya-karya yang pernah dimuat di media. Jadi, sesungguhnya yang dia lakukan bukan menerbitkan buku, tapi membuat kliping karya dalam bentuk buku.

Read More
PUISI 

Dari Bentangan Matamu

Puisi: Ahmad Rizki ____________________________________________________________________   Dari Bentangan Matamu Dari bentangan matamu aku mengenal jalan-jalan yang panjang dan menyengsarakan –aku kenal iri dan dengki, dan cinta-kasih terbelenggu sendiri. Dari hari-hari itu, sepasang burung berhamburan mencari perlindungan –mencari pakaian hangat di musim dingin yang menakutkan.

Read More
KRITIK 

Mengungkap Nama yang Tersembunyi

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, pemred Litera ____________________________________________________________________   Buku kumpulan puisi Hai Maha Wai  karya Rida K. Liamsi (Salmah Publishing, 2022) diberi pengantar panjang yang sangat filosofis oleh Prof. Yusmar Yusuf. Meskipun kagum dengan pengantar yang begitu dalam dan luas,  saya takkan masuk ke “jebakan filsafat” yang dibuka Prof. Yusmar. Biarlah itu menjadi bagian Prof. Abdul Hadi WM, yang sama-sama guru besar filsafat untuk berdialog dengannya. Saya akan memasuki Hai Maha Wai melalui jalan lain yang lebih gamblang bagi apresian.

Read More
PUISI 

RUANG KERJA AYAH DI DEPAN KUBURAN

Puisi: Tjahjono Widarmanto ____________________________________________________________________   SEPATU KERJA ia selalu membuatku mabuk serupa pelaut muda diplonco di kapal oleng memaksaku selalu tergesa dan lupa pulang, lupa pada petang senyum sekaligus kemarahan istriku selalu kau sembunyikan dalam lubang apekmu tungkai kakiku selalu goyah diburu kalender dan panik yang mengambang kau membuatku selalu lupa terpejam tak memberiku giliran berlama-lama di kamar mandi menggelembungkan sabun, sambil bersiul lagu-lagu nostalgia. selalu membuat sisa-sisa sabun mengembun di belakang telinga handuk dan celana dalam pun selalu lupa tertinggal

Read More
CERPEN 

MENANAM GEDUNG

Cerpen: Achmed Sayfi Arfin Fachrillah _____________________________________________________________________ “Tidak! Padiku adalah yang paling subur.” “Ha? Mana mungkin padi yang sering dimakan tikus kauanggap paling subur? Coba lihat padiku, tidak akan kau temukan tikus berkeliaran apalagi sampai memakan. Lahannya pun tak kalah saing dengan lahanmu.” “Eh. Jaga mulutmu! Lahanku ini bekas aliran lava gunung berapi.” Matahari setinggi tombak di ujung timur, dua nenek itu tetap tak ada yang mau kalah perihal lahan siapa yang paling subur. Sudah hampir satu jam mereka bercekcok di tengah sawah. Namun, tetap tak ada yang mau mengalah. Entah…

Read More
ESAI 

ROBOT BISA BIKIN PUISI, PENYAIR TERSINGKIR?

BEBERAPA watu lalu, seorang kawan memamerkan puisi-puisi buatan AI (Artificial Intelligence) alias kecerdasan buatan. Saya sudah tahu hal ini beberapa tahun lalu, tepatnya pada 2019, dalam sebuah seminar, tapi belum sempat mencobanya. Nah, baru sekarang benar-benar mencobanya.

Read More
PUISI 

AKU TAK TAHU ESOK BELUM TIBA

Puisi: Irwan Sofwan ____________________________________________________________________   Ketika Tak Sanggup Lagi Mengingatmu Ketika tak sanggup lagi mengingatmu Meski tangan terbuka Tak mampu menyentuh doa Di keheningan udara Jagalah diriku Dalam getar yang tak biasa Ketika tak sanggup lagi mengingatmu Apakah yang dapat dicecap rasa Selain kesunyian    

Read More